<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ayo ngeBlog! &#187; presiden</title>
	<atom:link href="http://www.ayongeblog.com/tag/presiden/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ayongeblog.com</link>
	<description>ayo jadi blogger bermanfaat!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Nov 2011 06:41:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Politisi 2.0</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2008/08/24/politisi-20/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2008/08/24/politisi-20/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 16:47:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>JaF</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[barack obama]]></category>
		<category><![CDATA[obama]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[politisi]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Obama Effect semakin menular pada politisi kita di tanah air. Senang sekali melihat mereka ramai-ramai punya blog, punya akaun facebook, friendster dan semua tetek bengek social networking itu. Dalam hati saya berpikir, wah ini hebat ! Mereka sudah mulai punya kesadaran bahwa fenomena Web 2.0 itu punya manfaat luar biasa untuk menjangkau rakyat dan mencari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Obama Effect semakin menular pada politisi kita di tanah air. Senang sekali melihat mereka ramai-ramai punya blog, punya akaun facebook, friendster dan semua tetek bengek social networking itu.</p>
<p>Dalam hati saya berpikir, <em>wah ini hebat !</em> Mereka sudah mulai punya kesadaran bahwa fenomena Web 2.0 itu punya manfaat luar biasa untuk menjangkau rakyat dan mencari pendukung. Syukurlah. Tapi apa benar begitu?</p>
<p>Skeptis.. skeptis.. skeptis.. maafkan sisi saya yang satu ini. Obama bukan hanya sukses menggaet pendukung dengan teknologi Web 2.0 tapi juga menggalang dukungan dana.. <em>duit.. fulusss</em> dan itu tidak hanya dilakukan dengan sekedar memiliki account facebook, youtube atau blog dan puas dengan banyaknya orang yang sign-up atau meninggalkan komentar. Nampak sekali bahwa Obama punya tim yang benar-benar memahami karakteristik web 2.0, yang lebih dari sekedar puas melihat statistik pengunjung atau pemberi komentar tapi benar-benar memaksimalkannya.</p>
<p>Nah, pertanyaannya, sudahkah politisi kita punya pemahaman yang sama? Jujur saja, sisi skeptis saya mengkhawatirkan bahwa masih ada yang menganggap blog, facebook dan sebagainya itu adalah benda ajaib yang akan mendatangkan dukungan begitu saja. Lebih khawatir lagi kalau ada yang sudah puas dengan melihat statistik semata, tanpa mau membuat semua teknologi itu bekerja maksimal untuk mereka.</p>
<p>Maksimal bagaimana?<span id="more-210"></span></p>
<p>Mari kita lihat sejenak saja &#8216;mainan&#8217; baru beberapa calon presiden kita:  <a href="http://rm09.blogspot.com" target="_blank">Rizal Mallarangeng</a>, <a href="http://www.new.facebook.com/profile.php?id=1373663088" target="_blank">Ratna Sarumpaet</a>, <a href="http://www.new.facebook.com/profile.php?id=1341211906&amp;" target="_blank">Fadjroel Rachman</a> dan <a href="http://yusril.com" target="_blank">Yusril Ihza Mahendra</a>.</p>
<p>Ada satu kesamaan dari &#8216;mainan&#8217; baru mereka itu. Rajin di update dengan video, artikel, link dan lain sebagainya. Ini sudah satu kemajuan mengingat bahwa banyak yang sekedar menjadi penanda eksistensi mereka di internet semata. Jumlah pengunjungnya juga gila-gilaan, pertanda mereka memang berhasil menandai eksistensi mereka.</p>
<p>Tapi ada satu kesamaan yang menurut saya kurang mereka lakukan, yaitu interaksi.  Salah satu ciri khas social networking adalah terciptanya diskusi. Tapi yang saya amati kebanyakan, mereka tidak pernah.. okelah.. jarang terlibat di sana. Sedikit berbeda dengan Pak Yusril yang lumayan aktif berinteraksi bahkan berusaha menjawab semua pertanyaan dan komentar pengunjung blognya, meskipun saya agak malas membaca blog beliau karena isinya terlalu panjang lebar dan memusingkan hehe</p>
<p>Poin terpenting yang ingin saya sampaikan adalah, wahai para Politisi 2.0 Indonesia (ini sekedar istilah asal yang saya colong dari istilah Web 2.0), pahami benar-benar karakteristik fungsi social networking web 2.0 karena itu akan sangat menguntungkan anda. Jangan dulu puas dengan statistik pengunjung. Coba juga pahami :</p>
<p>1. Cara kerjanya,<br />
2. Bagaimana teknologi itu bisa menciptakan hubungan<br />
3. Apa ancamannya dan sisi negatifnya<br />
4. Bagaimana menggunakannya untuk kepentingan anda</p>
<p>Sebelum saya dibilang sok tahu, lebih baik saya katakan bahwa empat poin di atas saya kutip dari satu buku menarik yang menurut saya pantas dibaca oleh para politisi walaupun buku itu sebenarnya dimaksudkan untuk pengusaha yang ingin memahami fenomena Web 2.0.</p>
<p><em><a href="http://www.forrester.com/Groundswell/index.html" target="_blank">Groundswell: Winning In A World Transformed by Social Technologie</a></em>s, itu judul bukunya. Ditulis oleh Charlene Li dan Josh Bernoff. Dari sekian buku tentang Web 2.0 yang pernah saya baca, ini benar-benar yang paling bisa menjelaskan tentang apa itu Web 2.0 dan fungsi social networkingnya, dilengkapi dengan data dan fakta akurat. Maklum, penulisnya orang dari lembaga riset terkenal Forrester Research. Intinya mereka ingin menunjukkan bagaimana kebersamaan di teknologi web 2.0 bisa menciptakan kekuatan dahsyat yang kalau kita tahu cara memanfaatkannya bisa mendatangkan keuntungan.</p>
<p>Lihat saja bagaimana mereka mencoba memetakan teknologi baru ini:</p>
<p>1. People Creating (blog, podcast, youtube dll)<br />
2. People Connecting (social networking seperti facebook friendster dll)<br />
3. People Collaborating (wiki, open source dll)<br />
4. People Reacting To Each Other (forum, milis, review dll)<br />
5. People Organizing Content (tags, categories dll)<br />
6. Accelerating Consumption (rss, widgets dll)</p>
<p>Ini baru pemetaannya. Mereka kemudian mengulas ke enam fungsi itu berdasarkan empat poin yang saya kemukakan sebelumnya tadi, dilengkapi dengan contoh kasus aktual.</p>
<p>Satu contoh menarik misalnya adalah soal poin 4, yaitu tentang bagaimana web 2.0 memungkinkan orang saling bereaksi dan berbagi komentar. Bayangkan, bahwa di luar sana orang ramai membahas posting anda misalnya, atau sebuah fenomena terkait anda. Katakanlah video barunya Fadjroel Rahman di youtube yang banyak dikomentari orang itu, atau tentang Rizal Mallarangeng dan pencalonannya sebagai presiden. Anda bisa melihatnya sebagai ancaman. Tapi bayangkan betapa itu sebenarnya masukan berharga yang mungkin hanya bisa didapat dengan menggelar focus group discussion dengan biaya berjuta-juta, itupun belum tentu ada jaminan akurasinya.</p>
<p>Dalam buku Groundswell misalnya diceritakan bagaimana kekuatan komentar dan diskusi orang di teknologi social networking.</p>
<p>Contoh: April 2007, seorang suplier Dunkin Donuts di Korea Selatan membuat posting di blognya tentang bagaimana Dunkin Donut sangat tidak memperhatikan kebersihan di gerai mereka. Ia memasang gambar alat memasak yang sudah karatan tapi masih dipakai. Dunkin donut berhasil membujuk penyedia layanan blog untuk menghapus posting itu, tapi tidak berhasil menghentikan penyebaran informasinya karena sudah kadung di posting dari blog ke blog lain bahkan sampai menyebar ke koran.</p>
<p>Contoh lain: <a href="http://anotherfool.wordpress.com/2008/08/24/jualan-si-tukang-blender/" target="_blank">Tom Dickson</a>, pendiri dari sebuah perusahaan blender rajin mengupload sebuah video di youtube yang di setiap edisi menghadirkan ia tengah memblender macam-macam hal, mulai dari sepatu, stick golf, sapu, handycam, sampai iPod 3G untuk menunjukkan kekuatan blendernya. Cara tidak lazim ini berhasil karena ditonton oleh lebih dari 100 juta orang sejak episode pertamanya muncul sekitar setahun lalu. 100 juta bos! Separuh penduduk Indonesia itu! hehe</p>
<p>Bayangkan kalau saya pindahkan ini ke konteks politik. Bayangkan misalnya soerang Fadjroel dan Rizal yang sudah mulai main video mencontoh cara ini. Ketimbang bikin video yang berbiaya mahal dan menyakiti hati rakyat seperti Rizal, atau video proklamasi ala Fadjroel yang -maaf- dibuat dengan teknologi bagus tapi isinya membosankan, kenapa tidak bikin rangkaian episode-episode video unik tentang diri anda, tentang apa pendapat anda tentang isu aktual atau hal lain yang lebih kreatif dan -ini kata kuncinya: memicu keingintahuan orang untuk buang bandwith dan menonton video anda. Cuma contoh! Tim kreatif kalian pasti lebih kreatif. Namanya juga tim KREATIF kan? hehe Obama misalnya, membuat video ia sedang menyanyi dan itu tidak menjatuhkan harga dirinya, bahkan disukai rakyat! Iya toh?</p>
<p>Poinnya adalah, kekuatan kebersamaan dalam teknologi web 2.0 susah dilawan, tapi bisa di manfaatkan. Ibarat beladiri Jiu Jitsu, Groundswell mengajarkan bagaimana menggunakan kekuatan musuh untuk melawan balik. Maka banyak perusahaan yang kemudian punya blog, dan menjadikannya tempat untuk berinteraksi dan mendapatkan banyak masukan bahkan dukungan. POlitisi pun bisa. Toh mereka sama-sama punya produk untuk &#8216;dijual&#8217; kan?</p>
<p>Masih banyak poin lain yang diulas di situ. Belilah dan baca kalau anda sempat. Buku-buku lain yang semacam itu juga banyak. Jangan cuma buku how to blog saja yang anda beli hehe.. Itu mah banyak di Gramedia. Tapi lebih dari itu, pahami lah alat yang anda pakai itu, karena ia adalah sebuah alat yang luar biasa hebatnya. Buktinya, Obama tidak hanya sekedar mendapatkan dukungan, tapi juga bisa menggalang dana di situ. Fulus maan.. fulusss.. Rizal mungkin banyak duit, tapi bukan berarti Fadjroel atau Ratna yang &#8216;gembel&#8217; tidak bisa kan? hehe</p>
<p>Ayo, para politisi 2.0, mari manfaatkan kekuatan itu agar anda pun tidak sekedar ngetop dan punya banyak pendukung secara statistik, tapi andapun bisa mendapatkan manfaat lain.</p>
<p>Salam</p>
<p>JaF</p>
<p><em>nb: buat tim ayongeblog, maaf baru posting lagi. Mudah2an berguna ya.. <img src='http://www.ayongeblog.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Ayongeblog teruuuss!!!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2008/08/24/politisi-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blog, Blogger dan Presiden Republik Indonesia 2009</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2008/08/13/blog-blogger-dan-presiden-republik-indonesia-2009/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2008/08/13/blog-blogger-dan-presiden-republik-indonesia-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2008 06:34:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Haryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[bambang haryanto]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah tulisan dari blogger tamu Ayo ngeBlog!: Bambang Haryanto Blogger, jangan kecil hati. Seorang wartawan Kompas nampak sinis terhadap blog. Ia adalah Amir Sodikin yang akhir-akhir ini sering menulis secara tetap tentang Internet di edisi koran itu tiap hari Kamis. Dalam artikelnya yang berjudul “Mengendalikan Bisnis dari Rumah” (Kompas, 7/8/2008), dalam konteks belum maksimalnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ini adalah tulisan dari blogger tamu Ayo ngeBlog!: <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview ('/outbound/esaiei.blogspot.com');" href="http://esaiei.blogspot.com/">Bambang Haryanto</a></em></p>
<p><strong>Blogger, jangan kecil hati.</strong> Seorang wartawan Kompas nampak sinis terhadap blog. Ia adalah Amir Sodikin yang akhir-akhir ini sering menulis secara tetap tentang Internet di edisi koran itu tiap hari Kamis. Dalam artikelnya yang berjudul  “<a href="http://tekno.kompas.com/read/xml/2008/08/07/15405324/mengendalikan.bisnis.dari.rumah">Mengendalikan Bisnis dari Rumah</a>” (Kompas, 7/8/2008), dalam konteks belum maksimalnya (menurut dia) pemanfaatan Internet oleh warga Indonesia, sempat ia munculkan pernyataan cukup menggelitik.</p>
<blockquote><p>“Harus diakui, tradisi berinternet di Indonesia masih baru….Paling mentok untuk penelusuran literatur, mengerjakan pekerjaan rumah bagi para pelajar, memperdalam riset, mencari resep makanan, atau memanfaatkannya untuk mejeng semata dengan membangun blog.”</p></blockquote>
<p>Menarik, bukan ?<span id="more-183"></span></p>
<p>Internet memang masih hal yang baru di Indonesia. Email pertama saya saja, baru saya miliki 10 tahun yang lalu. Ngeblog baru lima tahun yang lalu. Lupakan fakta itu. Tetapi  kalimat yang terakhir, bahwa blog telah ia tonjolkan sebagai sarana untuk mejeng semata, memancing obrolan berikut di bawah ini. Baiklah, menurut saya, pendapatnya itu pantas kita hargai. Wajar-wajar saja.</p>
<p>Ada benarnya, tetapi jelas tidak seluruhnya benar. Memang kuping ini rada panas, tetapi sebenarnya sudah sering kita temui pendapat serupa. Terutama dari kubu MSM, <em>mainstream media</em>, yang mudah tergoda untuk berkata-kata yang rada-rada miring terhadap binatang yang bernama blog dan blogger.</p>
<p>Tetapi kalau saya boleh memberi usulan, umpama lain kali dirinya hendak menulis masalah blog lagi, sebaiknya ia mau menyempatkan mengobrol dulu dengan sesama wartawan Kompas yang ngeblog. Walau memang nampaknya tidak banyak. (Bagi saya, lucu juga wartawan kok tidak punya blog). Atau berbincang dengan Budi Putra, mantan wartawan Tempo yang gagah berani meninggalkan posisi mapannya untuk menjadi blogger dan pebisnis media blog secara purna waktu.</p>
<p>Kalau benar-benar ingin tahu tentang blog secara lebih mendalam, bacalah kisah Dan Gillmor. Ia meninggalkan pekerjaannya di koran San Jose Mercury News, lalu membentuk perusahaan media baru Grassroots Media untuk mempromosikan mazhab jurnalisme warga yang bersendikan kepada kesaktian media blog pula.</p>
<p><strong>Kedai kopi terbesar.</strong> Baiklah. Sekadar tambahan penyegaran, tidak hanya bagi dirinya saja tetapi juga para blogger semua, akan saya kutipkan isi majalah Business Week, 11/5/2005. Majalah ini hadir dengan laporan utama berjudul “Blog Akan Mengubah Bisnis Anda” dengan cerita yang menarik. Ditulis oleh Stephen Baker dan Heather Green, di mana di blog saya kalau nama terakhir  ini muncul (dan sering) akan saya tambahi dengan kata-kata “yang cantik,” berikut ini :</p>
<p>“Bayangkanlah dunia blog sebagai kedai kopi terbesar di dunia. Di salah satu meja, duduk enam atau tujuh pakar teknologi nano dengan laptop mereka. Di seberang sana, duduk anak-anak muda berpakaian hitam dengan tubuh penuh tindik. Tak banyak hubungan di antara kedua meja itu. Namun, kafe tersebut laris manis. Ada wanita Saudi, ada kumpulan penggemar anjing ras Labradoodle, dan ada pula satu meja besar disesaki para pengguna ponsel. Kelompok yang  terakhir itu lebih tepat disebut sebagai kumpulan penggemar ponsel kamera. Mereka tengah sibuk mengirimkan foto-foto dari ponsel mereka ke blog.</p>
<p>Maka, suasana pun riuh rendah. Banyak informasi berharga dalam kafe tersebut. Technorati, PubSub, dan situs sejenis menyediakan peranti untuk mendengarkan semua itu. Di dunia Internet tradisional, Google, Yahoo ! dan sebagainya adalah katalog untuk hal-hal yang ingin kita pelajari. Di dunia blog, Technorati dkk. melacak isi pikiran kita.</p>
<p>Lantas, apa pentingnya semua ini ? Pikirkanlah dampaknya bagi dunia bisnis ! Kita mendapat informasi terkini tentang apa yang sedang dipikirkan penduduk dunia. Sekarang ini, studio-studio film memanfaatkan dunia blog untuk memantau film-film apa saja yang menarik minat konsumen. Para pengiklan menyelami dunia blog guna melacak tanggapan publik terhadap kampanye mereka.</p>
<p>‘Saya heran banyak orang masih belum menyadari,’ kata Jeff Weiner, Wakil Presiden Yahoo! yang membawahi bidang Pencarian. ‘Dalam sejarah penelitian pasar, belum pernah ada peranti sehebat ini.’”</p>
<p><strong>Blog shovelware.</strong> Setuju, Pak Jeff. Blog memang masih mudah mengundang keheranan, sekaligus ketidakfahaman. Bahkan oleh kalangan para blogger itu sendiri. Contoh yang kiranya menarik adalah tentang satu blog yang diniatkan sebagai sarana kampanye, yang tentunya bukan main-main, yaitu untuk memenangkan kursi presiden Republik Indonesia di tahun 2009 mendatang. Silakan klik blog satu ini : <a href="http://rm09.blogspot.com/"> Rizal Mallarangeng for President.</a></p>
<p>Lalu silakan Anda berpendapat tentangnya. Di akhir artikel yang berjudul “Surat untuk Semua” (saya menyebutnya sebagai <em>shovelware</em> karena disekop dari iklannya di media cetak, lalu dipajang di blog dengan kualitas lebih jelek sajiannya) terdapat komentar dari “gus” yang antara lain mengatakan :</p>
<p>“Saya kok ingin mengusulkan sesuatu. Setidaknya dunia <em>blogging</em> ini , mbok diseriusi. Sampeyan bisa lihat bagaimana <em>trackback</em> dan <em>linked</em> wacana yg terlontar di sebuah blog bisa lebih <em>sustainable</em> dibanding wacana TV yang tak terecording. Blog melebihi itu, meski dari parameter kuantitas <em>news impact</em> ga sebesar TV atau koran. Namun kelebihan <em>recordable</em> setiap kegiatan <em>blogging</em> akan terekam dengan baik.”</p>
<p>Saya juga ikutan menulis komentar. Mengharap agar isi blognya tersebut diisi dengan tulisan yang memiliki nilai tinggi. Tidak hanya berupa pamflet dan slogan-slogan semata. Yang pasti, saya setuju dengan penilaian “gus” di atas bahwa blog Rizal Mallarangeng satu ini masih sangat jauh dari penanganan yang serius. Bahkan, kalau boleh agak melenceng sedikit,  eksekusi situs resmi <a href="http://www.rm09.com/">Rizal Mallarangeng for President</a> pun telah memancing saya untuk gatal menulis di kolom kontak, berbunyi :</p>
<blockquote><p>“Saya suka Internet Anda gunakan sebagai salah satu senjata kampanye Anda. Saya pernah <a href="http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0403/08/tekno/884508.htm/">menulis hal ini di Kompas, 8 Maret 2004</a>. Menurut saya, eksekusi media Internet Anda ini sudah kedaluwarsa.</p>
<p><em>Platformnya</em> sudah ketinggalan jaman, karena Anda masih menganggap para peselancar sudah cukup dipuasi dengan membaca-baca isi situs Anda. Padahal kami juga ingin berkomentar dan bersuara di situs ini, tetapi Anda menutup pintu untuk itu. Bangun, Bung !”</p></blockquote>
<p>Bung Rizal, Internet dan juga blog hanya akan bernyawa bila dieksekusi sebagai  media dialog. Kalau Anda mau, coba dengarkanlah pendapat Robert Scoble. Ia mantan blogger dari Microsoft Corporation, penulis buku Naked Conversations: How Blogs are Changing the Way Businesses Talk with Customers (2006),  seperti dikutip majalah Fortune (24/1/2005). Bung Scoble bilang, “If I’m only saying ‘Use Microsoft products, rah, rah, rah,’ I lose all ability to have a conversation.”</p>
<p>Bung Rizal, maafkan saya, bila blog Anda, juga situs Anda itu,  bagi saya masih sarat dengan sajian <em>rah, rah, rah</em> pula.  Cepat bangun, Bung Rizal, dan jadilah Anda kini sebagai seorang blogger sejati. Yang menggarap blog Anda secara serius, secara tulus, dengan cinta pula. Jadi bukan hanya sebagai sarana untuk mejeng semata. Kemudian Anda bersedia membuka pintu agar  kita semua bisa berdialog, berbicara, untuk masa depan Indonesia.</p>
<p><em><strong>Bambang Haryanto</strong> adalah blogger dari Wonogiri sejak tahun 2003. Salah satu blognya baru saja diundang untuk tercatat di <a href="”http://www.blogged.com/”">Blogged.com</a>, yaitu  <a href="”http://esaiei.blogspot.com/”">Esai Epistoholica</a>.  Tesisnya mengenai manfaat blog untuk pemberdayaan komunitas kaum epistoholik atau pencandu penulisan surat pembaca  sebagai salah satu pilar penegakan kehidupan berdemokrasi memenangkan Mandom Resolution Award 2004.</em></p>
<p><em>Bersama Mayor Haristanto dari <a href="”http://aengaeng.blogspot.com/”">Republik Aeng Aeng Solo</a> telah memprakarsai gagasan deklarasi 30 Juli 2008 sebagai <a href="”http://solocybercity.blogspot.com/”">Solo Cyberholic Day</a> di tengah pesta 468 netter Solo yang bersama-sama mengakses Internet tanpa kabel  di kawasan City Walk Solo untuk meraih Rekor MURI pada tanggal yang sama.</em></p>
<p><em>Ayo ngeBlog! menerima kiriman artikel tentang pengalaman ngeblog, motivasi ngeblog, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan aktivitas ngeblog, dari teman-teman semua. Silakan kirim saja lewat email: ilmanakbar [at] gmail.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2008/08/13/blog-blogger-dan-presiden-republik-indonesia-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

