<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ayo ngeBlog! &#187; Inspirasi ngeBlog</title>
	<atom:link href="http://www.ayongeblog.com/category/inspirasi-ngeblog/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ayongeblog.com</link>
	<description>ayo jadi blogger bermanfaat!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Nov 2011 06:41:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>ngeBlog Adalah Bekerja untuk Keabadian</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2010/06/21/ngeblog-adalah-bekerja-untuk-keabadian/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2010/06/21/ngeblog-adalah-bekerja-untuk-keabadian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 13:06:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ilmanakbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi ngeBlog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/?p=1090</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.&#8221; — Pramoedya Ananta Toer Kutipan quotes dari Pramoedya Ananta Toer itu sepertinya sangat tepat untuk ditujukan kepada aktivitas ngeBlog. Soalnya, sekali posting tulisan di blog, tulisan kita jadi &#8220;abadi&#8221; ada di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/stevegrosbois/3362637206/"><img class="alignnone size-full wp-image-1094" title="The clock" src="http://www.ayongeblog.com/wp-content/uploads/2010/06/3362637206_49f3d68e5c.jpg" alt="The clock" width="500" height="332" /></a></p>
<blockquote><p>&#8220;Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.&#8221;<br />
— <a href="http://www.goodreads.com/quotes/show/17970"><strong>Pramoedya Ananta Toer</strong></a></p></blockquote>
<p>Kutipan quotes dari Pramoedya Ananta Toer itu sepertinya sangat tepat untuk ditujukan kepada aktivitas ngeBlog. Soalnya, sekali posting tulisan di blog, tulisan kita jadi &#8220;abadi&#8221; ada di Internet.</p>
<p>Abadi, karena setelah Google mengindex blog kita, Google menyimpannya dalam cache (tembolok). Saat blog kita non aktif pun, tulisan kita masih bisa diakses oleh pengguna Internet.</p>
<p>Bulan lalu, website komunitas yang saya urusi, <a href="http://www.anakui.com/">anakUI.com</a>, baru saja kehilangan data tulisan dan komentarnya selama satu bulan Mei penuh, karena kesalahan saat migrasi server. Tapi berkat adanya cache dari Google, tulisan dan komentar yang ada di situ bisa dikembalikan seperti sedia kala.</p>
<p>Ngetweet itu nggak abadi. Nyari tweet kita bulan lalu aja sulitnya bukan main. Kecuali kalo kita udah ngebackup tweet kita, atau pake website pihak ketiga kaya <a href="http://topsy.com">topsy.com</a>.</p>
<p>Ya, menulis blog itu menghasilkan sesuatu yang &#8220;abadi&#8221;, karena tulisan dan pemikiran kita tercatat di situs pencari. Benar-benar &#8220;abadi&#8221;, entah itu tulisan dan pemikiran yang positif, atau bahkan yang negatif. Curhatan atau celaan terhadap seseorang/satu pihak, akan</p>
<p>Jadi, mari kita mengabadikan ilmu dan pemikiran kita, yang positif-positif dan bermanfaat dalam bentuk postingan blog. Karena menulis blog adalah pekerjaan &#8220;keabadian&#8221; <img src='http://www.ayongeblog.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sudahkah kita ngeBlog yang bermanfaat hari ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2010/06/21/ngeblog-adalah-bekerja-untuk-keabadian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ajak Dokter Itu NgeBlog ! Dan Profesi yang Lain Pula</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2010/05/17/ajak-dokter-itu-ngeblog-dan-profesi-yang-lain-pula/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2010/05/17/ajak-dokter-itu-ngeblog-dan-profesi-yang-lain-pula/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 12:03:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli Wilihandarwo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi ngeBlog]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[seminar blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/?p=1057</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya sudah sangat lama aku ga nulis disini lagi. Jadi kangen juga. Ketika ada email dari Ilman, bahwa Ayo ngeBlog akan di &#8220;lahirkan kembali&#8221;, semangatku untuk ngeblog kembali juga. Hmm.. disinilah salah satu letaknya keuntungan menjadi bagian sebuah komunitas blog. Disaat salah satu blogger menjadi lemah, ada blogger-blogger lain yang mencambuk kita untuk bangkit lagi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1066" title="anakfk" src="http://www.ayongeblog.com/wp-content/uploads/2010/05/anakfk.jpg" alt="" width="600" height="215" /></p>
<p>Rasanya sudah sangat lama aku ga nulis disini lagi. Jadi kangen juga. Ketika ada email dari Ilman, bahwa Ayo ngeBlog akan di &#8220;lahirkan kembali&#8221;, semangatku untuk ngeblog kembali juga. Hmm.. disinilah salah satu letaknya keuntungan menjadi bagian sebuah <strong>komunitas blog</strong>. Disaat salah satu blogger menjadi lemah, ada blogger-blogger lain yang mencambuk kita untuk bangkit lagi. Terima kasih buat teman-teman di Ayo ngeBlog yang udah memberikan itu.</p>
<p>Sekedar berbagi info, beberapa waktu yang lalu di kampus saya, <a href="http://fk,ugm.ac.id" target="_blank">Fakultas Kedokteran UGM</a>, diadakan seminar mengenai blog. Intinya adalah memanfaatkan blog untuk berbagi ilmu kepada orang lain. Pembicaranya saya sendiri. Sekalian mengajak rekan-rekan di kampus yang tak hanya gila baca aja, tapi juga harus gila nulis.</p>
<p><strong>Kenapa spesifik ke mahasiswa kedokteran ?</strong></p>
<p>Secara pribadi saya melihat, dokter-dokter sekarang masih banyak yang belum membagi ilmunya melalui media blog. Coba bayangkan ketika para dokter-dokter Indonesia (di negara kita ada 57 Fakultas Kedokteran negeri dan swasta), dapat membagi ilmunya secara gratis di internet. Mungkin, masyarakat akan dapat dicerdaskan oleh ilmu kesehatan dari sumber yang tepat. Bukan asal &#8220;katanya&#8221;.</p>
<p>Ketika nantinya salah satu blogger membaca artikel dokter tadi, kemudian menyebarkannya &#8211;minimal ke keluarganya sendiri&#8211; maka tak pelak lagi, pengetahuan kesehatan masyarakat akan meningkat. Ujung-ujungnya adalah semakin sedikitnya orang sakit yang berkunjung ke dokter. Hasil akhirnya adalah banyak orang sehat, dan tentu saja akan diikuti oleh bangsa yang cerdas.</p>
<p><strong>Kamu bisa ikuti cara saya</strong></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1058" title="training-bisnis-online" src="http://www.ayongeblog.com/wp-content/uploads/2010/05/training-bisnis-online.png" alt="" width="600" height="215" /></p>
<p>Tak perlu ilmu tentang blog yang tinggi-tinggi amat untuk membagi semangat blog kepada orang lain. Bukan ilmunya yang penting, tapi semangatnya. Ketika kita menjalaninya dengan <strong>semangat</strong>, orang lain pun akan menjalankan apa yang kita suruh dengan semangat pula.</p>
<p>Cara yang bisa kamu pakai adalah dengan mengumpulkan beberapa orang di kampus, sekolah, atau lingkungan kerja disekitarmu. Ajak untuk berdiskusi dalam lingkaran-lingkaran group diskusi yang kecil. Atau kamu bisa memilih skala yang sedikit lebih besar dengan mengadakan seminar di lingkungan mu. Bagi yang masih di kampus, awali dulu dengan minta izin ke BEM atau lembaga mahasiswa yang mengurusi itu. Sehingga pengaruhnya bisa lebih kuat lagi.</p>
<p>Ada sedikit trik agar cukup banyak peserta yang bisa datang. <strong>Gunakan uang</strong>. Yup, lembaran-lembaran duit itu bisa jadi penstimulus awal agar para blogger pemula tertarik untuk ngeblog. Tak perlu banyak-banyak, sedikit saja. Nanti ketika ditengah acara kita bisa menyisipi dengan mengajak mereka untuk membuat blog.</p>
<p>Memang motivasi untuk ngeblog menggunakan uang tidak terlalu baik, karena jiwa dari sebuah blog itu dapat hilang. Namun menurut saya, cara-cara seperti ini cukup berhasil menarik perhatian blogger-blogger pemula. Nantinya terserah kemampuan kita bagaimana memotivasi mereka agar bisa ngeblog dengan hati (mengutip kata-katanya Ndoro Kakung).</p>
<p><strong>Jangan lupa follow up !</strong></p>
<p>Setelah sesi seminar blog selesai, hal yang paling penting dan terlupakan bagi kebanyakan seminar adalah follow up. Ya, ibarat anak ayam yang baru menetas, blogger-blogger baru ini masih banyak kebingungan untuk mencari tempat belajar yang tepat, masih cukup sulit mencari semangat ngeblog. Jadi harus ada kita yang mengingatkan. Atau jika nantinya mereka sudah memiliki blog, kita dapat menjadi salah satu pengunjung rutin blog mereka, dengan meninggalkan jejak komen misalnya.</p>
<p>Nah, komunitas di sekitar kalian juga membutuhkan bantuan kalian agar mereka tersadar mengenai betapa seru dan bermanfaatnya memiliki sebuah blog. Mungkin nanti kita akan banyak mengenal profesi baru : blogger dokter, blogger polisi, blogger pengacara, blogger insinyur, blogger perawat, dan blogger-blogger profesi lainnya.</p>
<p>Saya juga sedang memulai membangun sebuah blog untuk profesi saya kedepan, yakni di <a href="http://www.anakfk.com" target="_blank">www.anakfk.com</a>. Silahkan buat untuk profesi mu juga.</p>
<p><strong>Harapannya cuma satu.</strong></p>
<p><strong>Berbagi ilmu</strong>. Ya, dengan semakin banyaknya profesi-profesi tadi membagikan ilmunya, akan membuat wawasan kita semakin bertambah. Semakin banyak pula ilmu-ilmu gratis yang bisa kita dapatkan di internet.</p>
<p>Mau kan ?</p>
<p>Ayo ngeBlog !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2010/05/17/ajak-dokter-itu-ngeblog-dan-profesi-yang-lain-pula/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Tentang Ngeblog dari Film Julie &amp; Julia</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2010/03/05/belajar-tentang-ngeblog-dari-film-julie-julia/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2010/03/05/belajar-tentang-ngeblog-dari-film-julie-julia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 01:28:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eka nugraha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi ngeBlog]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[film julie & julia]]></category>
		<category><![CDATA[film yang membahas blog]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi blog dari film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/?p=926</guid>
		<description><![CDATA[Inspirasi atau semangat untuk mengerjakan sesuatu memang bisa datang dari mana saja, hanya tinggal kita para penggali inspirasi dan semangat mau atau tidak menangkap dan menerapkannya. Menggali inspirasi dan menjaga semangat ngeblog juga bisa datang dari mana saja lho, bahkan dari hal yang tidak terduga. Seperti yang saya alami baru saja beberapa hari yang lalu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ayongeblog.com/wp-content/uploads/2010/03/julie-and-julia1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-927" title="julie-and-julia1" src="http://www.ayongeblog.com/wp-content/uploads/2010/03/julie-and-julia1-202x300.jpg" alt="" width="202" height="300" /></a>Inspirasi atau semangat untuk mengerjakan sesuatu memang bisa datang dari mana saja, hanya tinggal kita para penggali inspirasi dan semangat mau atau tidak menangkap dan menerapkannya. Menggali inspirasi dan menjaga semangat ngeblog juga bisa datang dari mana saja lho, bahkan dari hal yang tidak terduga. Seperti yang saya alami baru saja beberapa hari yang lalu. Sewaktu saya menonton film berjudul “Julie &amp; Julia”, mungkin sama seperti saya pada awalnya, anda pun heran kenapa sebuah film bergenre drama bisa membuat kita belajar tentang blog. Oke, film rilisan tahun 2009 ini memang tidak mutlak berbicara tentang blog, ini adalah film tentang kisah nyata dua wanita dari beda generasi dalam mencapai target masing-masing di hidupnya.<br />
<span id="more-926"></span></p>
<p>Sinopsis singkatnya begini : Julie Powell (Amy Adams) adalah mantan editor majalah yang karirnya mandek dan kini bekerja sebagai customer service di sebuah perusahaan asuransi, pekerjaan itu membosankan baginya, apalagi ia juga sempat iri dengan teman-temannya yang punya karir lebih baik darinya. Ia sebenarnya memiliki cita-cita sebagai seorang penulis, sebelumnya ia pernah menulis novel namun berhenti di tengah jalan. Sikap mengerjakan suatu hal sampai selesai inilah yang coba diterapkan oleh Julie, atas saran dari suaminya Eric Powell (Chris Messina) ia membuat <strong>blog</strong>, yap Julie kemudian membuat blog dengan niche resep masakan. Uniknya blognya ini dibuat sebagai proyek yang harus diselesaikan dalam 1 tahun, dimana dalam 1 tahun itu alias 365 hari ia harus membuat 524 resep. Nah sumber resep-resep ini adalah buku karangan Julia Child (Meryl Streep) yang berjudul Mastering the Art of French Cooking (1961), yang ditulis dengan dua rekannya Simone Beck dan Louisette Bertholle. Julie Powell menamai proyek ini “Proyek Julie/Julia” dalam 365 hari, ia harus memposting kisahnya di blog beserta resep dan proses pembuatan masakan-masakan dari buku tersebut, menurutnya itu adalah sebuah tantangan karena selama 40 tahun belum ada yang bisa menyamainya (Kisah Julie Powell berlatar tahun 2002 di New York, sedangkan kisah Julia Child berlatar tahun 1941 sampai 1961 dengan dominasi lokasi di Paris, Prancis).</p>
<p><strong>Apa Yang Bisa Dipelajari Blogger Dari Film Ini?</strong></p>
<p><strong>1.Konsistensi Ngeblog</strong></p>
<p>Selama 365 hari harus membuat 524 resep dan mempostingnya di blog? Jelas itu sangat berat, namun ternyata setelah dilakukan, ini menjadi rutinitas yang jauh lebih menyenangkan ketimbang pekerjaannya yang asli. Setiap pagi ia bangun lebih awal dan menulis resep apa yang akan ia buat, sepulang kerja ia memasak lalu kembali menuliskan hasilnya. Terkadang ia hanya menulis pagi harinya atau malam harinya sesudah memasak. Ternyata tidak mudah lho, karena ada beberapa resep yang gagal, belum lagi tanggapan sinis dari ibu Julie yang heran kenapa anaknya malah ngeblog. Satu adegan yang lucu dan <em>memorable</em> adalah ketika Julie akhirnya mendapat komentar di blognya untuk pertama kali, dan itu ternyata malah dari ibunya yang berkata “Ini Ibumu, aku masih tak mengeri kenapa kau begini. Agaknya cuma aku yang baca blogmu.” <img src='http://www.ayongeblog.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Namun semua tantangan itu berhasil dilaluinya dengan hasil yang manis.</p>
<p><strong>2.Money From Blogging Vs Money Because Blogging</strong></p>
<p>Dua hal yang mungkin juga sudah sering dibahas, dimunculkan meski sekilas di film ini. Ketika teman-temannya menyarankan Julie untuk memasang Paypal di blognya, ia menolak, meski menurut teman-temannya blog Julie sudah punya penggemar. Jadi, dalam hal ini Julie lebih memilih menulis secara konsisten. Karena seperti diceritakan di film proyek blognya memang hanya bagian dari pelariannya dari rutinitasnya yang membosankan sekaligus memupuk cita-citanya sebagai penulis.</p>
<p><strong>3.Ngeblog itu Marathon, Bukan Sprint</strong></p>
<p>Yang ini saya kutip dari apa yang dikatakan <a href="http://ndorokakung.com">Ndoro Kakung</a> di bukunya “Ngeblog Dengan Hati”. Apa yang dilakukan Julie lewat blognya memang seperti itu, secara bertahap ia menulis dari resep yang sederhana sampai resep tersulit, kemudian ia mendapat komentar (Perhatikan betapa girangnya dia saat menerima 53 komentar di blognya suatu hari, kita pasti pernah merasakan hal yang sama bukan saat dapat komentar? <img src='http://www.ayongeblog.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> ). Pembaca blognya mulai mengiriminya bahan-bahan masakan sebagai bentuk apresiasi terhadap Julie, blognya masuk ke peringkat ke-3 dibaca terbanyak sampai puncaknya blog yang ditulisnya banyak mendapat tawaran untuk dibuat buku, diwawancarai bahkan difilmkan. Pada akhirnya blognya pun dibuat buku dengan judul “Julie &amp; Julia” pada tahun 2005 dan sesuai cita-citanya ia kini menjadi penulis. Ending manis dari hasil kerja keras yang konsisten bukan?</p>
<p>Menarik lho menyimak film ini, kemasannya ringan dan bukan tipe drama khusus wanita (Meski pemeran utama dan sutradaranya wanita) jadi pria pun bisa nonton.  Satu yang saya perhatikan adalah platform blog yang digunakan, mengingat waktu itu tahun 2002 belum ada wordpress dan blogspot, di sini Julie menggunakan Blog C, tapi sekilas tampilannya mirip blogspot sih hehe <img src='http://www.ayongeblog.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Blognya di sini digambarkan tanpa foto, entah apa memang aslinya seperti itu namun yang menarik ada satu masa ketika Julie membuat resep gagal dan suaminya menyarankan membuat postingan bohong bahwa ia sudah membuat resepnya, namun Julie tegas menolak <img src='http://www.ayongeblog.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Film ini mengajarkan konsistensi, kesabaran dan kejujuran dalam mengerjakan sesuatu. Dimana memang ketiga hal ini juga penting dimiliki seorang blogger. Memaknai nilai-nilainya tentu akan lebih baik kalau anda sudah menonton filmnya. Happy Blogging!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2010/03/05/belajar-tentang-ngeblog-dari-film-julie-julia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BlackBerry, Blog, dan Bisnis</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2010/01/19/blackberry-blog-dan-bisnis/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2010/01/19/blackberry-blog-dan-bisnis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 03:43:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi ngeBlog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/2010/01/19/blackberry-blog-dan-bisnis/</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2009 memang tahunnya BlackBerry. Banyak orang yang berpaling dan membeli telpon pintar itu. Bahkan beberapa ponsel yang tidak sepintar BlackBerry terkena cipratan rejeki karena dibuat mirip. Apalagi diiklankan bisa mengakses facebook, twitter, dan sebagainya. Padahal hal-hal itu sudah bisa dilakukan ponsel yang sudah ada dari dulu, selama sudah punya fasilitas GPRS dan punya browser. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 10px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="blackberry" border="0" alt="blackberry" align="left" src="http://www.ayongeblog.com/wp-content/uploads/2010/01/blackberry.jpg" width="157" height="236" /> Tahun 2009 memang tahunnya BlackBerry. Banyak orang yang berpaling dan membeli telpon pintar itu. Bahkan beberapa ponsel yang tidak sepintar BlackBerry terkena cipratan rejeki karena dibuat mirip. Apalagi diiklankan bisa mengakses facebook, twitter, dan sebagainya. Padahal hal-hal itu sudah bisa dilakukan ponsel yang sudah ada dari dulu, selama sudah punya fasilitas GPRS dan punya browser.</p>
<p>BlackBerry awalnya dikembangkan untuk bisnis. Fitur email dan messagingnya memudahkan penggunanya untuk selalu update di mana saja. Kemudian kelompok 2.0 menemukan bahwa mereka bisa menggunakannya untuk update status jaringan sosialnya. Mungkin, mayoritas pengguna BlackBerry lebih banyak menggunakannya untuk keperluan itu daripada bisnis.</p>
<p> <span id="more-906"></span>
<p>Mengupdate status memang menyenangkan. Tapi apakah itu punya pengaruh ke bisnis AKA menghasilkan uang? Bisa ya, bisa tidak. Kalau kita artis yang harus selalu update agar tidak dilupakan fans, mungkin kita harus selalu update status. Mungkin kita juga bisa menggunakannya untuk membuat jaringan bisnis. Tapi kalau mau jujur, hal ini langka. Kalau kita mr/miss update yang selalu mengupdate status seperti: ‘wah, jalanan macet pagi ini <img src='http://www.ayongeblog.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> ‘ lalu 5 menit lagi lanjut ‘duhhh… ternyata ada truk mogok’. Sampai akhirnya ‘alhamdulillah, gak telat sampai kantor…kurang 5 menit lagi <img src='http://www.ayongeblog.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> ’. Saya tidak bilang itu jelek. Tapi ada gunanya untuk membentuk jaringan bisnis? Saya rasa tidak.</p>
<p>Blog kebalikan dari BlackBerry. Awalnya dibuat untuk web log, atau catatan online. Namun banyak yang kemudian memanfaatkannya sebagai CMS website. Isinya? Bisa apa saja. Mulai dari diary online, knowledge sharing, sampai memasarkan produk. Yang ingin saya tekankan di sini: blog anda untuk apa?</p>
<p>Ada orang yang menulis di blog karena memang suka. Karena yang ditulis memang berguna (atau menarik), akhirnya membuat peluang baru untuk empunya blog. Mulai dari yang paling sederhana, memasang iklan, sampai tawaran bisnis. Mulai dari nulis buku sampai jadi artis. Mereka yang merasakan keuntungannya mulai menseriusi blognya. Tapi banyak juga yang berhenti di tengah jalan karena merasa jenuh, blognya gak kemana-mana. Padahal blognya sudah populer, dikunjungi banyak orang, menghabiskan banyak waktu. Tapi toh hasilnya tidak seberapa. Popularitas blog memang tidak selalu berbanding lurus dengan penghasilan blog. Blog yang dikunjungi <a href="http://www.copyblogger.com/no-money-blogging/">500rb unique visitor, mungkin cuma menghasilkan US$ 1000 perbulan</a>. Tapi saya juga pernah menemukan blog yang bisa menghasilkan uang yang sama dari 500an pengunjung saja sehari. Logikanya, kalau punya traffic 1000x lebih besar, harusnya incomenya juga 1000x lebih besar dong! Gak juga ternyata.</p>
<p>Apa yang membedakan keduanya? Blog yang terakhir memang dibuat sebagai blog bisnis. Saya mempelajari bahwa monetize blog itu tidak sesederhana yang sering dibahas orang. Banyak buku ‘nyari duit online’ atau tips dari blogger yang bilang cukup nyari peringkat tinggi di Google, nyari visitor yang banyak, lalu pasang AdSense. Nonsense. Kalau kita ingin serius mencari uang dari blog, maka kita harus memperlakukannya sebagai bisnis. Kita harus punya planning, kalau perlu bussines plan sampai ke sales funnel. Mulai dari content, layout, SEO, produk, affiliasi, dan sebagainya. Kalau memang untuk senang-senang dan memasang iklan sebagai tambahan untuk bayar hosting+domain, itu lain cerita. Tinggal pasang layanan PPC, dan gak perlu diurus. PPC memang paling gampang, tapi nilainya juga paling kecil. </p>
<p>Saya tidak bermaksud menulis ini untuk membuat teman-teman patah semangat dan batal ngeblog. Sebaliknya, kalau teman-teman mulai ngeblog karena dengar gosip nyari uang dari blog itu gampang, itu memang cuma gosip. Dalam hitungan minggu atau bulan, blog yang mulai dengan motivasi seperti ini biasanya sudah patah arang. Sama seperti di dunia nyata, gak ada cara nyari uang yang gampang. Butuh kerja keras.</p>
<p>Banyak alasan lain untuk ngeblog. Dan rata-rata blogger yang mulai dengan alasan lain itu punya dedikasi tinggi ketimbang blogger yang mulai karena ingin dapat uang ‘panas’. Saya berharap, teman-teman mulai ngeblog dengan alasan itu. Kalaupun ingin punya blog untuk mencari uang, sudah siap memperlakukannya sebagai bisnis dan mau bekerja keras. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2010/01/19/blackberry-blog-dan-bisnis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dwiki Setiyawan: Tanpa Banyak Membaca, Berhentilah Anda Jadi Blogger!</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2010/01/02/dwiki-setiyawan-tanpa-banyak-membaca-berhentilah-anda-jadi-blogger/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2010/01/02/dwiki-setiyawan-tanpa-banyak-membaca-berhentilah-anda-jadi-blogger/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 05:48:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ilmanakbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi ngeBlog]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan Kiriman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/?p=873</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Ayo ngeBlog! Hati-hati, tulisan mas Dwiki yang ini sangat provokatif! Menyinggung semua blogger yang suka copy paste, membuat konten pornografi, untuk &#8216;mendewakan&#8217; SEO dan AdSense. Menurut mas Dwiki, hakikat utama ngeblog adalah tentang intelektualitas, tidak ada yang dibuat dengan instan. Dan intelektualitas itu ditunjukkan dengan seberapa banyak kita membaca untuk memperluas wawasan kita. Dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengantar Ayo ngeBlog!</strong></p>
<p>Hati-hati, tulisan mas Dwiki yang ini sangat provokatif! Menyinggung semua blogger yang suka <em>copy paste, </em>membuat konten pornografi, untuk &#8216;mendewakan&#8217; SEO dan AdSense. Menurut mas Dwiki, hakikat utama ngeblog adalah tentang intelektualitas, tidak ada yang dibuat dengan instan. Dan intelektualitas itu ditunjukkan dengan seberapa banyak kita membaca untuk memperluas wawasan kita. Dengan membaca, kita punya bahan untuk menulis, betul kan?</p>
<p>Selamat membaca!</p>
<p><em>Ini adalah tulisan dari blogger tamu Ayo ngeBlog!: </em><a href="http://dwikisetiyawan.wordpress.com/">Dwiki Setiyawan</a><em>. Ingin mengirim artikel ke Ayo ngeBlog? kirim saja ke ilmanakbar[at]gmail.com</em></p>
<p><span id="more-873"></span><em><img title="More..." src="http://www.ayongeblog.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /></em></p>
<p><strong><a href="http://dwikisetiyawan.wordpress.com/2009/03/03/tanpa-banyak-membaca-berhentilah-anda-jadi-blogger/">Tanpa Banyak Membaca, Berhentilah Anda Jadi Blogger!</a></strong>, oleh <a href="http://dwikisetiyawan.wordpress.com/">Dwiki Setiyawan</a></p>
<p>Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk ‘mengejek’ pembaca yang berniat menjadi blogger. Apalagi menggurui pembaca. Cukuplah bahwa judul postingan ini untuk diri saya sendiri agar lebih terpacu menulis di blog<strong><em> </em></strong> ini. Menggurui pun untuk diri pribadi, bukan untuk pembaca yang tidak perlu digurui.</p>
<p>Oya. Siapkan teh hangat atau kopi panas disertai ‘nyamilan’ seperlunya di samping meja anda nge-net  sebelum melanjutkan baca postingan ini.</p>
<p>Kita tentu mengharapkan dunia blog di Indonesia saat ini lebih berkembang dan maju seperti halnya blog-blog yang muncul, misalnya di Amerika Serikat. Kalau bukan Amerika Serikat, tak usah jauh-jauhlah, cukup disekitar Negara Asia Tenggara, misalnya, Malaysia. Perbedaannya cukup signifikan! Tak usah saya sebutkan blog-blog itu, namun pembaca bisa menelusuri dengan mengetik “<em>key word</em>” seperti <em>Top Blogs in English Language</em> di mesin pencarian.</p>
<p>Iseng-iseng saya membuka <a href="http://botd.wordpress.com/?lang=id" target="_blank">Top Blogs</a> atau <a href="http://botd.wordpress.com/top-posts/" target="_blank">Top Posts</a> yang dilansir WordPress (WP) dalam bahasa Indonesia. Ini hanya sekedar contoh. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada sebagian para blogger di WP, kalaulah boleh memberi masukan: perbanyaklah kembali membaca (buku). Sehingga yang muncul bukanlah postingan-postingan yang sekadar “copy paste” dari situs atau blog lain.</p>
<p>Dari seratus blog top atau postingan top di WP itu, mungkin hanya puluhan saja yang benar-benar lahir dari akumulasi pendalaman fenomena dan realitas serta pengkayaan aktivitas membaca. Selebihnya latah atau ikut-ikutan tren yang terjadi. Berita arus utama mempublikasi ‘Ponari dan Batu Ajaibnya’, blog-blog juga  ngikuti. Dan seterusnya. Mungkin ini lantaran hanya untuk mengejar  <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/SEO" target="_blank">SEO</a>, agar lalu lintas pengunjung blog bertambah.</p>
<p>Tapi untuk apa? Jikalau diri kita hanya jadi ‘foto copy’ dari orang lain. Bermanfaat jangka pendek, namun bukan untuk peningkatan kapasitas diri di jangka panjang! Pembaca mungkin ada yang berdalih, agar postingan-postingannya bisa suatu waktu di bukukan atau diterbitkan. Siapa yang mau menerbitkan “<em>junk posts</em>” semacam itu?</p>
<p>Malahan yang nangkring di Top One BOTD WP berbulan-bulan selama saya nge-blog, maaf ya,  adalah blog yang postingan utamanya tentang ‘lowongan kerja’. Sekalipun ini bisa dimaklumi, namun sepertinya saya juga kurang sreg oleh pemeringkatan seperti ini.</p>
<p>Yang di WP itu belum seberapa, kalau kita telusuri lebih lanjut di dunia maya, barangkali postingan-postingan dan turunannya berupa gambar atau video bernada cabul, porno dan sejenisnya jumlahnya mungkin kalau di peringkat di seluruh dunia, Indonesia minimal masuk 10 besar. Bukannya saya sok suci dan tidak suka gambar-gambar atau video syur itu, hanya fenomena situs dan blog kategori xxx ini sudah terlalu.</p>
<p>Hanya demi untuk mengejar pemasukan dari <em>Google Adsense,</em> segala tipu daya dan cara digunakan. Apakah tidak ada metode yang elegan dan mencerahkan selain cara semacam itu? Nanti di postingan selanjutnya akan kami kemukakan tip-tip mencari pemasukan yang lebih elegan dan ‘intelek’ melalui aktivitas nge-blog.</p>
<p>Blogger Chappy Hakim, dalam Kopdar I Kompasiana beberapa waktu lalu mengemukakan bahwa membaca (buku) merupakan prasyarat seorang blogger bisa rutin menuangkan gagasannya melalui tulisan. Itu dalil lama yang tetap berlaku kapanpun dan dimanapun seseorang blogger (atau calon blogger) berada.</p>
<p>Dengan membaca,  banyak ilmu dan pengalaman (orang lain) diserap. Pada gilirannya pengetahuan itu membentuk “pola pikir” untuk merespon suatu fenomena dan masalah. Semakin banyak membaca, semakin cepat pula seseorang mampu menanggapi fenomena dan masalah. Sekaligus cepat mencari jalan keluar dan solusi-solusi jitunya.</p>
<p>Demikian pula di Blog. Semakin para blogger memperkaya khazanah intelektualnya salah satunya dengan membaca, maka postingan-postingan yang muncul sekalipun menyorot soal yang sama namun sudut pandang dan pendalaman atas soal itu akan berbeda satu sama lain dan berbobot mutunya. Apalagi bila postingan berbeda denga postingan blogger lain.</p>
<p>Posting bermutu itu tidak bisa dihasilkan oleh proses instan, sekonyong-konyong dan sekejap mata. Melainkan atas dasar rentang pengalaman dan kesukaan membaca.</p>
<p>Tanpa itu, mulai sekarang berhentilah anda jadi blogger!</p>
<p>Catatan: postingan ini pernah dimuat di blog Grup Harian <em>KOMPAS </em><a href="http://kompasiana.com/" target="_blank">Kompasiana </a>pada 2 Maret 2009 dengan judul yang sama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2010/01/02/dwiki-setiyawan-tanpa-banyak-membaca-berhentilah-anda-jadi-blogger/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dwiki Setiyawan: Menulis itu Ibarat Koki Memasak</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2009/12/29/dwiki-setiyawan-menulis-itu-ibarat-koki-memasak/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2009/12/29/dwiki-setiyawan-menulis-itu-ibarat-koki-memasak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 05:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ilmanakbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi ngeBlog]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan Kiriman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/?p=869</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Ayo ngeBlog! Tulisan ini hanya sedikit sekali menyinggung langsung tentang blog. Tapii, karena ya aktivitas utama dari ngeblog itu ya nulis, jadi secara tidak langsung tulisan ini menyinggung banget tentang ngeblog.. Analogi menulis dengan memasak itu unik banget ya.. Tulisan ini cukup berharga buat dibaca kok.. Selamat membaca! Ini adalah tulisan dari blogger tamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengantar Ayo ngeBlog!</strong></p>
<p>Tulisan ini hanya sedikit sekali menyinggung langsung tentang blog. Tapii, karena ya aktivitas utama dari ngeblog itu ya nulis, jadi secara tidak langsung tulisan ini menyinggung banget tentang ngeblog.. Analogi menulis dengan memasak itu unik banget ya.. Tulisan ini cukup berharga buat dibaca kok.. Selamat membaca! <img src='http://www.ayongeblog.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <em></em></p>
<p><em>Ini adalah tulisan dari blogger tamu Ayo ngeBlog!: </em><a href="http://dwikisetiyawan.wordpress.com/">Dwiki Setiyawan</a><em></a>. Ingin mengirim artikel ke Ayo ngeBlog? kirim saja ke ilmanakbar[at]gmail.com</em></p>
<p><em><span id="more-869"></span></em></p>
<p><strong><a href="http://dwikisetiyawan.wordpress.com/2009/03/05/menulis-itu-ibarat-koki-memasak/">Menulis itu Ibarat Koki Memasak</a></strong>, oleh <a href="http://dwikisetiyawan.wordpress.com/">Dwiki Setiyawan</a></p>
<p>Kegiatan menulis, entah sebagai <em>hobby</em> atau profesi, bisa kita ibaratkan seperti halnya seorang koki membuat masakan. Enak, lezat dan bercita rasa tinggi atau tidaknya masakan itu, tergantung kepiawaian juru masak dalam meramu dan meracik serta mengolah bumbu-bumbu masakannya.</p>
<p>Bahan dasar masakan yang akan kita sajikan, dalam sebuah tulisan, berupa tema yang akan diangkat, diungkap, dijabarkan, digambarkan, dinarasikan (apa lagi ya?) pada karya tulis itu.</p>
<p>Bumbu-bumbu masakannya, hakikatnya berupa akumulasi pengalaman berdasarkan kisah-kisah yang dialami sendiri, kisah orang lain yang kita lihat dan amati, kisah yang didengar dari orang lain. Dan ketajaman pikir dari hasil olah intelektual (dari berdiskusi, seminar, simposium, lokakarya dan lain-lain) serta pengendapan hasil bacaan atau pustaka yang dikonsumsi.</p>
<p>Seperti halnya dalam menulis, terkadang kita perlu referensi bacaan. Memasak pun demikian, terkadang kita membutuhkan sebuah buku resep masakan.</p>
<p>Sedangkan teknis menulis, bisa kita umpamakan dengan cara kita memegang alat-alat masak dan memdemontrasikan tatkala masakan itu kita olah di tungku perapian. Lama atau pendeknya mengolah masakan –panjang atau pendek tulisan– tergantung bahan dasar yang akan kita olah. Mengolah masakan dari bahan dasar ikan segar tentu sebentar. Berbeda dengan bila kita mengolah ‘rebung’ (anakan bambu) yang memakan waktu lama.Tulisan bisa panjang atau pendek, selain soal <em>mood,</em> juga soal ketersediaan bahan-bahan utama yang akan diolah jadi masakan itu.</p>
<p>Sebelum dihidangkan tidak lupa masakan yang diolah tersebut dicicipi lidah kita sendiri, apakah betul-betul sudah enak dan lezat atau belum? Biasanya, enak dan lezat bagi kita masakan itu bisa jadi enak dan lezat pula bagi orang lain. Pencicipan masakan itu, juga untuk mengecek kekurangan dari bumbu-bumbu spesial masakan yang akan dihidangkan. Atau untuk mendeteksi jangan-jangan masakan itu terlalu asin atau terlalu pedas.</p>
<p>Dalam menulis, kita tentu tidak mengharapkan masakan itu terlalu asin lantaran kebanyakan garam yang membuat orang geram (mengumpat pada diri sendiri). Atau terlalu pedas lantaran kebanyakan cabe yang membuat orang mukanya memerah. Melontarkan kritik keras dalam pengibaratan masakan yang terlalu pedas itu seyogyanya dihindari. Karena cepat atau lambat, menu masakan kita itu dijauhi orang.</p>
<p>Berdasarkan pengibaratan menulis sama halnya dengan saat kita membuat masakan, maka setiap tulisan dari masing-masing individu itu memiliki ciri dan kekhasan masing-masing. Inti soalnya terletak pada bumbu-bumbu (rahasia) yang dimiliki masing-masing pribadi penulis!</p>
<p>Semakin seseorang memiliki persediaan bumbu-bumbu –apalagi punya bumbu rahasia– masakan yang melimpah ruah di almari dapur pikirannya, sudah bisa dipastikan tulisan eh masakannya akan lezat dan memiliki cita rasa tinggi.</p>
<p>Itulah sebabnya ada orang yang memiliki ‘keahlian tertentu’, katakanlah seorang guru besar di universitas, kadang tulisannya susah dicerna orang lain, monoton, hambar dan terlalu ilmiah lantaran bumbu masakannya amat terbatas. Bukannya yang bersangkutan tidak bisa menulis. Sangat bisa. Namun terbatas di jurnal-jurnal ilmiah khusus membahas disiplin ilmu yang digelutinya. Bukan untuk konsomsi publik seperti halnya di blog ini.</p>
<p>Selanjutnya soal media menyajikan masakan yang telah kita olah itu. Kita bisa menghidangkannya di rumah sendiri untuk dicicipi dan disantap serta dirasakan kalangan keluarga atau handai taulan. Bisa juga mengundang tetangga dekat atau tetangga jauh. Ini kita ibaratkan kita hidangkan dalam sebuah blog personal.</p>
<p>Bisa pula menu makanan itu kita proklamirkan keberadaannya di sebuah rumah makan strategis. Di sebuah media cetak atau blog dan situs terkemuka. Agar orang lain yang kita kenal dekat atau yang lalu lalang di depan rumah makan itu mau mampir mencoba masakan kita itu.</p>
<p>Seperti layaknya sebuah rumah makan, faktor keterkenalan menu masakan dimulai dan diawali dari pembicaraan mulut ke mulut (‘getok tular’) orang-orang dekat yang pernah makan menu kita yang lezat dan bercita rasa tinggi itu. Semakin banyak rumah makan itu dikunjungi orang lantaran menu spesial yang dihidangkan, lambat laun orang-orang yang lalu lalang itu juga penasaran dan ingin mencobanya serta menjadi pelanggan tetapnya.</p>
<p>Tentu saja untuk mempertahankan pelanggan tetap rumah makan itu, di samping kita senantiasa menjaga mutu masakan dan pelayanan memuaskan pelanggan, yang harus dilakukan adalah menambah persediaan bumbu-bumbu masakan agar memenuhi almari dapur kita.</p>
<p>Sebagai pamungkas tulisan ringan ini, yang tidak boleh dilupakan juga agar masakan kita itu lebih menjangkau banyak orang untuk dicicipi dan disantap, sediakan pula anggaran promosi. Di dunia maya, bisa kita lakukan dalam berbagai cara dan teknik. Antara lain: menulis komentar diblog atau posting di mailing list yang kita ikuti sembari mencantumkan tautan masakan yang baru kita olah, mengirim pesan atau menulis di dinding atau apapun namanya di situs pertemanan semacam <em>Facebook, Friendster, MySpace</em> dan sebagainya dengan mencantumkan tautan masakan eh tulisan kita itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2009/12/29/dwiki-setiyawan-menulis-itu-ibarat-koki-memasak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

