<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ayo ngeBlog! &#187; Bambang Haryanto</title>
	<atom:link href="http://www.ayongeblog.com/author/behar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ayongeblog.com</link>
	<description>ayo jadi blogger bermanfaat!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Nov 2011 06:41:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Facebook, Beautiful Girl, Pulomas 1997</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2009/04/04/facebook-beautiful-girl-pulomas-1997/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2009/04/04/facebook-beautiful-girl-pulomas-1997/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 03:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Haryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[gadis bertopi toska]]></category>
		<category><![CDATA[jaringan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[missed connections]]></category>
		<category><![CDATA[pulomas 1997]]></category>
		<category><![CDATA[senam pagi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/2009/04/04/facebook-beautiful-girl-pulomas-1997/</guid>
		<description><![CDATA[Gadis Pulomas minggu pagi. Awas : berhenti merokok mampu menimbulkan penyakit baru. Penyakit getol membual. Membual karena telah berhasil melepaskan diri dari cengkeraman kecanduan nikotin, yang bagi saya pribadi sudah berlangsung selama hampir 17 tahun. Saya mampu berhenti merokok tahun 1989. Pada tahun yang sama, saya mulai melakukan olah raga jalan kaki pagi. Sampai kini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/SdbFPekZInI/AAAAAAAAARs/1B4Bdlg2eRM/s1600-h/louhan160.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320656879479235186" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 160px; height: 185px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/SdbFPekZInI/AAAAAAAAARs/1B4Bdlg2eRM/s320/louhan160.JPG" border="0" alt="" /></a><strong>Gadis Pulomas minggu pagi.</strong> Awas : berhenti merokok mampu menimbulkan penyakit baru. Penyakit getol membual. Membual karena telah berhasil melepaskan diri dari cengkeraman kecanduan nikotin, yang bagi saya pribadi sudah berlangsung selama hampir 17 tahun.</p>
<p>Saya mampu berhenti merokok tahun 1989.  Pada tahun yang sama, saya mulai melakukan <a href="http://wonogirinews24.blogspot.com">olah raga jalan kaki pagi</a>. Sampai kini. Beberapa orang melakukan jalan kaki pagi sebagai waktu untuk berdoa, bermeditasi atau berpikir. Secara sendirian melakukan jalan kaki akan membantu Anda memperoleh perspektif dan keseimbangan.  <span id="more-605"></span></p>
<p>Jalan kaki bermanfaat untuk mengurangi stres, menjernihkan pikiran, menggali sisi kreatif Anda, menemukan gagasan-gagasan baru dan memecahkan masalah.  Demikian kesimpulan situs AARP (American Association of Retired Persons), organisasi kaum pensiunan Amerika Serikat.</p>
<p>Saat itu, saya tinggal di Jalan Belimbing, Balai Pustaka Timur, Rawamangun, Jakarta Timur. Komplek yang dulu bernama Gedung Pola itu, di seberang Apotik Rini, kini sudah menjadi ruko. </p>
<p>Arena favorit jalan kaki pagi saya di hari Minggu adalah lapangan Pulomas. Di bangku tribun lapangan pacuan kuda Pulomas itu pula saya mampu merampungkan buku Being Digital (1995)-nya nabi media dari Media Lab MIT, Nicholas Negroponte. Buku teknologi informasi yang mampu membuat saya menangis karena optimisme yang ia semaikan di dada ini mengenai masa depan dunia digital yang gemilang. </p>
<p>Di sekitar area lapangan pacuan kuda itu terdapat dua lapangan yang diisi dua kelompok senam yang berbeda. Ada senam kesegaran jasmani yang dipandu dengan lagu-lagu pop/disko, yang bergairah, sementara kelompok lain melakukan senam pernafasan dengan iringan musik bernuansa Mandarin yang lebih lamban.</p>
<p>Saya tidak ikut keduanya. Saya memilih memutari lapangan, 3-5 kali, berlawanan arah jarum jam. Dengan cara demikian saya bisa “mengabsen” sosok-sosok asing tetapi terasa akrab di area tersebut,  <i>familiar strangers</i>, karena kita senantiasa bertemu di minggu pagi. </p>
<p>Ada sekelompok bapak-bapak yang berbahasa Batak. Ada pasangan setengah baya, sementara anak gadisnya dibiarkan berjalan sendirian. Ada keluarga muda, berdua berkeliling dengan mendorong kereta bayi. Kelompok pria bersepeda nampak duduk-duduk di pinggir jalan yang memisahkan kedua lapangan. Mereka mengobrol sambil istirahat dan cuci mata. Ada mobil bak terbuka, di dekat mereka,  yang jualan susu kedele. Di sisi utara terdapat warung dengan kursi dan meja yang selalu  penuh pembeli.   </p>
<p><b>Beautiful girl.</b> Salah satu di antara <i>familiar strangers</i> yang rasanya ingin selalu saya temui di tiap minggu pagi, antara 1996-1997 itu, adalah si <i>grasshopper</i>.  Ah, ini hanya nama kode, nama rekaan, untuk menggambarkan sosok perempuan dengan kaki belalang yang menawan. Ia selalu datang sendirian. Menaiki sepeda. Kemudian kadang menghilang, tahu-tahu sudah <i>mingle</i> di antara peserta senam. Tentu saja bukan pada kelompok senam pernafasan, yang didominasi kaum sepuh, para manula. </p>
<p>Ia ideal untuk sosok pemain bola volley. Atau model. Tingginya sekitar 168-170 cm. Menjulang dan menonjol. Selalu memakai topi <i>baseball</i> warna turquoise, biru kehijauan. Kuncir ekor kuda menyeruak lubang bagian belakang topinya. Kami merasa saling mengenal, ada <i>feeling</i>,  walau tanpa tahu nama masing-masing.  </p>
<p><i>Beautiful girl</i>, mungkin demikian seorang Jose Mari Chan akan menyebutnya seperti cerita dalam lirik lagunya yang berjudul sama : mengenai gadis cantik menawan, berkelebat di depan matanya, yang membuatnya jatuh cinta, dan kemudian ia kuatirkan dirinya menghilang selamanya seperti “gita di waktu malam.”   Ia memang menghilang sejak minggu pagi 25 Mei 1997. </p>
<p>Mungkin ia kecewa. Gestur  yang ia munculkan, yang menandakan keinginannya untuk bisa saling mengenal di saat itu, tidak saya tanggapi secara agresif. Minggu-minggu berikutnya ia tak muncul lagi. Craig Newmark melabeli momen seperti ini sebagai <i>missed connections</i> dan menjadi salah satu layanan dalam situsnya yang terkenal. </p>
<p>Sejak Januari 1998 saya pun meninggalkan Jakarta, sampai kini. Sehingga  sang belalang menawan itu tinggal berenang-renang dalam samudera kenangan.  “<i>Swimming forever in my head / tangled in my dreams / swimming forever</i>,” meminjam lirik dari “Radio”-nya The Corrs.</p>
<p><b>Omongan tolol.</b> Keriuhan setiap minggu pagi di lapangan Pulomas itu boleh jadi mirip yang Anda alami dan rasakan bila Anda terjun sebagai warga situs jaringan sosial seperti Facebook. Sebagian dari mereka yang memang Anda kenal sebagai pribadi, baik mantan kekasih sampai teman kuliah dua puluh tahun lalu,  tetapi sebagian besar boleh jadi merupakan orang-orang asing yang akrab atau hanya berlaku sok akrab bagi Anda. </p>
<p>“I want to hate Facebook, but it&#8217;s getting so hard,” tulis Paul J Rose dari Merchandise Mania di <a href=”http://paulsmania.blogspot.com/2009/01/i-want-to-hate-facebook-but-its-getting.html/”>blognya</a>, Januari 2009 yang lalu.  Ia bertanya : dapatkah Anda membayangkan dalam suatu pesta di mana semua orang mengenalkan dirinya sebagaimana mereka mengenalkan diri di Facebook ? “Hai, saya Paul dan saya akan mengenalkan diri dengan seseorang yang asing sekarang : maukah Anda menjadi teman saya ?” Menurutnya, cara semacam itu bukan networking. <i>It’s drivel</i>, cetusnya.</p>
<p>Terima kasih, Paul. Menarik juga penilaian Anda. Yang  saya tahu, setelah omongan tolol itu memperoleh klik konfirmasi sehingga perkawanan baru terjadi, semua warga keriuhan dalam Facebook itu ingin memperebutkan atensi Anda. Bukankah Thomas Mandel dan Gerard Van der Leun dalam bukunya Rules of The Net : Online Operating Instructions for Human Beings (1996) telah menyimpulkan, <i>the hard currency of cyberspace is attention</i> ? </p>
<p>Bila kita memperoleh atensi, kita merasa baik. Semakin banyak atensi yang kita peroleh, semakin kita merasa berharga di depan teman-teman Facebook lainnya. Hal itu mencandu (baca : <a href=” http://id.news.yahoo.com/kmps/20090217/tls-10-tanda-kecanduan-facebook-8d16233.html/”>10 Tanda Kecanduan Facebook</a>), juga diam-diam bisa menjengkangkan kita terjun bebas menghuni <i>lonely planet</i>, istilah dari Elizabeth M. Johnson, karena hubungan yang terjadi bukanlah hubungan yang autentik. Mudah-mudahan saya bisa menuliskan topik ini secara rinci di lain kali. </p>
<p><b>Mana untuk saya ?</b> Facebook juga membuat kita menjadi insan-insan pengintip dan penguping. Walau sejatinya, menurut saya, apa yang kita kuping atau yang kita intip dari foto-foto sampai video mereka tersebut sebagian besar seringkali hanya bermakna bagi mereka yang memajangnya. Saya tidak tahu mengapa mereka-mereka yang saya tahu persis bukan orang sembarangan, tetapi begitu muncul di Facebook justru sisi-sisi yang paling menimbulkan pertanyaan yang mereka tonjolkan.</p>
<p>Dengan demikian, bila setiap kali kita membuka akun Facebook dengan berbekal  WIIFM, <i>What’s In It For Me</i>, mungkin kebanyakan kita akan kecewa. Mungkin rentetan kekecewaan semacam itulah yang membuat seseorang teman memposting di <i>wall</i>-nya bahwa ia ada niatan ingin mundur dari jaringan Facebook. Tak ada nilai tambah yang ia peroleh, begitu alasannya.  Alasan yang sah. Juga patut dihargai. Walau mungkin ia kurang bersabar.  Atau memang terlalu menuntut dalam memperoleh kue-kue pergaulan dunia maya, yaitu atensi tadi.</p>
<p>Dalam kerumunan <i>familiar strangers</i> semacam Facebook memang telah dibuka peluang bagi kita untuk berhimpun dalam kelompok, <i>group</i>, yang memiliki minat tertentu. Layanan yang bagus. Sayang, pengalaman pahit saya, yang terasa menjengkelkan, adalah ketika  mendapatkan rentetan <i>message</i> dari pemilik kelompok itu yang isinya tidak sesuai dengan visi-misi sampai jati diri kelompok bersangkutan. </p>
<p>Saya, tentu saja melayangkan protes. Bila protes ini tidak digubris, maka meninggalkan kelompok bersangkutan merupakan pilihan yang mungkin segera saya lakukan. Seperti halnya suasana kerumunan di lapangan Pulomas di minggu pagi, semua orang memang boleh datang dan juga boleh pula pergi. Seperti pasar malam.</p>
<p><b>Facebook vs blog.</b> Suasana Facebook memang seperti pasar malam. Terlalu banyak kebisingan, tetapi kebanyakan tidak memiliki bobot. Seperti kerupuk yang warna-warni, renyah, dikunyah menimbulkan berisik, tetapi tidak mengenyangkan Juga tidak mengandung gizi yang menyehatkan. </p>
<p>Coba lihat dan amati, bunyi status yang ada atau coretan di <i>wall</i> mereka,  lalu bacalah sambutan terhadap postingan tersebut. Hampir dapat dipastikan sebagian besar adalah celoteh hal yang remeh temeh, dan celakanya (kalau boleh disebut celaka) : dengan hal-hal yang sangat dangkal  itu saja, semua merasa mudah bergembira dan berbahagia. Bahkan kecanduan olehnya !</p>
<p>Blog, bagi saya, bukan sebuah keriuhan pasar malam. Kalau di Pulomas itu arena lokasi senam, jalan kaki dan komplit dengan warungnya ibarat sebuah keriuhan dari status dan dinding Facebook, maka di tribun tepi lapangan pacuan kuda, yang sepi dan leluasa itu, adalah sebuah blog. Di Facebook memang ada arena untuk ngeblog, yaitu My Notes, tetapi sebagian besar justru ditelantarkan. Padahal, menurut saya, di arena inilah saya merasakan keheningan. Suasananya lebih kontemplatif. Ideal untuk berpikir. Untuk menganyam gagasan. Kemudian menuliskannya.  </p>
<p>Merujuk hal itulah, saya menyukai blog-blog yang memiliki subjek yang khusus. Yaitu blog yang mudah ditemukan melalui Google ketika kita membutuhkan informasi tertentu. Blog yang punya spesialisasi, menekuni <i>nieche</i> yang khusus, sehingga menunjukkan sang blogger pemiliknya memiliki otoritas tertentu yang layak dipercaya.</p>
<p>Saya kurang menyukai blog-blog “campur-bawur” yang isinya beragam, campur aduk, yang seperti halnya keriuhan pelataran Facebook, lebih banyak diisi hal-hal yang trivial. Remeh temeh.   </p>
<p>Walau pun demikian, bukan berarti Facebook identik dengan hal-hal trivia itu. Di Facebook ini saya bisa menggalang kontak dengan seorang David Parrish. Ia adalah International Business Adviser for Creative People dari Inggris. Ia mempercayakan kepada saya untuk mencari kontak dan koneksi agar e-booknya berjudul T-Shirts and Suits: A Guide to the Business of Creativity dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Terus terang, Facebook merupakan media jaringan sosial yang baru bagi saya. Saya bergabung berkat diajak Rdanz Kusuma dari Malang. Tanggal 19 Juli 2008. Teman pertama yang mengkonfirm <i>drivel</i> saya adalah : Petty Tunjung Sari.</p>
<p>Masih banyak hal yang harus saya pelajari dari Facebook. Untuk itu saya telah membuat folder tersendiri dalam file, di mana info yang terbaru antara lain <a herf=”       http://www.independent.co.uk/news/science/facebook-can-ruin-your-life-and-so-can-myspace-bebo-780521.html/”>Facebook can ruin your life</a> sampai berita bahwa <a href=” http://www.detikinet.com/read/2009/03/31/101959/1107555/398/universitas-tawarkan-gelar-sarjana-facebook/”>Birmingham City University</a> di Inggris telah menawarkan gelar master di bidang media sosial. Di sini, para mahasiswa bakal diajar intensif dengan materi kuliah mengenai situs jejaring seperti Facebook, Twitter dan Bebo.</p>
<p>Facebook, dahsyat. </p>
<p>Tetapi kali ini saya tidak ingin muluk-muluk berharap mengenai kedigdayaan Facebook tersebut. Mengutip lirik lagunya Jose Mari Chan, <i>”Beautiful girl, wherever you are /I knew when I saw you, you had opened the door /I knew that I&#8217;d love again after a long, long while/I&#8217;d love again</i>,” siapa tahu pesan ini mampu melambung ke kosmis, menyeruak di antara jutaan pengguna Facebook di dunia, sehingga sampai kepada yang berhak menerimanya. Ini memang ibarat perjudian nasib.</p>
<p>Refren Jose Mari Chan menggema di hati : </p>
<p><i>It was destiny&#8217;s game</i><br />
<i>For when love finally came on</i><br />
<i>I rushed in line only to find</i><br />
<i>That you were gone</i></p>
<p>Wonogiri, 3-4/4/2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2009/04/04/facebook-beautiful-girl-pulomas-1997/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Facebook, Blog dan Otak Yang Mubazir</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2009/03/15/facebook-blog-dan-otak-yang-mubazir/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2009/03/15/facebook-blog-dan-otak-yang-mubazir/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 12:08:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Haryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/2009/03/15/facebook-blog-dan-otak-yang-mubazir/</guid>
		<description><![CDATA[Pemimpin Indonesia, tirulah Mark Zuckerberg. Ketika kebijakan dalam pengelolaan situs kreasinya, Facebook, diprotes oleh banyak orang karena dianggap eksploitatif, ia mendengarkan. “Praktek bisnis konvensional dalam dokumen Terms of Use terlalu membatasi upaya meraih cita-cita..utama Facebook untuk menghadirkan dunia yang lebih terbuka dan transparan. Kita percaya bahwa bila kita ingin mengarahkan dunia ke tujuan tersebut, maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pemimpin Indonesia</strong>, tirulah Mark Zuckerberg. Ketika kebijakan dalam pengelolaan situs kreasinya, Facebook, diprotes oleh banyak orang karena dianggap eksploitatif,  ia mendengarkan.</p>
<p>“Praktek bisnis konvensional dalam dokumen Terms of Use terlalu membatasi upaya meraih cita-cita..utama Facebook untuk menghadirkan dunia yang lebih terbuka dan transparan. Kita percaya bahwa bila kita ingin mengarahkan dunia ke tujuan tersebut, maka kita harus menjadi contoh dalam  menjalankan layanan kami agar sesuai dengan cita-cita itu,” tulisnya.</p>
<p>“Mulai hari ini (27/2/2009), kami memberi peluang lebih besar kepada Anda untuk menyuarakan opini bagaimana sebaiknya Facebook dikelola. Untuk itu kami terbitkan dua dokumen untuk Anda tinjau dan komentari. Dokumen pertama, Prinsip-Prinsip Facebook, berisi hak-hak Anda dan akan menjadi kerangka panduan setiap kebijakan yang kami ambil atau alasan kami dalam menolaknya. Kedua, dokumen Pernyataan Hak dan Tanggung Jawab, untuk menggantikan dokumen Terms of Use yang ada.”<span id="more-586"></span></p>
<p>Terima kasih, Mark. Untuk Anda yang ingin mengetahui hal penting ini, bahkan nanti ikut voting dalam menentukan kebijakan Facebook, silakan baca “Governing the Facebook Service in an Open and Transparent Way” dengan mengklik :  <a href="http://blog.facebook.com">http://blog.facebook.com/ </a></p>
<p><strong>Diskon intelektualitas.</strong> Pesan yang dikirimkan Mark Zuckerberg untuk jutaan pemilik akun Facebook akhir Februari 2009 itu mungkin tidak menarik perhatian Anda. Tak apalah. Memang tidak setiap orang memiliki minat, apalagi serius, terhadap seluk-beluk media sosial Facebook ini. Mereka dan kita semua, cukup menggunakannya. Atau tidak menggunakannya, sehingga tidak mampu menghayati manfaatnya,  tetapi tergoda untuk bersikap sinis terhadapnya.</p>
<p>Sebuah opini berjudul “Narsis” ditulis wartawan Suara Merdeka, Adi Ekopriyono (Suara Merdeka, 3/3/2009). “Tampaknya budaya narsistis sedang melanda banyak orang. Di Facebook –situs web jaringan sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg, lulusan Harvard, bersama dua rekannya Dustin Moskovitz dan Chris Hughes, orang tidak malu-malu “memamerkan” foto-foto diri untuk dilihat oleh banyak orang. Lewat Facebook, seolah-olah orang berlomba-lomba menarik perhatian orang lain dengan kepercayaan diri yang kadang berlebihan,” tulisnya.</p>
<p>Opini yang menarik. Tetapi memang harus demikian itu tulisan yang lajim disajikan oleh seorang wartawan kebanyakan. Contoh kecil jurnalisme konflik. Mereka menulis opini atau berita sebagaimana menulis sebuah drama.  Mereka mencari titik bidik tertentu, memilih mana protagonis dan mana antagonis, diramu dengan hal-hal yang berlawanan antara kedua kubu, sehingga menghadirkan suatu konflik pada benak diri pembacanya. Sajian <em>infotainment </em> yang mengusung isu-isu perseteruan dangkal tetapi membuncah di layar-layar televisi kita juga memiliki rumus sajian yang sama.</p>
<p>Saya mengenal Mas Adi. Bersama pelaku bisnis ekonomi kreatif <a href="”http://purisa.blogspot.com/”">Purnomo Iman Santoso</a>, yang warga <a href="”http://episto.blogspot.com/”">Epistoholik Indonesia</a> asal Semarang, kami bertiga pernah mengobrol di kantor harian Suara Merdeka, Jl. Pandanaran, Semarang (8/11/2007). Ia secara berkala muncul dalam kolom “pulau” di halaman opini Suara Merdeka. Juga terpajang foto diri di dalamnya. Tetapi ia tidak menyertakan alamat emailnya.</p>
<p>Dalam obrolan saya usulkan agar Mas Adi memiliki blog untuk tulisan kolomnya itu.  “Agar bisa interaktif,” kata dia sendiri. Tetapi nampaknya usulan saya itu tidak mempan.  Kalau saja ia sekarang sudah memiliki blog atau akun Facebook, menikmati manfaatnya dan mengenali rekan-rekan barunya di dunia maya,  opini dia tersebut boleh jadi akan menjadi materi obrolan yang menarik. Juga berguna bagi banyak fihak.</p>
<p>Bagi saya, Facebook adalah media baru, mudah dioperasikan pula. Naluri pertama yang muncul pada benak para penggunanya adalah dorongan untuk mengekspresikan diri.  Secara mudah pula. Aktualisasinya, ya dengan memajang foto-foto diri mereka, keluarga, teman-teman, bahkan satwa kesayangan. Bisa difahami, terutama bila aksi pajang foto ini dibandingkan dengan upaya berekspresi melalui tulisan.</p>
<p>Kita tahu, memotret itu gampang. Menulis itu (sangat) sulit. Untuk yang terakhir ini saya sering bertanya-tanya, itukah penyebab mengapa di pelbagai media sosial yang menyediakan ruang ekspresi tanpa batas,  termasuk di Facebook atau blog, banyak orang justru mendiskon habis-habisan kapasitas intelektualitasnya ketika tampil di media berskala global ini ?</p>
<p>Mengapa media dahsyat ini tidak mereka gunakan untuk mengasah gergaji, guna memperkaya atau mempertajam karunia Tuhan yang amat demokratis, yaitu benda abu-abu misterius yang ada di antara kedua telinga kita ? Boleh jadi memang benar kata mutiara ini : <em>genius has its limitations, but stupidity knows no bounds</em>. Jenius  memiliki keterbatasan, sementara  kebodohan itu tidak ada batasnya.</p>
<p>Keheranan saya di atas mungkin berlebihan. Adalah seorang <a href="”">Richard Jalichandra</a>, CEO Technorati, suatu situs yang mendata ratusan juta artikel yang muncul di blog seluruh dunia, telah membedakan kadar keseriusan antara isi blog dengan isi <em>posting</em> dalam situs MySpace atau Facebook.</p>
<p>Katanya, “<em>Typically what you find with MySpace and Facebook is that there isn&#8217;t a lot of serious blogging. People are just making one or two sentence proclamations and not writing [in-depth] about a subject matter</em>.”</p>
<p>Terima kasih, Richard.</p>
<p>Di media maya, siapa saja memang bebas berekspresi sesuai dengan selera masing-masing. Boleh serius, boleh juga tidak serius. Termasuk egaliter untuk berbuat kesalahan. Empat belas tahun lalu majalah TIME telah menyajikan edisi khusus Welcome to Cyberspace (5/1995). Salah seorang wartawannya, Philip Elmer-DeWitt ketika menulis artikel pembuka, antara lain mengatakan :</p>
<p>“Dilucuti dari pelbagai jeratan eksternal seperti kekayaan, kekuasaan, kecantikan dan status sosial, seseorang cenderung dinilai kehadirannya di dunia maya Internet hanya berdasarkan ide-ide dan kemampuan untuk menjelaskannya dalam prosa yang bernas dan bergairah.”</p>
<p>Mark Zuckerberg, saya kutip di awal tulisan ini,  yang belum genap 30 tahun telah memberi kita teladan. Ia memilih untuk tampil secara serius. Bahkan cemerlang. Apakah para pemimpin kita atau bahkan kita sendiri, mau mengikutinya atau tidak, terserah kepada diri  masing-masing.</p>
<p>Wonogiri, 8-9/3/2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2009/03/15/facebook-blog-dan-otak-yang-mubazir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bambang Haryanto: Ketika Blogger Bertasbih</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2009/03/03/bambang-haryanto-ketika-blogger-bertasbih/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2009/03/03/bambang-haryanto-ketika-blogger-bertasbih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 10:19:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Haryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[buku harian]]></category>
		<category><![CDATA[diari]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[tasbih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/?p=534</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Ayo ngeBlog! Ini adalah tulisan terakhir mas BH di Ayo ngeBlog! sebagai blogger tamu.. Mulai dari postingan ini, mas BH sudah resmi ditransfer sebagai kontributor rutin Ayo ngeBlog! (hehe, kaya pemain bola aja).. Tulisan-tulisan mas BH sebelumnya akan diubah authornya dari saya menjadi mas BH sendiri.. Oh iya, sekarang teman-teman bisa tahu postingan-postingan apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengantar Ayo ngeBlog!</strong></p>
<p>Ini adalah tulisan terakhir mas BH di Ayo ngeBlog! sebagai blogger tamu.. Mulai dari postingan ini, mas BH sudah resmi ditransfer sebagai kontributor rutin Ayo ngeBlog! (hehe, kaya pemain bola aja).. Tulisan-tulisan mas BH sebelumnya akan diubah authornya dari saya menjadi mas BH sendiri..</p>
<p>Oh iya, sekarang teman-teman bisa tahu postingan-postingan apa aja yang udah ditulis oleh masing-masing kontributor di sidebar.. Jadi gampang tahunya, masing-masing kita udah nulis apa aja.. Makasih buat mas BH  atas masukannya ini..</p>
<p>Dan apresiasi sedalam-dalamnya harus kita sampaikan kepada mas BH atas perhatiannya untuk Ayo ngeBlog! dan perkembangan <em>blog </em>di Indonesia, ditunjukkan atas banyak postingannya selama ini..</p>
<p>Dan inilah tulisan mas BH terbaru:  Ketika Blogger Bertasbih<span id="more-534"></span></p>
<p><strong>Kehilangan separo jiwa.</strong> “Kata <em>IBM ThinkPad</em> yang tercetak di kardus pembungkus laptop merupakan terjemahan dari perintah <em>Curilah Saya</em> dalam 43 bahasa !” Itulah kata-kata Jim Bartlett dari IBM ketika mengomentari ancaman pencurian komputer jinjing di perusahaannya.</p>
<p>Peringatan yang ditulis Alan S. Kay dalam artikelnya “Laptop Larceny” di majalah Mobile Office (8/1996), kiranya juga patut dicamkan oleh pemakai laptop yang sering melakukan perjalanan. “Ketika pelaku perjalanan bisnis kecurian laptopnya,” tegas Kevin Cofey, polisi khusus menangani pencurian komputer di Los Angeles,  “dirinya kehilangan segalanya : laptop, planner, informasi rahasia baik pribadi atau perusahaan, yang tersimpan di dalamnya. Suatu kehilangan yang meluluhlantakkan. Tidak saja bagi dirinya pribadi tetapi juga bagi perusahaan.”</p>
<p>Saya sendiri belum pernah mengalami bencana seperti itu. Saya tidak punya laptop saat ini. Laptop kuno saya, Fujitsu FMV-Biblo 5120 NU2/W, lebih baik berfungsi sebagai sarana olahraga <em>hiking</em> ketimbang sarana <em>thinking</em>. Ia lebih bermanfaat untuk menguatkan tubuh dan punggung ketika dipakai jalan. Karena rusak, ia saya berikan kepada Tika (Solo). Asal ia mau memperbaiki, silakan memakainya. Syukurlah, benda berat itu kini bisa terpakai.</p>
<p>Kehilangan laptop adalah kehilangan separo jiwa. Di seberang toko buku Borders, di tiang listrik trotoar Orchard Road, Singapura, saya menemukan tempelan selebaran. Isinya tentang berita kehilangan laptop. “Yang menemukan harap segera mengontak saya. Kalau tidak, ayah saya akan membunuh diri saya,” pintanya setengah putus asa.</p>
<p>Harian Kompas pernah juga mewartakan seorang pegiat LSM yang begitu meratapi kehilangan perkakas kerjanya yang satu ini. Saya merasa bisa merasakan bencana kehilangan itu ketika flash disk (FD) saya tiba-tiba tidak berfungsi dan harus merelakan segala data di dalamnya untuk hilang selamanya.</p>
<p><strong>Kenangan musnah.</strong> Pengalaman memang benar-benar guru yang  maha kejam. Ia memberi kita ujian terlebih dahulu dan sesudahnya kita harus mau belajar darinya. Padahal data yang ada di dalam FD saya itu, kurang dari 120-an MB, tentu saja relatif tidak banyak.  Tetapi isi dan kenangan yang tersimpan di dalamnya tiba-tiba harus musnah, sungguh sebuah bencana yang tak terperikan.</p>
<p>Mungkin ini hanya bumbu sentimentil : FD ini hadiah dari Niz. Ia  jauh-jauh terbang dari London, untuk bertemu dan termasuk memberi stik penyimpan data itu. Ada puluhan foto hasil jepretannya, termasuk panorama lingkungannya yang memutih ketika tersiram dalam lautan salju.  Juga foto-foto mengenai matahari tenggelam yang ia bidik dari jendela kamarnya.</p>
<p>Kehilangan data itu, tentu saja, memberikan hikmah. Juga mengilhami munculnya solusi : milikilah <em>back up</em>.  Solusi ini memang cocok untuk dokumen berbentuk digital, tetapi bagaimana untuk dokumen berbasis atom atau kertas ? Harus difotokopi ? Solusi satu ini terasa ganjil bagi saya. Utamanya bagi dokumen yang berupa buku harian.</p>
<p>Sebelum era blog atau jurnal di Internet hadir, ketika pertama kali tinggal di Jakarta, 1980, saya memiliki buku harian. Sebagai orang baru di kota besar, juga berpembawaan introvert, buku harian merupakan sarana untuk berlindung dan bertahan. Barangkali bisa disebut sebagai aksi <em>cocooning</em>, meminjam istilah dari futuris Faith Popcorn. Yaitu meringkuk dalam kepompong agar aman, jiwa pun merasa bisa stabil, untuk merasakan oasis kedamaian yang berada dalam relung hati yang terdalam.</p>
<p>Ketika waktu berlalu, apa manfaat dari buku-buku harian itu ? Aktris bomb sex masa lalu, Mae West (1892-1980), punya nasehat cerah tentang buku harian. Katanya,  tulis dan simpan buku harianmu  karena ia suatu hari akan menjagamu. Pendapat mengenai buku harian lainnya dapat dikutip dari Oscar Wilde (1854-1900), dramawan dan penyair Inggris-Irlandia. Ia katakan,  dirinya tak pernah melakukan perjalanan tanpa ditemani buku hariannya. Katanya, seseorang harus ditemani sesuatu yang sensasional untuk dibaca ketika dalam perjalanan naik kereta api. Bagus juga, daripada beli majalah atau koran.</p>
<p>Buku harian itu bisa “hidup” kembali ketika tiba-tiba masa lalu, baik kenangan atau pelakunya, tiba-tiba muncul kembali.Karena dengan memiliki buku harian, masa lalu bukan lagi berupa gumpalan-gumpalan himpunan waktu yang hanya pantas diberi label tahun ini atau tahun itu. Melainkan waktu yang disebut hari demi hari itu memiliki detail, warna, tekstur, nuansa sampai hikmah, sehingga betapa waktu yang berjalan tidaklah terbang begitu saja secara percuma. Dengan buku harian, hari yang lewat tidak identik dengan bulir-bulir tasbih atau rosario yang seragam.  Setiap hari menjadi unik layaknya seperti sidik jari.</p>
<p>Termasuk uniknya masa lalu tentang hal-hal yang tidak enak, tidak membahagiakan, yang ketika ditengok kemudian sebenarnya juga tak kalah memberikan makna, juga keindahan. Adalah pengarang dan sutradara yang memberi kita film indah Sleepless in Seattle (1993), Nora Ephron, yang mengatakan bahwa tragedi ditambah waktu adalah komedi. Melihat masa lalu membuka peluang bagi kita untuk mampu menertawakan kekurangan diri kita sendiri. Itulah tanda kedewasaan, juga kewarasan.</p>
<p>Tetapi saya juga tahu, banyak orang yang tidak mampu menertawakan kekurangan dirinya di masa lalu.  Juga kekurangannya saat ini. <em>Jaim</em>. Dirinya tidak berani menampakkan sisi-sisinya yang rawan. Pribadi yang mungkin hadir tanpa cela, menjaga citra, halus bagai porselen, tetapi tidak alami dan membosankan.</p>
<p>Perilaku <em>jaim</em> itu di masa depan, amit-amit, juga mampu membunuh bisnis dan perusahaan. Simaklah cerita mengenai  jurus <em>co-creation</em> yang pernah dibahas dalam tajuk New Wave Marketing di Kompas (9-10/11/08) oleh Hermawan Kartajaya.</p>
<p>Pakar <em>co-creation</em> James Cherkoff dan Johnnie Moore dalam manifestonya mengatakan bahwa perusahaan masa depan harus berani menunjukkan kekurangan, kesalahan, kesemrawutan dan perilaku minus lainnya yang manusiawi untuk meraih kepercayaan bagi konsumen untuk bekerjasama.  <em>”Smart customers, and the proliferation of online networking, mean that it’s harder and harder to run your business as a black box…Black box create suspicion and frustation,”</em> tandas mereka.</p>
<p><strong>Bukan hidup mekanistis.</strong> Kembali ke masalah buku harian, saya kini sedang dilanda frustrasi. Buku harian saya tahun 1993, 1994 (“ada cerita tentang Delta”), 1995, 1996 dan 1997, sebagian telah dimakan rayap (<em>termite</em>). Benar-benar Termite Sang Terminator. Rupanya rayap bekerja dalam kelembaban. Ia menempelkan tanah-tanah basah ke benda sasaran. Selain memakan kertasnya, kelembaban juga itu membuat tulisan tinta saya (walau merk Parker sekali pun) menjadi memudar.</p>
<p>Apakah bencana semacam ini patut disesali ? Apa sebaiknya buku harian itu disimpan dalam bentuk CD ? Atau sebaiknya bencana itu menjadi bahan humor atau olok-olokan ? Misalnya, sebagai seorang bujangan, siapa sih kira-kira yang akan tertarik membaca-baca isi buku harian itu kelak ?  Sepertinya kok tidak ada. Isi buku harian saya jauh dari kaya dan dalam seperti buku harian karya Soe Hok Gie atau Ahmad Wahib. Barangkali kalau saya mempunyai anak dan cucu, boleh jadi buku harian itu ada gunanya bagi mereka.</p>
<p>Baiklah, buku-buku harian itu memang saya tulis bukan untuk masa depan. Bukan untuk tahun 2050 atau abad ke-22. Buku harian itu saya tulis untuk menampung curahan hati, pada saat itu pula. Tidak perduli orang lain. Kalau isi buku harian yang ditujukan agar mampu berguna dan juga relevan pada saat ditulis, kini ada media yang ampuh untuk itu :  blog.</p>
<p>Syukurlah, sejak tahun 2003 saya telah menjalaninya. Sebagai blogger. Juga menikmatinya. Semoga juga Anda. Karena dengan mengelola blog, ibarat Anda melakukan aktivitas bertasbih, mensyukuri nikmat hidup yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa, hari demi hari. Tetapi bukan menjalani hari-hari hidup yang mekanistis, yang selalu sama antara hari satu dengan hari yang lainnya. Betapa membosankan dan betapa tidak berguna bila isi buku harian atau blog Anda hanya berupa <em>copy/paste</em> isi sebelumnya. Seperti saya sebut sebelumnya, dengan mengelola blog kita mampu membuat setiap hari hidup kita menjadi seunik sidik jari.</p>
<p><strong>Epilog.</strong>. Ada sebuah fabel : konon seekor babi mengeluh. Ia merasa mendapat perlakuan yang tidak adil dibandingkan seekor sapi. “Apa kurangnya pengorbanan saya ? Saya harus mati dulu agar daging saya bisa dijadikan sebagai <em>ham</em>, sementara sapi lebih mendapat nama harum dengan memberikan susunya. Bahkan telur ayam goreng pun juga dinamai sebagai mata sapi.”</p>
<p>Seorang bijak mendekati si babi yang sedang menggerutu itu. Katanya, “itulah pahala bagi mereka yang mampu memberikan sesuatu dari dirinya kepada orang lain, semasa dirinya masih hidup.”</p>
<p>Wonogiri, 20-21 Februari 2009</p>
<p><strong>Bambang Haryanto</strong>, blogger kampung yang  tinggal di Wonogiri. Ngeblog sejak 2003. Salah satu blognya  <a href="http://esaiei.blogspot.com/">Esai Epistoholica</a> diundang untuk tercatat dalam direktori blog berkelas, <a href="http://www.blogged.com/blogs/esai-epistoholica.html/">Blogged.com</a>, yang bermarkas di Alhambra, California, AS.</p>
<p>Memenangkan <a href="http://esaiei.blogspot.com/2004/12/mandom-resolution-award-2004-1.html/">Mandom Resolution Award 2004</a> dengan mengusung   tesis manfaat blog untuk pemberdayaan komunitas kaum epistoholik atau pencandu penulisan surat pembaca  sebagai salah satu pilar penegakan kehidupan berdemokrasi di Indonesia</p>
<p>PS : Ada foto diaryku yang dimakan rayap, dalam attachment, mohon ditempatkan di tempat sesuai. Kalau balas, via yahoo ya. Thanks.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2009/03/03/bambang-haryanto-ketika-blogger-bertasbih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bambang Haryanto: Blogger, Sang Katalisator</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2009/02/05/bambang-haryanto-blogger-sang-katalisator/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2009/02/05/bambang-haryanto-blogger-sang-katalisator/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 03:17:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Haryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Kiriman]]></category>
		<category><![CDATA[katalisator]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/?p=517</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Ayo ngeBlog! Sudah sekian lama saya meyakini bahwa blog itu bisa mengubah dunia. Itulah mengapa saya gemar mempromosikan ke teman-teman saya supaya segera pada jadi blogger. Efek dari aktivitas ngeBlog kita seringkali nggak terbayangkan, bener-bener di luar dugaan, bahwa lewat blog, kita bisa memberi manfaat bagi orang lain lewat cara yang nggak diduga-duga. Selain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengantar Ayo ngeBlog!</strong></p>
<p>Sudah sekian lama saya meyakini bahwa <em>blog </em>itu bisa mengubah dunia. Itulah mengapa saya gemar mempromosikan ke teman-teman saya supaya segera pada jadi blogger. Efek dari aktivitas ngeBlog kita seringkali nggak terbayangkan, bener-bener di luar dugaan, bahwa lewat <em>blog</em>, kita bisa memberi manfaat bagi orang lain lewat cara yang nggak diduga-duga. Selain juga lewat <em>blog</em>, kita sendiri bisa mengalami <a href="http://www.ayongeblog.com/category/pengalaman-ayongeblog/">pengalaman-pengalaman yang menakjubkan</a>.</p>
<p>Di tulisan ini, Mas BH menceritakan pengalamannya bahwa <em>blog </em>kita bisa menjadi katalis atau pemicu berbagai kebaikan. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menginspirasi kita untuk terus menjadi penyebar kebaikan lewat <em>blog</em> kita sendiri.</p>
<p><em>Ini adalah tulisan dari blogger tamu Ayo ngeBlog!: <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview ('/outbound/esaiei.blogspot.com');" href="http://esaiei.blogspot.com/">Bambang Haryanto.</a> Ingin mengirim artikel ke Ayo ngeBlog? kirim saja ke ilmanakbar[at]gmail.com</em></p>
<p><span id="more-517"></span></p>
<p><strong>Blogger, Sang Katalisator, o</strong>leh : Bambang Haryanto</p>
<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_vW3ZUo5HOEw/SYZwqbmAmTI/AAAAAAAAAAk/VT3Fc67PJNk/s1600-h/pintrah120.JPG"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298045885911963954" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 121px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_vW3ZUo5HOEw/SYZwqbmAmTI/AAAAAAAAAAk/VT3Fc67PJNk/s320/pintrah120.JPG" border="0" alt="" /></a><strong>Link like crazy.</strong> Perang pendapat meletus tentang blog. Pelakunya bukan pakar telematika yang sering merangkap sebagai pakar pornomatika itu. Tetapi menyangkut nama B.L. Ochman, Warren Kinsella dan  Jay Rosen. Anda sudah mengenal mereka ? Dua nama pertama itu berbeda pendapat dengan nama ketiga mengenai ngeblog. Utamanya menyangkut masalah :  tulisan di blog itu sebaiknya pendek atau panjang ?</p>
<p>B.L. Ochman, seorang blogger dan <em>corporate blog strategist</em> dalam artikelnya yang berjudul menarik dan provokatif, <a>How to Write Killer Blog Posts and More Compelling Comments</a> menyarankan agar tulisan di blog itu pendek-pendek saja. Setiap posting sekitar 250 kata.  Tips lainnya, juga bernas. Seperti paragraf yang pendek. Juga, jangan matikan selera humor Anda.</p>
<p>Sementara itu Jay Rosen, profesor jurnalistik dari Universitas New York dan pengelola blog PressThink.org berpendapat sebaliknya. Ketika tampil sebagai pembicara dalam konferensi Exploring the Fusion Power of Public and Participatory Journalism (2004), seperti dilaporkan Leonard Witt, pelopor gerakan <a href="http://www.journalism.co.uk/5/articles/533125.php/">representative journalism</a> dengan judul <a>Blogging Advice from Jay Rosen: Be Complex</a> ia berpendapat,  bahwa “gaya” ngeblognya  komplek, panjang, dalam dan kaya nuansa.</p>
<p>David Akin, moderator konferensi itu, sebelumnya memberikan info menarik : gaya postingan blog Jay Rosen yang panjang dikatakan menular. Karena para pembacanya kemudian menulis komentar yang juga panjang-panjang. “Kunjungi blog dia dan dalam waktu satu setengah jam kemudian Anda masih saja terus membaca, dan berpikir, sehingga tidak salah bila Jay Rosen memberi nama blognya sebagai PressThink,” lanjut David Akin. Bahkan Jay Rosen berpendapat,  ia menganggap para pembaca blognya  menginginkan sesuatu yang dapat mengebor batok kepala mereka.</p>
<p>Jay Rosen, bagi saya, benar adanya. Isi kepala ini yang dibor oleh pemikiran-pemikiran Rosen mengenai kedahsyatan media-media baru, utamanya blog, sungguh mencerahkan. Memabukkan. Dalam artikel yang dimuat di situs organisasi Wartawan Tanpa Tapal Batas, berjudul <a href="http://www.rsf.org/article.php3?id_article=15008/">Now I can write what I think</a>, ia katakan bahwa menulis blog itu harus pendek-pendek karena orang tidak punya waktu, sebagai tidak beralasan. “Saya tidak mempercayainya,” tegasnya.</p>
<p>“Alasan dan nasehat itu semata-mata menghambat kebebasan saya untuk menulis segala apa yang saya pikirkan. Karena ide dasar meluncurkan blog PressThink saya adalah pembebasan. <em>Wow</em>, sekarang saya memiliki majalah saya sendiri. Saya mampu menulis segala apa saja yang saya fikirkan !,” seru Jay Rosen.</p>
<p>Tipikal postingan blog dia adalah esai yang panjangnya antara 1.500 sampai 2.500 kata. Kalau B.L. Ochman punya nasehat bagi para blogger agar dalam setiap posting menyertakan banyak sekali tautan, <em>link like crazy</em>,  formula itu juga berlaku bagi Jay Rosen. Ada sekitar 20-30 <em>hyperlink</em> dalam tiap esainya.</p>
<p><strong>Menggali terowongan</strong>. Rumus Rosen, bukan  Ochman, yang kemudian lebih suka saya ikuti selama ini. Karena kesenangan. Menulis blog secara relatif panjang-panjang itu, bagi saya, ibarat melakukan aksi petualangan seperti tokoh Alice dalam bukunya Lewis Carrol (1832–1898), Alice&#8217;s Adventures in Wonderland.</p>
<p>“<em>Curiouser and curiouser !,</em>” seru Alice dalam salah satu aksinya. Rasa ingin tahu, rasa penasaran seperti Alice itu, memandu saya. Baik dalam menemukan gagasan, mengumpulkan rujukan, dan juga ketika sedang menuliskannya. Anda sebagai blogger tentu tidak asing dengan hal seperti ini.</p>
<p>Menulis, bagi saya, seperti melakukan perjalanan di bawah tanah. Menggali terowongan. Kalau menulis untuk media cetak, baik surat pembaca atau artikel, memang harus tahu diri. Ada pembatasan kolom, misalnya. Tetapi menulis untuk blog diri sendiri ? Petualangan !</p>
<p>Dalam bertualang itu kita dapat melewati terowongan yang telah ada. Mengikuti topik atau alur pikiran tulisan orang lain sebelumnya. Atau melakukan aksi menggali terowongan-terowongan yang baru dalam kegelapan. Menyambungkan terowongan yang satu ke terowongan lainnya.</p>
<p>Meminjam larik puisinya Robert Frost(1874–1963), “<em>Two roads diverged in a wood, and I—I took the one less travelled by, And that has made all the difference</em>,” maka momen yang membahagiakan muncul, sekaligus membebaskan, ketika menelusuri terowongan gelap baru yang belum pernah ditempuh oleh orang lain. Kita memperoleh pengalaman baru. Termasuk ketika terowongan baru itu akhirnya bisa tembus dan terjalin dengan terowongan lain yang entah berapa tahun lalu, pernah kita jelajahi sebelumnya.</p>
<p>Momen ekshilarasi seperti itu, tak ayal membuat seorang novelis Perancis, Stendhal (1783–1842), mengeluarkan ujaran : mereka yang mampu menikmati aktivitas menulis secara mendalam, membuat aktivitas membaca tak lebih hanya sebagai kesenangan yang kedua.</p>
<p>Menulis relatif lebih panjang itu prosesnya bermiripan dengan pengalaman ketika melakukan <a href="http://wonogirinews24.blogspot.com/">olah raga jalan kaki </a> di pagi hari. Ketika baru menempuh 1-2 km, Anda akan merasa biasa-biasa saja. Tetapi melewati ambang tertentu, 3-4 km, tubuh akan mengeluarkan <em>endorphin</em>, morfin alami dari tubuh kita, yang membuat badan merasa nyaman, segar, fikiran pun diliputi keheningan dalam keceriaan.</p>
<p>Dalam blog, jalinan pelbagai terowongan itu bisa berwujud dalam <em>hyperlink</em>, sesuatu mukjijat yang mustahil ditemui pada media berbasis atom/kertas, baik buku atau koran. Atau penyebutan nama-nama pelaku cerita. Memang tidak sedikit para blogger senantiasa berpendekatan <em>me, me, and me</em>, mementingkan diri sendiri.</p>
<p>Tetapi hemat saya blog akan lebih bisa berguna bila dirancang dengan sikap mental yang berkelimpahan. Memang itu ciri media berbasis digital ini. Apalagi  semakin banyak  nama, peristiwa atau tokoh yang disebut, blog bersangkutan akan berpeluang semakin <em>visible</em>, semakin menonjol, bukan ? Bukankah itu manfat pula dari pengadaan fasilitas <em>tag</em> yang utama ?</p>
<p><strong>Orang Kampung di BBC.</strong> Blog adalah senjata andalan gerakan jurnalisme warga. Lebih detilnya, silakan tanya saja kepada dedengkotnya, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dan_Gillmor/">Dan Gillmor</a>, mantan wartawan berpengaruh dari San Jose Mercury News.  Ia pernah bersama satu meja dengan Jay Rosen dalam acara konferensi A Wake Up Call : Can Trust and Quality Save Journalism (2005) di San Antonio, AS. Saat itu Jay Rosen berkata bahwa salah satu peluang bagi para pelaku jurnalisme warga adalah sebagai sumber. Sumber rujukan. Sumber berita.</p>
<p>Sebagai blogger, tanggal 14 Oktober 2007, saya merasakan kemewahan sebagai sumber berita itu. Wartawan Donny Maulana mendaulat saya untuk menjadi nara sumber dalam  acara Seni dan Budaya di Radio BBC Siaran Indonesia. Topiknya mengenai langkanya klub komedi sebagai kawah penggemblengan komedian-komedian solo, tunggal, <em>stand-up comedian</em> yang cerdas, demi kemajuan masa depan komedi Indonesia.</p>
<p>Sebagai orang kampung, yang tinggal di Wonogiri, kesempatan bisa ngobrol di corong BBC seperti ini sungguh tak terbayangkan. Blog saya <a href="http://komedian.blogspot.com/">Komedikus Erektus</a> yang membuat hal istimewa itu terjadi. Peristiwa lainnya : sebagai inisiator komunitas penulis surat pembaca se-Indonesia, di bawah payung <a href="http://episto.blogspot.com/">Epistoholik Indonesia</a>, gara-gara meluncurkan blog pula yang membuat nama saya bisa ditemukan oleh  wartawan A. Bimo Wijoseno dari majalah Intisari.</p>
<p>Ia kemudian menuliskan profil dan visi-misi komunitas Epistoholik Indonesia saya di Intisari (Juli/2004), bersanding dengan Bapak Gandhi Sukardi, yang juga aktivis penulis surat pembaca asal Jakarta. Ia adalah ayah dari politikus Laksamana Sukardi, yang kini  berkampanye sebagai calon presiden di Pilpres 2009 mendatang. Peristiwa serupa adalah ketika profil keluarga besar, atau <a href="http://trah.blogspot.com/">trah</a> saya muncul di Harian Solopos (5/7/2007), yang kemudian dijadikan sebagai memorabilia, berupa pin (foto).</p>
<p>Blog juga mampu menjangkau hal jual-beli jeruk bali, <em>citrus grandis</em>, asal Pati. Terkesan dengan perjuangan Pak Sukir, petani pionir <a href="http://jerukbalimadu.blogspot.com/">jeruk bali madu</a>, saya telah tulis kisahnya di blog <a href="http://komedian.blogspot.com/2008/05/komedi-kita-budaya-hero-dan-selebritas.html/">Komedikus Erektus</a> saya.  Ibu Lanny, seorang pemasok buah-buahan asal Semarang, rupanya telah dipandu oleh Google untuk sampai ke postingan saya satu ini.</p>
<p>Ia lalu menelpon saya. Jadilah kemudian ia berbisnis buah jeruk bali madu dengan Pak Sukir di Pati. Jarak fisik antara Semarang-Pati sebenarnya lebih dekat dibanding jarak Semarang-Wonogiri. Tetapi Ibu Lanny “dipaksa” menempuh jarak kontak Semarang-Wonogiri, dan baru Semarang-Pati. Tak apa, semuanya dilakukan secara elektronik, dan jauh lebih murah adanya !</p>
<p>Kemampuan blog dalam memajang banyak data akan bermanfaat bagi banyak orang. Apalagi seperti diungkap Chris Anderson dalam bukunya <a href="http://www.amazon.com/Endless-Choice-Creating-Unlimited-Demand/dp/1844138518/ref=sr_1_3?ie=UTF8&#038;s=books&#038;qid=1234147451&#038;sr=1-3">The Long Tail : How Endless Choice Is Creating Unlimited Demand  (2006)</a>, sekarang ini data apa saja yang terpajang di dunia maya semakin mudah untuk ditemukan. Apalagi mesin pencari Google yang semakin hari semakin cerdas ketika semakin banyak data yang terhimpun dalam pangkalan datanya.</p>
<p>Merujuk kemampuan itu, jadikan blog Anda sebagai katalisator. Katalisator dalam ilmu kimia adalah zat, atau sebagai enzim, yang mampu mempercepat atau mempermudah reaksi kimia tanpa dirinya terpengaruh oleh reaksi yang terjadi. Atau dalam bahasa <a href="http://gladwell.typepad.com/">Malcolm Gladwell</a> dalam bukunya The Tipping Point (2000), jadikan atau mampukan juga blog Anda sebagai <em>connector</em>, penghubung. Ada pengalaman kecil saya tentang hal satu ini, tentang festival musik keroncong.</p>
<p><strong>Keroncong Mandarin.</strong> “Lagu Bengawan Solo karya maestro keroncong asal Solo, Gesang Martohartono, dinyanyikan dalam irama keroncong, itu  biasa. Namun kalau Bengawan Solo dinyanyikan dalam irama keroncong dengan iringan musik tradisional China, itu tidak biasa.  Inilah yang ditampilkan Harmony Chinese Music Group Bandung pada Festival Keroncong Internasional 2008 atau International Keroncong Festival 2008, di Solo, Jawa Tengah, Kamis (4/12) malam.”</p>
<p>Itulah awal berita di Harian Kompas (12/12/2008).   Kelompok musik Harmony Chinese Music Group asal Bandung itu bisa ikut pentas di Solo gara-gara blog juga. Manajernya, Andrey Harmony, mengirim email kepada saya. Kami tidak saling mengenal. Andrey Harmony ingin mengetahui alamat email atau telepon dari Phedet Wijaya, ketua panitia festival keroncong tersebut.</p>
<p>Pedhet Wijaya adalah tokoh radio di Solo. Ia sebelumnya lama berkiprah di radio  Bandung. Saat  awal 2007 itu ia  sempat  berkontak email dengan saya gara-gara isi surat pembaca saya di harian Kompas Jawa Tengah yang memprotes kadar profesionalitas radio Karavan FM Solo yang tidak konsisten dalam me-relai siaran BBC Siaran Indonesia.</p>
<p>Dari postingan saya di blog <a href="http://esaiei.blogspot.com/2007/02/geliat-gincu-koran-radio-dan-lame.html/">Esai Epistoholica</a> itulah, kira-kira,  Andrey Harmony mengetahui hubungan saya dengan Pedhet Wijaya, juga data alamat email saya. Begitulah akhir ceritanya : kelompok keroncong uniknya Andrey Harmony itu bisa berpentas di Solo. Saya sempat usul kepada Phedet Wijaya agar kegiatan festivalnya itu dibuatkan blog. Email saya itu tidak memperoleh jawaban.</p>
<p>Pengalaman unik ketika blog saya kembali sebagai penghubung, terjadi akhir Januari 2009. Pagi-pagi (25/1/2009) saya memperoleh telepon dari Feby Kumalasari, dari Surabaya Plaza Hotel. Saya tidak mengenalnya. Ia meminta informasi mengenai aktivis LSM yang bergerak dalam advokasi atau kampanye memerangi ancaman bahaya merokok. Hotelnya memutuskan hendak melarang pengunjung untuk merokok dan akan mengadakan kegiatan sosialisasi berupa seminar.</p>
<p>Oh, gumam saya, ternyata blog saya <a href="http://bubar.blogspot.com/">B.U.B.A.R. : Bebaskan Udara Bebas Asap Rokok</a> yang terbengkalai  lama itu pun masih bisa bermanfaat. Walau sebenarnya saya tidak tahu mengapa Feby mengontak saya. Mengapa bukan kepada beberapa alamat lain, yang dengan bantuan Google rasanya lebih relevan sebagai sumber rujukan tentang kampanye anti rokok itu dibandingkan wong Wonogiri satu ini ?</p>
<p>Terima kasih, Feby. Dengan bantuan Google juga, dengan fasilitas Internet di <a href="http://perpustakaanwonogiri.blogspot.com/">Perpustakaan Daerah Wonogiri</a> (“terima kasih untuk Pak Sarjito dan mBak Dewi Werdiningsih”) saya berusaha membantu Feby Kumalasari. Akhirnya saya berusaha hubungkan ia untuk mengontak Dr. Widjajanti dari Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3) Jakarta.</p>
<p>Sekadar nostalgia, tahun 2002 saya pernah main ke kantor LM3 ini. Sesudahnya, di tahun 2004, beberapa kali bertukar email dengan dr. Didy Purwanto, saat itu Sekretaris  Umum LM3. Beberapa gagasan (menurut saya) inovatif untuk mendukung kampanye lembaga ini, antara lain sebagai “kantor berita bahaya merokok” dengan menyebar informasi rutin ke pelbagai sekolah, sayangnya tidak memperoleh sambutan yang berlanjut untuk direalisasikan.</p>
<p>Kantor LM3 berada di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Saat itu saya memperoleh kaos berslogan kampanye berhenti merokok, “Quit to Win 2002” dan saya kenakan saat menjadi bintang untuk film dokumentasi Honda The Power of Dreams Documentary. Film ini telah  ditayangkan selama satu jam di TransTV, 29 Juni 2002. Kaos itu  juga saya kenakan ketika jadi bintang di acara Bussett-nya TV7 (2005). Di kaos itu ada pula pesan dan tanda tangan reporternya yang menawan : Erika Diana Rizanti.</p>
<p>Anda, para blogger, juga mampu sebagai bintang. Menurut pakar <a>ekonomi atensi</a> Michael H. Goldhaber, dengan blog kita mampu menjadi bintang. Sebutannya : <em>microstar</em>. Walau pun kecil, menurut saya, bila blog tersebut Anda rancang sebagai <em>connector</em> atau katalisator, maka yakinlah bila sinarnya akan mampu menerangi mereka yang membutuhkannya. Pada saat yang benar-benar tepat adanya.</p>
<p>Saya yakin, pengalaman seperti ini saya tidak mengalaminya sendiri ! ***</p>
<p><strong>Bambang Haryanto</strong>, blogger kampung yang  tinggal di Wonogiri. Ngeblog sejak 2003. Salah satu blognya  <a href="http://esaiei.blogspot.com/">Esai Epistoholica</a> diundang untuk tercatat dalam direktori blog berkelas, <a href="http://www.blogged.com/blogs/esai-epistoholica.html/">Blogged.com</a>, yang bermarkas di Alhambra, California, AS.</p>
<p>Memenangkan <a href="http://esaiei.blogspot.com/2004/12/mandom-resolution-award-2004-1.html/">Mandom Resolution Award 2004</a> dengan mengusung   tesis manfaat blog untuk pemberdayaan komunitas kaum epistoholik atau pencandu penulisan surat pembaca  sebagai salah satu pilar penegakan kehidupan berdemokrasi di Indonesia</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2009/02/05/bambang-haryanto-blogger-sang-katalisator/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bambang Haryanto: Blogituari</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2008/12/22/bambang-haryanto-blogituari/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2008/12/22/bambang-haryanto-blogituari/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 01:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Haryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[bambang haryanto]]></category>
		<category><![CDATA[bh]]></category>
		<category><![CDATA[blogituari]]></category>
		<category><![CDATA[obituari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Ayo ngeBlog! Siapa di antara kita yang pernah terpikir untuk menggunakan blog sebagai obituari, untuk mengumumkan wafatnya seseorang yang kita cintai? 3 tahun lalu, tepatnya tanggal 20 Desember 2005, seorang yang Mas Bambang Haryanto cintai, meninggal dunia. Widhiana Laneza, atau Anez, saya mengenalnya sebagai mahasiswa Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia dan D-3 Bahasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengantar Ayo ngeBlog!</strong></p>
<p>Siapa di antara kita yang pernah terpikir untuk menggunakan <em>blog </em>sebagai obituari, untuk mengumumkan wafatnya seseorang yang kita cintai?</p>
<p>3 tahun lalu, tepatnya tanggal 20 Desember 2005, seorang yang Mas Bambang Haryanto cintai, meninggal dunia.</p>
<blockquote><p>Widhiana Laneza, atau Anez, saya mengenalnya sebagai mahasiswa Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia dan D-3 Bahasa Perancis pada fakultas yang sama. Wanita yang menawan dan mempesona. Saya menyukai dan jatuh cinta padanya. Walau jatuh cinta saya kandas, tetapi saya tetap mendaulatnya sebagai salah satu wanita terindah dalam hidup saya. Untuk mengenang Anez, kelahiran Brussels, 28 April, yang menghadap Illahi dalam momen yang mengejutkan 20 Desember 2005 di Denpasar, blog ini di buat. <a href="http://bukabeha.blogspot.com/">dari Buka Buka Beha</a></p></blockquote>
<p>Karena itulah, dia membuat sebuah blog yang berisi obituari untuk Anez. Simak tulisan kiriman Mas BH ini, yang menceritakan bagaimana sebuah obituari bisa abadi selamanya, lewat adanya blogituari.</p>
<p><span id="more-439"></span></p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_XXbVMWcys7s/SUpXlSaKSWI/AAAAAAAAAAU/eog4dUErz1Y/s1600-h/tawasatwa120.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281129811153668450" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 196px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_XXbVMWcys7s/SUpXlSaKSWI/AAAAAAAAAAU/eog4dUErz1Y/s320/tawasatwa120.JPG" border="0" alt="" /></a><strong>Tak ada mawar</strong>. “<em>When I am dead, my dearest, sing no sad songs for me </em>”. Itulah awal dari puisi yang ditulis Christina Georgina Rossetti (1830-1894), yang merupakan salah satu penyair wanita terpandang di Inggris. Ia menulis puisinya itu tiga puluh dua tahun sebelum meninggal dunia.</p>
<p>Christina lahir sebagai anak terkecil dari keluarga Gabriele Rossetti yang seniman, pendekar revolusioner dan intelektual, sekaligus pelarian politik dari Napoli, Italia. Saudaranya,  baik  Dante Gabriel Rossetti yang pelukis dan penyair atau William Michael Rossetti yang kritikus dan sastrawan, tak kalah terkenal sebagai kaum terpelajar yang terpandang saat itu pula.</p>
<p>“Bila ku mati, kekasihku. Jangan lantunkan lagu-lagu duka untukku. Jangan tanam mawar di lahatku. Atau pohon sipres sebagai perindang. Biarkan rumput hijau menyelimutiku. Yang terguyur hujan dan embun basah. Ingatlah aku. Lupakanlah aku.”</p>
<p>Christina Rossetti meninggal dunia di London, 29 Desember 1894. Seratus empat belas tahun lalu. Tetapi nama, dan terutama karya-karyanya abadi. <em> Ars longa, vita brevis</em>. Memanglah, hidup itu singkat, tetapi seni abadi.</p>
<p>“Ingatlah aku.”</p>
<p>Mungkin itu dambaan universal bagi sebagian besar manusia. Baik ketika dirinya masih hidup, atau pun ketika sudah meninggal dunia. Ada sebuah cerita, rada getir, mengenai  pesan “ingatlah aku” itu dalam sebuah surat wasiat.  Konon seorang nenek membuat heboh keluarganya. Pasalnya ia berpesan bila meninggal dunia kelak,  ia ingin jasadnya dikuburkan pada sebuah kompleks mall paling terkenal di kotanya.   Alasannya : agar dalam seminggu dirinya akan senantiasa ditengok sebanyak 3-4 kali oleh anak-anak dan cucunya !</p>
<p><strong>Bilah kemudi kecil.</strong> Keinginan yang manusiawi, keinginan untuk diingat itu, untuk tokoh atau seseorang tertentu terkadang diwujudkan dalam bentuk <em>epitaph</em>,  pesan yang terukir di nisan. Seperti pesan tokoh proklamator kita, Bung Karno, yang ingin dikenang sebagai penyambung lidah rakyat.</p>
<p>Bintang film Clark Gable ingin nisannya dituliskan kalimat “<em>back to silents</em>,” pengarang Ernest Hemingway (1899–1961) meminta tulisan, “maaf, saya tidak bisa bangun,” sementara pemenang hadiah Nobel Perdamaian Albert Schweitzer (1875–1965) ingin tulisan di nisan berbunyi : “Bila suku kanibal menangkapku/Saya harap mereka bilang, kami sudah memakan Dr. Schweitzer/Dan ia lezat sampai akhir…/Dan akhirnya tidaklah jelek adanya.”</p>
<p>Desainer dan arsitek besar R. Buckminster Fuller (1895–1983) seperti diungkap bukunya Stephen R. Covey, The 8 Habit (2006), ingin  pada pusaranya tergurat kalimat, “hanya bilah kemudi kecil.”  Luar biasa, seru Covey. Menurutnya, sebuah bilah kemudi kecil pada kapal atau pesawat adalah bilah kecil yang menggerakkan bilah besar yang digunakan untuk mengubah arah kapal.</p>
<p>Kisah mengenai pesan di nisan yang mengharukan dapat juga direguk dari tulisan  Bob Ross dalam bukunya Funny Business And The Art of Using Humor Constructively (1998. Ia bercerita mengenai seorang dokter yang dermawan. Ia menghabiskan hidupnya untuk membantu pengobatan warga miskin yang terpinggirkan. Ia sendiri tinggal di lantai atas sebuah toko kecil penjual minuman keras di lingkungan kumuh itu. Pada  bagian depan kedai itu terpampang papan nama, “Dr. William Ada Di Atas.”</p>
<p>Karena dokter itu tidak pernah meminta bayaran untuk pasien-pasien yang tidak mampu itu, akhirnya ia meninggal dunia dalam keadaan miskin pula. Ia tidak memiliki uang tersisa untuk pemakamannya, bahkan untuk membeli batu nisan sekali pun. Akhirnya ia dikebumikan tanpa tanda apa pun, sampai akhirnya seseorang warga menemukan ide brilyan.</p>
<p>Ia mengambil papan nama yang semula berada di toko minuman keras tadi, lalu memajang di makamnya, menghadirkan <em>epitaph</em> indah dan mengharukan sekaligus mencerminkan doa dan harapan banyak orang atas persemayaman abadi yang layak bagi sang dokter dermawan itu  : “Dr Williams Ada Di Atas.”</p>
<p><strong>Gunung bunga.</strong> Kenangan atau pengakuan terhadap jasa para tokoh besar yang meninggal dunia sering muncul dalam bentuk tulisan obituari di media-media massa. Kini berkat Internet, terutama blog, telah mampu mendemokratisasikan peluang untuk itu, yaitu kehadiran tulisan obituari oleh siapa saja dan untuk siapa saja. Obituari berbentuk blog itu saya sebut sebagai blogituari.  Ada cerita mengesankan tentang obituari yang ditulis dalam sebuah blog mengenai sosok <em>wong</em> Wonogiri.</p>
<p>“<em>He was the first professional dhalang to live and teach in the United States. He taught at Wesleyan University in the late 1960s and later at the American Society for Eastern Arts (ASEA) and a number of California universities.”</em> Begitulah potongan isi sebuah obituari yang yang ditulis seorang warga Inggris.  Penulisnya bernama  Matthew Isaac Cohen, profesor dari Royal Holloway, University of London.</p>
<p>Tulisan bertanggal 6 November 2008 itu ia gurat untuk mengenang guru dalang wayang kulitnya yang meninggal dunia 5 November 2008. Beliau itu bernama Bapak H. Oemartopo (1936-2008). Domisilinya di Kajen Wonogiri. Ketua RT kampung saya.</p>
<p>Tulisan Matthew Isaac Cohen itu kemudian memperkaya kenangan dan pengetahuan pribadi diri saya terhadap Bapak Oemartopo. Terentang sejak saya masih duduk di kelas 1 SMP Negeri 1 Wonogiri, 1967, sampai pertemuan terakhir, 19 Agustus 2008. Saat terakhir itu, sambil meminta tanda tangan beliau untuk surat mengurus perpanjangan KTP untuk KTP Nasional saya yang pertama, saya juga merekam video dengan kamera digital. Saya meminta pendapat beliau mengenai makna HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 63 bagi warga kampung kami dan warga Republik Indonesia.</p>
<p>Dalam obrolan  saya mencoba menyerap cerita beliau selama 12 tahun mengajar di AS dan 2 tahun di Hungaria. Saat itu sempat terlontar ucapan semacam nadar dari beliau, yang bila dikaruniai sehat berniat mengajak saya untuk mengikuti acara tahunan bertajuk World Music Workshop in Bali.  Untuk  ketemu antara lain dengan sobat-sobatnya, Dr. Robert E. Brown dari San Diego State University (AS) sampai Dr. Lewis Peterman, ahli musik Eropa dan pemain sitar Cina.</p>
<p>Dari arsip yang ditulis oleh Dr. Robert E. Brown  saya temukan kemudian data bahwa acara World Music Workshop in Bali 2005  yang juga diikuti oleh Pak Oemartopo saat itu, dilangsungkan di tempat yang disebut olehnya sebagai <em>Flower Mountain</em>, gunung bunga. Tepatnya di Payangan, Bali.</p>
<p>Tiga tahun kemudian, di  Rabu siang, 5 November 2008, saya memang bisa ikut mengantar Pak Oemartopo menuju <em>flower mountain</em> itu. Bukan di Payangan Bali, tetapi di Kajen, Wonogiri. Saya ikut menjadi saksi ketika di atas pusara almarhum  telah ditebarkan tanda cinta, tanda hormat, dan tanda belasungkawa oleh keluarga besar dan handai taulan yang mencintai beliau, sehingga akhirnya berwujud sebagai  gunung kecil penuh bunga. Selamat jalan, Pak Oemar.</p>
<p><strong>Catatan kemanusiaan.</strong> Catatan kenangan dan kesaksian tentang Pak Oemar kemudian memicu  saya untuk mewujudkannya dalam sebuah blogituari. Nama blognya : <a href="http://petrukdadiratu.blogspot.com/">Petruk Dadi Ratu</a>. Nama itu diilhami judul lakon wayang bernada jenaka yang diajarkan oleh Pak Oemar untuk Matthew Isaac Cohen di Wonogiri, sekitar dua puluh tahun yang lalu.</p>
<p>Blog tentang Pak Oemar itu bukan blogituari saya yang pertama. Dalam bentuk tulisan lepas, saya telah pula menuliskan beberapa kenangan untuk <a href="http://kajenku.blogspot.com/">tetangga</a> atau pun <a href="http://trah.blogspot.com/”&gt;kerabat&lt;/a&gt; yang telah mendahului dipanggil Tuhan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka-mereka itu orang biasa, sehingga jelas tidak terjangkau oleh liputan media massa. Tetapi karena setiap orang itu istimewa, alangkah bermaknanya  bagi kemanusiaan bila kehadirannya di dunia bisa untuk dicatat pula. Dilestarikan. Diwariskan. Bahkan sebenarnya, hemat saya, pencatatan itu merupakan tuntutan bagi sejarah kemanusiaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kevin Kelly, &lt;i&gt;guru&lt;/i&gt; ekonomi jaringan, pernah menvisikan agar semua buku di dunia itu di-&lt;i&gt;scan&lt;/i&gt; dan diterbitkan secara digital. Sehingga antara satu buku dan buku lainnya akan saling terkait, terhubungkan melalui &lt;i&gt;hyperlink&lt;/i&gt;, baik melalui catatan kaki atau pun daftar pustaka yang ada. “&lt;i&gt;The dream is an old one: to have in one place all knowledge, past and present. All books, all documents, all conceptual works, in all languages,&lt;/i&gt;” cetusnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kajian mengenai keterhubungan antardokumen ilmiah itu, disebut dengan &lt;i&gt;citation analysis&lt;/i&gt; yang kebetulan juga menjadi subjek skripsi saya di UI pada tahun 1980-an, dipelopori Eugene Garfield dari Institute of Scientific Information (ISI). Kemudian di era digital dikaji lanjutannya antara lain oleh mahasiswa Universitas Stanford bernama Larry Page dan Sergey Brin, yang kita kenal sebagai pendiri Google Inc, yang punya motto : &lt;i&gt;Don’t be evil.&lt;/i&gt; Kajiannya itulah yang dewasa ini memunculkan Page Rank,  sebuah algoritma yang berfungsi untuk menentukan situs web mana yang lebih penting atau populer.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terima kasih, Larry. Berkat Google pula, di antara milyaran umat manusia, saya baru tahu kemudian kalau diri saya di tahun 2005 tertakdir sebagai &lt;i&gt;satu-satunya&lt;/i&gt; orang di dunia yang mengabadikan nama seseorang, Widhiana Laneza, di dunia maya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Warisan yang tidak terkubur.&lt;/b&gt; Keterhubungan itu, tentu saja, juga vital untuk kita manusia. Suksesnya situs jaringan sosial seperti Facebook merupakan bukti manifestasi dambaan manusia sebagai makhluk sosial. Keterhubungan universal sebagai salah satu pergeseran seismik global yang terjadi dewasa ini ditandaskan pula oleh Stephen R. Covey dalam The 8 Habit (2006). Ia merujuk  buku Blown to Bits: How the New Economics of Information Transforms Strategy (2004) karya Philip Evans dan Thomas S. Wurster, yang menjelaskan betapa aliran informasi dan aliran barang dapat dipisahkan untuk pertama kalinya dalam sejarah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam konteks obrolan tentang blogituari, seseorang (= barang, maaf) boleh saja meninggal, tetapi warisannya (=informasi tentangnya) mampu untuk tidak ikut terkubur pula. Sebuah pesan singkat berikut ini cukup menarik untuk kita simak dan kita camkan : &lt;i&gt;Do u know abt d things which live after death? Heart-10 mins, brain-10 mins, eyes-31 mins, legs-4 hrs, skin-5 days, bones-30 days, LOVE – FOREVER&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak hanya cinta yang bisa abadi. Tulisan di blog juga bisa abadi. Dan mendunia. Berkat blog seorang guru dalang yang meninggal dunia dan  dimakamkan Wonogiri,  tetapi cerita tentangnya dapat terus hidup karena ditulis baik dari London, San Diego dan dari belahan dunia lainnya. Interaksi ini dimungkinkan berlangsung secara berantai dan  terus berkesinambungan. &lt;i&gt;Blogga (?) longa, vita brevis&lt;/i&gt;. Hidup itu singkat, tetapi isi blog abadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Internet kaya dengan kisah semacam itu. Termasuk yang menyapa saya secara pribadi, tiga tahun lalu.  Kejadian tidak terduga itu tepatnya terjadi pada tanggal 22 Desember 2005, hari Kamis, jam 9-an pagi, di Warnet Cosmic Wonogiri.   Saat itu saya menerima email berikut ini :&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt; Mas Bambang,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika saya ketik nama adik saya, Widhiana Laneza, google.com memberikan situs blog anda "></a><a href="http://bukabeha.blogspot.com/">Buka Buka Beha</a>&#8220;, dan saya melihat nama adik saya termasuk dalam <em>list</em> “wanita-wanita terindah” anda.</p>
<p>Saya hanya ingin memberi tahu bahwa adik saya telah berpulang ke pangkuan Allah SWT pada hari Selasa, tanggal 20 Desember 2005, 3 hari setelah pernikahannya.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Anto,</p>
<p>kakaknya Anez.</p>
<p>Sebuah kluster <a href="http://song4anez.blogspot.com/">blogituari</a> kemudian lahir. Untuk meneruskan catatan jejak sejarah dirinya yang kecintaan terhadap satwa kesayangannya mengilhami untuk menulis sebuah buku (foto). Termasuk untuk mencatat cerita “Furkhanda.” Ia seorang mahasiswi Arkeologi UI yang mengatakan berniat meneruskan topik skripsi yang ditulis Anez sekitar dua puluh tahun lalu, di tahun 2008 ini. Atau  tiga tahun sesudah dirinya berpulang ke pangkuan Allah.</p>
<p>Semoga blogituari sederhana itu mampu merekam segurat kenangan bagi seorang perempuan menawan, kelahiran Brussel yang tutup usia di Denpasar,  yang dengan meminjam lirik pembuka lagu “Little Wing”-nya Jimi Hendrix, kini “dirinya  telah berjalan menembus awan.”</p>
<p><strong>Bambang Haryanto</strong>, blogger kampung yang  tinggal di Wonogiri. Ngeblog sejak 2003. Salah satu blognya <a href="”http://esaiei.blogspot.com/”">Esai Epistoholica</a> diundang untuk tercatat dalam direktori blog berkelas, <a href="”http://www.blogged.com/blogs/esai-epistoholica.html/”">Blogged.com</a>, yang bermarkas di Alhambra, California, AS. Memenangkan <a href="”http://esaiei.blogspot.com/2004/12/mandom-resolution-award-2004-1.html/”">Mandom Resolution Award 2004</a> dengan mengusung   tesis manfaat blog untuk pemberdayaan komunitas kaum epistoholik atau pencandu penulisan surat pembaca  sebagai salah satu pilar penegakan kehidupan berdemokrasi di Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2008/12/22/bambang-haryanto-blogituari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bambang Haryanto: Bloknote, Blogger dan Dalai Lama</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2008/12/08/bambang-haryanto-bloknote-blogger-dan-dalai-lama/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2008/12/08/bambang-haryanto-bloknote-blogger-dan-dalai-lama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 15:20:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Haryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[bambang haryanto]]></category>
		<category><![CDATA[bh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Ayo ngeBlog! Ada yang kangen tulisan-tulisan kirimannya Mas BH? Di tulisan ini, beliau menceritakan betapa pentingnya kita sebagai blogger mencatat setiap hal (ilmu, ide, inspirasi, dll) yang berkelebat dalam pikiran kita ke dalam buku catatan. Kemudian, untuk mengabadikan itu, segeralah menuliskannya ke dalam blog kita. Niscaya ide kita itu akan abadi, Insya Allah bermanfaat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengantar Ayo ngeBlog!</strong></p>
<p>Ada yang kangen tulisan-tulisan kirimannya Mas BH?</p>
<p>Di tulisan ini, beliau menceritakan betapa pentingnya kita sebagai <em>blogger </em>mencatat setiap hal (ilmu, ide, inspirasi, dll) yang berkelebat dalam pikiran kita ke dalam buku catatan. Kemudian, untuk mengabadikan itu, segeralah menuliskannya ke dalam <em>blog </em>kita. Niscaya ide kita itu akan abadi, Insya Allah bermanfaat, dan bisa dibaca oleh semua pengguna internet. Ya, menulis itu mengabadikan ilmu pengetahuan!</p>
<p>Saya sendiri sudah <a href="http://ilmanakbar.dagdigdug.com/2008/10/19/kertas-bego-dan-temen-temennya-cara-gw-mengorganisir-kehidupan-dan-menjaga-produktivitas/">mempraktekkan</a> apa yang Mas BH tuliskan di sini. Dan alhamdulillah, saya merasa lebih produktif. Bagaimana dengan teman-teman?</p>
<p>Yuk, silakan baca tulisan mas BH ini:<span id="more-426"></span></p>
<p><em>Ini adalah tulisan dari blogger tamu Ayo ngeBlog!: <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview ('/outbound/esaiei.blogspot.com');" href="http://esaiei.blogspot.com/">Bambang Haryanto.</a> Ingin mengirim artikel ke Ayo ngeBlog? kirim saja ke ilmanakbar[at]gmail.com</em></p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_vW3ZUo5HOEw/STpCSk1cQdI/AAAAAAAAAAM/YMabAxPasM8/s1600-h/comedybible120.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276602800310862290" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 178px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_vW3ZUo5HOEw/STpCSk1cQdI/AAAAAAAAAAM/YMabAxPasM8/s320/comedybible120.JPG" border="0" alt="" /></a><strong></strong></p>
<p><strong>Nyontek turis Jepang.</strong> Namanya Erika. Reporter acara televisi. Mengambil judul lagunya kelompok hard rock era 70-an, Uriah Heep, <em>Lady in Black</em>, begitu saya menjulukinya. Ketika Meutia Hafidz dari MetroTV disandera di Irak, saya meledeki Erika : “Jangan sekali-kali meliput ke Irak ya ?” Erika bilang, kalau meliput ke Irak pertama kali ia justru menyebarkan pesan kepada faksi-faksi yang bertikai di Irak sana  : “Sanderalah saya. Sanderalah saya !”</p>
<p>Humor <em>lady in black</em> itu menyandera hati saya. Tetapi pemandangan yang memesona darinya adalah saat ia menulis di bloknotnya, sementara sang nara sumber liputannya memberikan keterangan. Saat-saat ia mengerahkan konsentrasi, telinganya mendengar, otaknya bekerja, memberikan aura paling menawan dari kecantikannya.</p>
<p>Niz, <em>lady rose</em>, sang pencinta bunga mawar dari Bromley, juga memberikan pesona setara. Dalam foto yang ia kirimkan, nampak dirinya dengan bloknot di tangan sedang mencatat keterangan seorang bapak yang bertubuh kurus. Bapak itu tangannya putus sebagai korban konflik SARA yang pernah membara di bagian timur negeri kita ini, beberapa waktu yang lalu. Niz memimpin lembaga <em>charity</em> yang kiprahnya menyantuni para korban konflik, terutama anak-anak dan perempuan.</p>
<p>Niz terheran ketika saya katakan bahwa foto itu merupakan  salah satu foto tercantik dari dirinya. Bahkan melebihi beberapa foto lain darinya, baik saat ia berpose di bawah  menara jam Big Ben atau bergambar bersama seorang polisi London, kota tempat tinggalnya.</p>
<p>Bloknot di tangan seseorang ternyata juga memberikan cerita dan perspektif pemikiran yang lebih serius. Penutur ceritanya adalah Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis  Universitas Chicago, Amerika Serikat.  Ia mengatakan bahwa turis-turis Jepang selalu membawa-bawa bloknot ketika keliling dunia. Mereka  mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi.</p>
<p>Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan  pertimbangan dalam menghasilkan produk  yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.</p>
<p>Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk membawa-bawa bloknot sepanjang waktu. Dengan demikian mereka setiap saat  dapat menulis dan mengawetkan  hasil observasi dan ide-ide seputarnya,  yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya.</p>
<p>Untuk kalangan komedian, nasehat serupa juga berlaku.  “<em>Get yourself a notebook that you keep by your bed and another, smaller one that can fit in your pocket&#8230;write down all ideas within a few minutes of thinking about them,</em>” tegas Judy Carter, mentor komedi terkenal dalam bukunya The Comedy Bible (2001, foto). Antena atau radar seorang komedian sebagai pelaku dunia kreatif dan kritikus sosial memang harus dalam mode <em>on</em> selama dua puluh empat jam seharinya !</p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_vW3ZUo5HOEw/STpCZzznmkI/AAAAAAAAAAU/QYkn8lCsmuM/s1600-h/bhhendro220.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276602924588833346" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 220px; height: 151px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_vW3ZUo5HOEw/STpCZzznmkI/AAAAAAAAAAU/QYkn8lCsmuM/s320/bhhendro220.JPG" border="0" alt="" /></a><strong>Teladan Asimov.</strong> Manfaat membawa-bawa bloknot itu juga sempat saya tularkan kepada mahasiswa Jurnalistik Fikom Universitas Padjadjaran, Bandung,   bernama Hendro Susilo H. (kanan). “Bulan lalu saya hampir mau nekat naik motor dari Bandung ke Wonogiri ,” cerita dia. Hendro sampai di Wonogiri, 8/11/2008,  memang naik motor, tetapi berangkatnya dari Kulonprogo, tempat familinya. Untuk keperluan kuliahnya, ia datang ke Wonogiri guna menggali cerita tentang asal-muasal komunitas <a href="”http://episto.blogspot.com/”">Epistoholik Indonesia</a> yang saya dirikan.</p>
<p>Bahkan kita juga membincangkan nasib Bapak Kho Seng Seng, penulis surat pembaca asal Jakarta. Ia dan kawan senasibnya (ada 4) telah memprotes kesewenang-wenangan perusahaan pengembang yang ia nilai mengingkari janji bestek pembangunan kios. Tetapi kini ia justru terancam dihukum 1 milyar rupiah dengan dakwaan melakukan pencemaran nama baik. Bapak Kho, berniat (semoga sudah) meluncurkan blog, untuk menceritakan bencana ketidakadilan yang menimpa dirinya itu.</p>
<p>Tradisi menenteng-nenteng bloknot dan menggunakannya, hemat saya, sebaiknya menjadi gaya hidup semua pekerja kreatif, termasuk kita para blogger Indonesia.  Kebiasaan mencatat itu memang menjadi keharusan ketika kita berada di bangku kelas atau kuliah. Tetapi hal itu lebih merupakan paksaan dari luar. Pamrihnya agar ulangan atau ujian kita memperoleh nilai baik. Ketika kita sudah lulus atau tidak ada paksaan atau pun tuntutan pekerjaan, hal tersebut cenderung kita lupakan dan campakkan.</p>
<p>Kini, saat kita menyatakan diri sebagai blogger hal tersebut sebaiknya dilakukan sebagai hal yang alamiah. Sebagai panggilan profesi. Sebagai panggilan hati. Bapak fiksi ilmiah, Isaac Asimov (1920-1990), mungkin dapat dijadikan sebagai tauladan. Kebetulan saya memiliki salah satu bukunya, Isaac Asimov’s Book of Facts (1979). Dalam buku itu ia disebut piawai menulis pelbagai macam buku disiplin ilmu, dari astronomi, fisika, kimia, biologi, matematika, tentu saja juga fiksi ilmiah.</p>
<p>Beliau juga menulis buku tentang misteri, fiksi umum, mengkaji kitab suci Bibel dan drama-drama Shakespeare. Isaac Asimov mampu menghasilkan ratusan buku ilmiah yang bahasannya menarik dan kaya warna, antara lain karena ketelatenannya mencatat dalam bloknotnya pelbagai informasi yang ia temukan sehari-hari.</p>
<p><strong>Tiket keabadian.</strong> Mungkin kita tak ada salahnya bermimpi mampu berprestasi sehebat Asimov. Tetapi dengan menulis dan mencatat itu, kita sebenarnya sedang mengasah kinerja benda abu-abu ajaib karunia Tuhan yang demokratis, karena semua orang punya, yang berada di antara kedua kuping kita.    “Menulis adalah sebuah aktivitas yang melibatkan otot, syaraf, dan segi-segi psikologis kita, serta benar-benar membentuk pola di dalam otak kita,” begitu pendapat Stephen R. Covey dalam bukunya The 8 Habit (2005).<br />
Demi otak kita, untuk mengasahnya, Thomas L. Madden punya nasehat. Ia tulis dalam bukunya yang berjudul F.I.R.E – U.P. Your Learning : Bangkitkan Semangat Belajar Anda – Petunjuk Belajar Yang Dipercepat Untuk Usia 12 Tahun Keatas (Gramedia, 2002) : gunakan segera pengetahuan baru Anda itu agar tidak mudah lupa.  Gunakan informasi yang sama lewat cara yang berbeda-beda. Sebab semakin variatif pemanfaatannya akan semakin banyak tercipta koneksi dalam otak kita yang semakin memudahkan kita bila diperlukan untuk mengingatnya kembali.</p>
<p>Cara pertama untuk memanfaatkan pengetahuan baru itu adalah dengan mencatatnya. Agar tidak lupa. Kemudian menuliskannya. Untuk membagikannya. Sebagai blogger aksi itu merupakan aktivitas ajaib yang penuh berkah : karena ketika kita membagikannya, semakin kita akan memperoleh bagiannya, bahkan bagian  yang terbanyak dan termulia pula.</p>
<p>Seorang dosen Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Dr. Ir. Dwi Retno Lukiwati, MS, setahun lalu telah menulis surat pembaca di koran Suara Merdeka (12/12/2007). Berjudul “Instruction for Life” yang menjajar ajaran-ajaran luhur pemimpin spiritual Tibet,   Dalai Lama. Salah satu ajarannya yang tercatat dalam bloknot saya, sepertinya sangat sesuai sebagai suntikan motivasi bagi kita semua, kaum blogger Indonesia :</p>
<p><em>Share your knowledge</em>.<br />
<em>It&#8217;s a way to achieve immortality</em>.</p>
<p><em><strong>Bambang Haryanto</strong>, blogger kampung yang  berdomisili di Wonogiri. Ngeblog sejak tahun 2003. Salah satu blognya  <a href="”http://esaiei.blogspot.com/”">Esai Epistoholica</a> baru saja diundang untuk tercatat di <a href="”http://www.blogged.com/blogs/esai-epistoholica.html/”">Blogged.com</a> yang bermarkas di Alhambra, California, AS.</em></p>
<p><em>Memenangkan <a href="”http://esaiei.blogspot.com/2004/12/mandom-resolution-award-2004-1.html/”">Mandom Resolution Award 2004</a> dengan mengusung   tesis manfaat blog untuk pemberdayaan komunitas kaum epistoholik atau pencandu penulisan surat pembaca  sebagai salah satu pilar penegakan kehidupan berdemokrasi di Indonesia.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2008/12/08/bambang-haryanto-bloknote-blogger-dan-dalai-lama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bambang Haryanto: Bila Blogger Seperti Anda Diuber Macan</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2008/10/30/bila-blogger-seperti-anda-diuber-macan/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2008/10/30/bila-blogger-seperti-anda-diuber-macan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 16:53:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Haryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[alasan]]></category>
		<category><![CDATA[kenapa]]></category>
		<category><![CDATA[penghasilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Ayo ngeBlog! Pertanyaan &#8220;kenapa kita ngeBlog?&#8221; akan tetap relevan sepanjang zaman. Alasan apa yang menyebabkan kita mulai ngeBlog, itulah yang akan membuat kita terus semangat ngeBlog apapun kondisinya, atau malah sebaliknya, berhenti ngeBlog karena kita tidak bisa memenuhi alasan kita tersebut. Apakah kita ngeblog karena ingin mengekspresikan diri kita, berbagi ilmu pengetahuan, menjalin pertemanan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengantar Ayo ngeBlog!</strong></p>
<p>Pertanyaan &#8220;<a href="http://www.ayongeblog.com/2008/06/23/kenapa-oh-kenapa-cerita-3-blogger-kenapa-kita-harus-ngeblog/">kenapa kita ngeBlog?</a>&#8221; akan tetap relevan sepanjang zaman. <a href="http://www.ayongeblog.com/2008/09/03/alasan-alasan-mulai-ngeblog-yang-harus-dihindari/">Alasan apa yang menyebabkan kita mulai ngeBlog</a>, itulah yang akan membuat kita terus semangat ngeBlog apapun kondisinya, atau malah sebaliknya, berhenti ngeBlog karena kita tidak bisa memenuhi alasan kita tersebut.</p>
<p>Apakah kita ngeblog karena ingin mengekspresikan diri kita, <a href="http://www.ayongeblog.com/2007/12/14/31/">berbagi ilmu pengetahuan</a>, <a href="http://www.ayongeblog.com/2008/04/18/apa-yang-seru-dari-menjadi-blogger-memperluas-pertemanan/">menjalin pertemanan</a>, <a href="http://www.ayongeblog.com/2008/10/10/ngeblog-untuk-membangun-network/">membangun jaringan</a>? Atau apakah kita ngeblog karena ingin mendapatkan <a href="http://www.ayongeblog.com/2007/11/04/mesin-pencetak-uang-itu-bernama-blog-sebuah-motivasi-untuk-mulai-ngeblog/">penghasilan</a> <a href="http://www.ayongeblog.com/2008/10/19/ayo-ngeblog-raih-income-dari-internet-kenapa-tidak/">dari internet</a>? Apapun itu, selama ngeBlog kita itu <a href="http://www.ayongeblog.com/2008/08/26/pepih-nugraha-ngebloglah-yang-bermanfaat/">bermanfaat</a> bagi diri kita dan orang lain, tidak masalah bukan?</p>
<p><a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview ('/outbound/esaiei.blogspot.com');" href="http://esaiei.blogspot.com/">Bambang Haryanto</a> membagi pengalaman dan sudut pandangnya tentang hal ini:</p>
<p><span id="more-352"></span></p>
<p><em>Ini adalah tulisan dari blogger tamu Ayo ngeBlog!: <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview ('/outbound/esaiei.blogspot.com');" href="http://esaiei.blogspot.com/">Bambang Haryanto.</a> Ingin mengirim artikel ke Ayo ngeBlog? kirim saja ke ilmanakbar[at]gmail.com<a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview ('/outbound/esaiei.blogspot.com');" href="http://esaiei.blogspot.com/"><br />
</a></em></p>
<p>Esai Epistoholica No.63/Oktober 2008, Email : humorliner (at) yahoo.com, Home : <a href="http://epistoholica.blogspot.com/">Epistoholik Indonesia</a></p>
<p><strong>Bila Blogger Seperti Anda Diuber Macan</strong></p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_KgPzAuuOBKk/SQa_WPS6HII/AAAAAAAAAZE/hpbxWrfYmuY/s1600-h/bw120.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5262103603412868226" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 171px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KgPzAuuOBKk/SQa_WPS6HII/AAAAAAAAAZE/hpbxWrfYmuY/s320/bw120.JPG" border="0" alt="" /></a><strong>Mata hijau.</strong> &#8220;Saya orang Jawa berstatus WNA.&#8221; Itu introduksi saya dalam acara <em>welcome dinner </em> di Restoran Italia Bruschetta, Hotel Borobudur, Jakarta. Saat itu saya berada di tengah panitia dan peserta kontes Mandom Resolution Award 2004. Dalam kontes beradu resolusi itu saya mencanangkan peluncuran 100 blog untuk warga komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia.</p>
<p>Jebakan saya mengena. Mengaku sebagai orang Jawa tetapi berstatus sebagai WNA, menimbulkan rasa ingin tahu hadirin lainnya. Termasuk eksekutif Mandom yang berasal dari Jepang. Dalam teknik komedi, pernyataan tadi disebut sebagai <em>set up</em>, ya jebakan itu. Ketika ketegangan nampak semakin matang, lalu saya luncurkan <em>punchline</em>, titik ledaknya.</p>
<p>&#8220;WNA : WoNogiri Asli.&#8221;</p>
<p>Mereka, syukurlah, kompak terbahak. Demikianlah, cara mengenalkan diri semacam itu sudah menjadi merek dagang keluarga saya. Sudah intuitif. Tetapi ketika mengaku-aku bukan sebagai orang Indonesia secara tak sengaja untuk blog saya, Google AdSense telah mendepak diri saya. Impian meraup dollar pun jadi berantakan.</p>
<p>Kasusnya : ketika mendaftarkan diri ke Google AdSense saya telah melakukan kecerobohan fatal. Seharusnya yang saya klik untuk isian nama negara asal saya adalah Indonesia, bukan ? Yang saya klik ternyata Irlandia. Andrea dan Sharon dari The Corrs, anggota kelompok musik asal Irlandia favorit saya, mungkin terbahak melihat orang Wonogiri ingin tercatat sebagai wong Irlandia. Jelas akhirnya, perusahaan raksasa rintisan Larry Page dan Sergei Brin itu menolak aplikasi saya.</p>
<p>Saya lalu jadi trauma dengan Google AdSense itu. Tetapi sudahlah, saya memang bersalah. Mungkin karena kemaruk ingin segera mengeruk dollar demi dollar dari blog, mata saya menjadi hijau karenanya, membuat saya kurang cermat dan ceroboh. Suasana psikologis saya saat itu, setelah membaca koran mengenai sepak terjang sosok Anne Ahira dan menemui perbincangan yang berisik di Internet mengenai prestasi Cosa Aranda, membuat saya ikut keruh hati. Ikut arus berpendapat bahwa punya blog tetapi tanpa memproklamasikan diri sebagai agen iklan Google adalah sebuah kesia-siaan, kemubaziran, atau barangkali sekaligus sebagai suatu dosa.</p>
<p>Apalagi pada saat yang hampir bersamaan saya membaca kisah Budi Putra. Seiring kehebohan saat sang <em><a href="http://asia.cnet.com/reviews/blog/toekangit/0,39056105,61994889,00.htm">digital rebel</a></em> itu memutuskan berhenti dari Tempo untuk menjadi blogger purna waktu, ia juga bercerita mengenai &#8220;angin sorga&#8221; yang sama. &#8220;<em>By using programs like Google Adsense, AdBrite, TextLinksAds in his/her blog, a blogger can generate a decent amount of money. The larger a community you have, the more ads you&#8217;ll get clicked on and the more money you&#8217;ll earn</em>,&#8221; begitu tulisnya. Saya ikut mabuk karenanya.</p>
<p><strong>Receh dari Google.</strong> Syukurlah, setelah terbentur kasus &#8220;Irishgate&#8221; <img src='http://www.ayongeblog.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  tadi, dengan dipaksa untuk mau tengok sana-sini, akhirnya saya memperoleh perspektif lain. Saya pernah mengutip pendapat kolumnis <a href="http://esaiei.blogspot.com/2007/03/digital-rebel-cari-duit-lewat-blog-dan.html">Josh Quittner</a> yang menyebutkan bahwa model bisnis blog di atas tadi tiada lain para blogger itu sebagai penadah sisa-sisa uang recehan dari Google, di mana blog kita sebagai agen-agen iklan dari Google. Sebuah cara cari uang yang secara teoritis tidak terlalu sulit bagi siapa saja untuk menerjuni hal yang sama.</p>
<p>Salah satu guru Internet Indonesia yang tinggal di AS, <a href="http://www.jenniesbev.com">Jennie S. Bev</a>, juga menginspirasi saya. Ia bilang, &#8220;Bagi saya, lebih baik saya memulai bisnis yang benar-benar kelebihan saya, alias gampang buat saya, tapi susah buat orang lain. Jadilah bisnis-bisnis saya agak sulit di mata orang lain, termasuk bisnis produk-produk yang memerlukan <em>entrepreneurship skills</em> yang cukup tinggi.</p>
<p>Bisnis dengan <em>high barrier</em> buat saya lebih cocok karena saingan tidak sebanyak bisnis-bisnis yang <em>low barrier</em> semacam <em>affiliate programs</em> alias <em>internet marketer</em>….<em>Internet marketing</em> a la Anne Ahira dan Cosa Aranda <em>is a business without any barrier of entry</em>. Ini kesimpulan saya. Bagaimana Anda menggunakan informasi ini, terserah Anda.&#8221;</p>
<p>Terima kasih, Jennie. Sumber rujukan yang membukakan cakrawala lebih luas tentang blog termasuk laporan utama majalah bisnis, Business Week, 11/5/2005 (foto di atas). Sosok lain yang juga ikut membukakan cakrawala saya tentang seluk-beluk membisniskan blog tanpa menjual iklan adalah <a href="http://weblogs.about.com/od/monetizingablog/p/Nonadvertising.htm">Susan Gunelius</a>, pengasuh blog tentang blog milik penerbit koran The New York Times. Sebagian tipsnya itu telah ikut pula disinggung oleh Edo dalam artikel inspiratif yang berjudul &#8220;<a href="http://www.ayongeblog.com/2008/10/24/ditolak-adsense-dan-paid-review-jangan-putus-asa/">Ditolak Adsense dan Paid Review, Jangan Putus Asa!</a>&#8221; di blog AyoNgeblog. Terima kasih, Edo.</p>
<p>Sebagian blog saya memang ada iklan afiliasi, dari Amazon.com dan Virtualvending.net, asal Indonesia. Sebagai penghias. Realistis saja, mana ada pembeli buku dari Indonesia ke Amazon setelah mendapatkan info dari blog saya ? Saya juga merasa bahwa blog-blog saya kurang sreg untuk memajang tulisan yang dimaksudkan untuk menjaring dollar sebagai penulis review bayaran. Tentang hal satu ini, ada pendapat menarik.</p>
<p>Profesor Jurnalisme dari City University di New York dan salah satu pemikir Internet idola saya, <a href="http://www.latimes.com/business/la-fi-bloggers9mar09,0,4488844,full.story?coll=la-home-business">Jeff Jarvis</a> mengomentari fenomena bisnis <em>paid review</em> di Internet dengan berkata bahwa, &#8220;masalahnya adalah para pemasang iklan itu berusaha membeli suara kaum blogger dan sekali terbeli mereka akan menguasainya.&#8221; Opini kritis lain yang gencar berhembus adalah tudingan bahwa bisnis <em>paid review</em> itu mencemari dunia blog dan mengacaukan konsumen karena mengaburkan garis antara iklan dan opini yang tidak bias !</p>
<p>Ngeblog dengan segenap energi, pengabdian dan cinta, tentu saja menjadi hal yang menyenangkan bila mampu menghasilkan uang. Tetapi, hemat saya, ngeblog tanpa diming-imingi imbalan uang sebenarnya juga mampu menghadirkan berkah. Bukan pahala yang kecil. Ketika menjadi finalis Lomba Karya Tulis Teknologi Telekomunikasi dan Informasi (LKT3I)-nya Indosat 1999 di Jakarta, saat bisa jadi satu hotel di Redtop Hotel bersama Budi Putra (tapi tak saling kenal), mantan Hakim Agung Bismar Siregar bilang bahwa setitik tinta dari seorang penulis lebih berharga dibandingkan tumpahan darah dari seorang martir.</p>
<p>Ujaran beliau itu sangatlah membekas. Menjadi mercu suar. Sebagai blogger ternyata dapat juga disebut sebagai ibadah. Bahkan dalam perjalanan banyak pula menemui berkah-berkah lain yang tidak terduga. Saya telah menuliskannya ketika menjadi seorang <a href="http://www.ayongeblog.com/2008/09/28/the-bright-side-of-soccer-blogger/#more-278">blogger sepakbola</a> di blog AyoNgeblog.</p>
<p>Sementara itu blog saya mengenai komedi membuka akses untuk menjadi nara sumber suatu talkshow Radio Delta Medan (sayang, karena miskomunikasi tak bisa berlangsung) sampai diwawancarai oleh Radio BBC Siaran Indonesia. Berkah lain, saya sempat didaulat menjadi &#8220;dukun&#8221; atau &#8220;obyek wisata&#8221; <img src='http://www.ayongeblog.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  untuk para blogger pula.</p>
<p><a href="http://s30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/?action=view&amp;current=pasarsolo420.jpg" target="_blank"><img src="http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/pasarsolo420.jpg" border="0" alt="Photobucket" /></a></p>
<p>Blogger Solo (foto) yang tergabung dalam komunitas <a href="http://www.pasarsolo.com">Pasar Solo</a>, dibawah pimpinan Sadrah Sumiyarso, telah sudi mampir ke rumah saya di Wonogiri. Delapan orang blogger itu melakukan tur budaya dengan rute Solo-Wonogiri-Yogya-Solo, sepanjang Sabtu-Minggu (25-26/10/2008) yang lalu. Di Wonogiri, kami bertukar informasi mengenai blog dan blogger, termasuk tentang isu <em>paid review</em> di atas.</p>
<p>Pada awal Oktober 2008, blog itu pula telah mempertemukan saya dengan sahabat komedi, <em>comedy buddy</em> yang baru, bernama <a href="http://www.dannydarussalam.com/engine/artikel/index.php?lang=id&amp;catid=211">Danny Septriadi</a>, seorang profesional bidang pajak yang suka lawak, dari Jakarta. Baru ngobrol via telepon, sms dan email sekitar seminggu, ia telah memberondong saya dengan aksi tak terduga. Delapan judul <a href="http://komedian blogspot.com">buku bertopik komedi</a> terbitan luar negeri telah ia kirimkan ke rumah saya, di Wonogiri !</p>
<p>Terakhir, mungkin kita para blogger dapat menyimak ujaran Putu Wijaya yang sastrawan. Ketika di tahun 80-an, saat masih belajar di Universitas Indonesia di Rawamangun, saya mengikuti ceramah sastra di arena pekan buku Indonesia di Balai Sidang Jakarta. Sastrawan dan dramawan asal Tabanan Bali itu berkata bahwa ada dua jenis penulis di dunia ini.</p>
<p>Yaitu mereka yang dikejar macan dari dalam dan ada pula yang diuber macan dari luar. Macan dari dalam adalah keinginan utama untuk berekspresi, menyuarakan hati nurani, memperkaya khasanah ilmu pengetahuan kepada dunia. Sementara macan dari luar adalah tuntutan untuk memperoleh materi.</p>
<p>Sobat para blogger Indonesia, yang mungkin akan atau sedang terjun dalam keriuhan Pesta Blogger Indonesia 2008, tengoklah sekeliling : jenis macan mana yang kini banyak memburu mereka ? Tanyakan hal yang sama itu kepada diri Anda pula.</p>
<p>Wonogiri, 28 Oktober 2008</p>
<p><em><strong>Bambang Haryanto</strong></em></p>
<p><em> berdomisili di Wonogiri, ngeblog sejak tahun 2003. Salah satu blognya <a href="http://esaiei.blogspot.com/">Esai Epistoholica</a> baru saja diundang untuk tercatat di <a href="http://www.blogged.com/blogs/esai-epistoholica.html/">Blogged.com</a> yang bermarkas di Alhambra, California, AS. Tesisnya mengenai manfaat blog untuk pemberdayaan komunitas kaum epistoholik atau pencandu penulisan surat pembaca sebagai salah satu pilar penegakan kehidupan berdemokrasi memenangkan <a href=" http://esaiei.blogspot.com/2004/12/mandom-resolution-award-2004-1.html/">Mandom Resolution Award 2004</a>.</em></p>
<p><em>Bersama Mayor Haristanto dari <a href="http://aengaeng.blogspot.com/">Republik Aeng Aeng Solo</a> telah memprakarsai gagasan deklarasi 30 Juli 2008 sebagai <a href="http://solocybercity.blogspot.com/">Solo Cyberholic Day</a> di tengah pesta 468 netter Solo yang bersama-sama mengakses Internet tanpa kabel di kawasan City Walk Solo untuk meraih Rekor MURI pada tanggal yang sama. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2008/10/30/bila-blogger-seperti-anda-diuber-macan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Bright Side of Soccer Blogger</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2008/09/28/the-bright-side-of-soccer-blogger/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2008/09/28/the-bright-side-of-soccer-blogger/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 04:27:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Haryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[soccer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Ayo ngeBlog!: Tulisan di bawah ini bagus dibaca untuk mengetahui warna-warni blog dan blogger Indonesia.. Kita jadi tahu, kalo blog orang Indonesia itu isinya bukan cuma curhatan aja, tapi banyak warna-warninya yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Apalagi kalo topik yang kita tuliskan di blog kita itu adalah topik yang belum banya dibahas, kita bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengantar Ayo ngeBlog!:</strong></p>
<p>Tulisan di bawah ini bagus dibaca untuk mengetahui warna-warni <em>blog </em>dan <em>blogger </em>Indonesia.. Kita jadi tahu, kalo blog orang Indonesia itu isinya bukan cuma curhatan aja, tapi banyak warna-warninya yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Apalagi kalo topik yang kita tuliskan di <em>blog </em>kita itu adalah topik yang belum banya dibahas, kita bisa membangun image dan kredibilitas kita di bidang itu.. Belum lagi <a href="http://www.ayongeblog.com/category/pengalaman-ayongeblog/">pengalaman-pengalaman seru </a>yang tidak disangka-sangka yang datang karena aktivitas ngeBlog kita. Seperti pengalaman <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview ('/outbound/esaiei.blogspot.com');" href="http://esaiei.blogspot.com/">Bambang Haryanto</a> berikut ini:</p>
<p class="YfMhcb"><strong><span id=":6s" class="VrHWId">The Bright Side of Soccer Blogger</span></strong><span id="more-278"></span></p>
<p><em>Ini adalah tulisan dari blogger tamu Ayo ngeBlog!: <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview ('/outbound/esaiei.blogspot.com');" href="http://esaiei.blogspot.com/">Bambang Haryanto</a></em></p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_KgPzAuuOBKk/SNOm3kk8fPI/AAAAAAAAAXY/56gXIpG1kw4/s1600-h/bhsoccer120.JPG"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247721464458411250" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" src="http://4.bp.blogspot.com/_KgPzAuuOBKk/SNOm3kk8fPI/AAAAAAAAAXY/56gXIpG1kw4/s320/bhsoccer120.JPG" border="0" alt="" /></a><strong>Lima puluh lima ribu “singa” itu mengaum bersamaan.</strong> <em>The lion’s roar</em> yang menggetarkan. <em>Ole, ole, ole, ole ! Ole, ole !</em> Gemuruhnya mengepung kami yang hanya berjumlah ratusan kepala di pojok timur laut stadion. Inilah final leg 2 Piala Tiger 2004. Stadion Kallang Singapura, 16 Januari 2005.</p>
<p><em>Impor, impor, impor, impor !</em></p>
<p><em>Impor, impor !</em></p>
<p>Itulah teriakan balik kami, suporter sepakbola Indonesia. Mantra pengusir auman singa itu lumayan manjur, karena kiranya langsung menohok jantung eksistensi suatu bangsa. Negeri pulau Singapura yang warganya terdiri pelbagai ras dan suku bangsa itu tak bisa mengelak dari tembakan miring kami ini.</p>
<p>Karena di skuad sepakbola mereka saat itu bertabur pemain impor Ada Itimi Dickson dan Agu Casmir, asal Nigeria. Ada pula bek tangguh Daniel Bennett yang bule, kelahiran Inggris. Mereka semua dinaturalisasikan sebagai warga negara Singapura.</p>
<p>Teriakan kami saat itu boleh jadi merupakan cerminan sikap miopia. Rabun dekat. Nasionalisme yang sempit. Sebab ketika globalisasi semakin nyata, hal yang terjadi di Singapura itu sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu untuk terjadi pula di Indonesia. “Nasionalisme adalah penyakit kekanak-kanakan. Ia merupakan penyakit campak bagi kemanusiaan,” demikian ujar Albert Einstein.</p>
<p>Sakit campak atau tidak, yang bergemuruh di dada saat itu adalah rasa nasionalisme yang meluap. Kami benar-benar cinta Indonesia. Ketika saya dan <a href="http://aengaeng.blogspot.com/">Mayor Haristanto </a>tiba di stadion dan membentangkan spanduk besar yang kami bawa dari Solo, bertuliskan slogan “Bangkit Indonesia !,” api nasionalisme itu ibarat kena semburan bensin. Tribun kami terbakar oleh perasaan cinta yang membara terhadap tanah air.</p>
<p><a href="http://s143.photobucket.com/albums/r150/wonogiri/?action=view&amp;current=bhsoccer400.jpg" target="_blank"><img src="http://i143.photobucket.com/albums/r150/wonogiri/bhsoccer400.jpg" border="0" alt="Photobucket" /></a></p>
<p>Tidak sedikit dari kami, yang bila dilihat dari warna kulit dan bentuk mata menunjukkan keturunan Cina. Tetapi kami semua kompak bersama-sama melagukan Indonesia Raya. Nasionalisme kami benar-benar mendidih. Saya saat itu merinding dan meneteskan air mata. Bangga sebagai bangsa Indonesia.</p>
<p>Sayang, Indonesia gagal jadi juara. Misi yang tertuang di kaos saya, “Tame The Lions, Heal The Nation” tak jadi kenyataan. Impian kemenangan timnas sebagai pelipur duka bangsa setelah Aceh diguncang tsunami dahsyat, tidak kesampaian. Pada pertandingan leg 1 di Senayan, kita sudah kalah 1-3. Di Singapura, walau di kaos saya juga sudah bertuliskan mantra <em>I Believe The Withe Magic</em>, toh Ponaryo Astaman dkk kalah lagi, 2-1. Agregat : 5-2 untuk Singapura.</p>
<p><em>”Singaporeans cheered last night, with all their hearts,”</em> tulis kolumnis Godfrey Robert di koran The New Paper esok harinya. Singapura, negeri mini itu, memuncaki prestasi sepakbola Asia Tenggara.</p>
<p>Malam itu saya dan Mayor yang ikut mobil tim kembali ke hotel timnas Indonesia, Hotel Amara di Tanjong Pagar, dengan perasaan hambar. Di lantai tujuh hotel bintang 4 itu saya mengambil titipan tas di kamarnya Ismed Sofyan. Ia mengeluarkan semua isi lemari es hotel, tetapi kudapan kelas hotel mewah itu terasa hambar. Serasa lebih nikmat ketika makan bersamanya, tahun 2002, dengan sayur asem, sambal dan sepotong ayam goreng di asramanya saat Ismed Sofyan masih di Solo memperkuat tim Persijatim Solo FC.</p>
<p>Sedikit “kemenangan” saya peroleh secara pribadi di keesokan harinya (17/1/2005). Sambil sarapan pagi di Hotel Quality, saya membuka-buka surat kabar utama negerinya Lee Kuan Yew itu, The Straits Times. Pendapat saya sebagai suporter sepakbola Indonesia (foto) termuat di sana.</p>
<p><strong>Football flaneur !</strong> Sebagai seorang suporter sepakbola, cerita di atas telah saya gurat untuk menjadi salah satu khasanah sebuah blog, <a href="http://suporter.blogspot.com/2005_07_01_suporter_archive.html#112105291104387750/">Suporter Indonesia</a>, yang saya luncurkan sejak bulan Juli 2003. Termasuk cerita di Bandara Changi ketika saya memergoki buku kedua dari Malcolm Gladwell, Blink : The Power of Thinking without Thinking (2005). Juga buku kumpulan lelucon tentang David Beckham. Anda tahu ciri-ciri komputer yang baru saja digunakan oleh David Beckham ? Kalau Anda temui banyak bercak-bercak bekas Tipp-Ex di monitornya.</p>
<p>Ketika memutuskan untuk surut dari kegiatan suporter di lapangan, termasuk undur dari status sebagai seorang <em>football flaneur</em>, istilah dari penyair Perancis Charles Baudelaire (1821–1867) yang bermakna sosok pengembara dari satu kota ke kota lainnya untuk mengikuti tur sepakbola, maka status sebagai seorang <em>soccer blogger</em> menjadi kiprah lain untuk menunjukkan kecintaan (sekaligus kebencian !) saya terhadap sepakbola. Sepakbola Indonesia.</p>
<p>Nick Hornby, penulis novel Inggris, pernah berujar &#8220;<em>I fell in love with football as I was later to fall in love with women. Suddenly, uncritically, giving no thought to the pain it would bring.&#8221;</em> Memang begitulah yang terjadi. Kecintaan itu ternyata membawa terlalu banyak duka lara dan kekecewaan saya terhadap prestasi sepakbola Indonesia.</p>
<p>Termasuk kecewa terhadap sesama sobat saya, para suporter sepakbola Indonesia. Tanggal 12 Juli 2008, untuk memperingati sewindu deklarasi Hari Suporter Nasional, saya dan kawan-kawan berdemo di perempatan Gladag Solo. Kami memajang <em>banner</em>, antara lain bertuliskan otokritik : “Suporter Indonesia, Suporter Myopia !”</p>
<p>Suporter Indonesia sekarang ini kena penyakit rabun dekat, cadok, mendewakan kedaerahan. Berani mengadu nyawa untuk membela daerahnya. Tetapi tak mau terbang tinggi, mengawasi dengan nurani jernih dan pikiran cerdas, bagaimana roda sepakbola Indonesia dijalankan. Terutama oleh pimpinan PSSI yang kini masuk penjara karena tersangkut perkara korupsi. Termasuk mencermati ulah kroni-kroninya pula.Hemat saya dan harapan saya, sepakbola Indonesia memerlukan lebih banyak lagi, dan lebih banyak sekali <em>soccer blogger</em> untuk mengkritisi bagaimana industri sepakbola Indonesia dijalankan selama ini dan nanti.</p>
<p>Dalam diskusi yang riuh dan berbobot mengenai 95 tesis bisnis baru yang diajukan Rick Levine, Christopher Locke , Doc Searls dan David Weinberger dalam Cluetrain Manifesto : The End of Business as Usual (1999), mencuat pendapat Luis Marinho Falcão, Direktur dari Ogilvy Interactive. Ia mengatakan, <em>&#8220;the most frightening thing about an electronic whisper is the fact that it becomes a gigantic roar before some notice it.&#8221; </em></p>
<p>Merujuk hal di atas, kini saatnya suporter sepakbola Indonesia harus menggunakan blog untuk bersuara. Mengubah bisik-bisik olektronik mereka menjadi bengokan yang membahana untuk mengoreksi salah kelola pada sepakbola Indonesia. Apalagi ketika pelbagai media <em>mainstream</em> yang cocoknya pantas disebut sebagai <em>lame stream media</em>, media yang lamban, semakin tidak bergigi menyuarakan ide-ide perbaikan bagi masa depan dunia olah raga, khususnya sepakbola Indonesia. Suporter Indonesia, jadilah seorang <em>soccer blogger</em> saat ini pula. Mari bersuara terus untuk perbaikan sepakbola Indonesia !</p>
<p><strong>Sisi cerah blogger sepakbola.</strong> Mendung tak selamanya kelabu. Bisik-bisik elektronik tentang sepakbola dan suporternya yang saya tulis di blog itu, syukurlah, bukan selalu cinta yang melulu bertepuk sebelah tangan. Pernah mengalami pula kejadian yang mencengangkan.</p>
<p>Antara lain satu dua kali dikontak agen pemain dari Uruguay (“mereka temukan via Google”) untuk diajak bekerjasama. Dan blog itu pula yang membuat saya diminta untuk menjadi penulis atau menjadi nara sumber untuk wawancara media.</p>
<p>Misalnya oleh Andibachtiar “Ucup” Yusuf. Secara pribadi, saya belum pernah bertemu muka dengan dirinya. Ketika ia dan kawan-kawannya di Jakarta (saat ia sendiri tinggal di London) meluncurkan majalah sepakbola gratis, FreeKick, maka sekitar satu setengah tahun sejak awal 2006 saya ikut mengisi majalah tersebut. Hadiah indah lain dari dirinya adalah buku Football in Sun and Shadow, karya Eduardo Galeano (2003). Ini buku tentang sepakbola yang ditulis dengan cita rasa sastra yang tinggi.</p>
<p>Kali yang lain, ketika jaringan Radio 68 H Jakarta membincangkan tentang perangai brutal suporter sepakbola Indonesia, saya yang tinggal di Wonogiri ikut berdiskusi melalui telepon. Nara sumber lainnya adalah wartawan Arya Abhiseka, yang kini sering muncul dalam siaran sepakbola antv, dan satu rekan lagi dari The Jakmania.</p>
<p>Kabar terbaru muncul dari Budapest. Dari Andibachtiar “Ucup” Yusuf lagi. Ia yang telah menghasilkan film yang merupakan <em>genre</em> baru di pentas perfilman nasional, yaitu The Jak dan The Conductors, mengabarkan bahwa perusahaannya <a href="http://www.blogger.com/”http://www.bogalakonpictures.com/”">Bogalakon Pictures</a> bersiap meluncurkan film baru. Dengan mengadaptasi lakon klasik Romeo &amp; Juliet-nya Shakespeare, tetapi tema filmnya itu tetap sepakbola.</p>
<p>Saya sempat bertanya : pakai versi Romeo &amp; Juliet yang dibintangi Olivia Hussey-Leonard Whitting dengan sutradara Franco Zeffireli (1968, “termasuk film favorit saya”), versi Leonardo Di Caprio dan Claire Dane dengan sutradara Baz Luhrmann, atau versi West Side Story yang pernah di-Indonesiakan dengan judul Laila Majnun, dibintangi Ahmad Albar dan Rini S. Bono ?</p>
<p>Dalam email Ucup bercerita : “Tensi cerita (film itu) akan lebih tinggi dan keras berhubung yang sedang digambarkan adalah dunia pendukung sepakbola. Referensi saya adalah Football Factory dan Rise of The Footsoldiers untuk beberapa kekerasan suporter, tetapi film-film seperti Bittersweet Life, Iron Man sampai Apocalypto rasanya juga akan saya jadikan acuan beberapa adegan.</p>
<p>Seperti rencana saya yang sekarang sudah tertulis di draft 1, saya dan Mas Bambang akan muncul sebagai <em>cameo</em>, berkicau tentang sepakbola Indonesia dan kelakuan para suporternya di bagian pembuka dan penutup. Sama kan dengan versinya Baz Luhrmann dan Leonardo Di Caprio itu ? ”</p>
<p>Seorang suporter sepakbola, seorang <em>soccer blogger</em>, dan di depan nanti, moga-moga jadi, sebagai seorang <em>cameo</em> dalam film layar lebar tentang suporter sepakbola. Ah, kisah hidup seorang <em>soccer blogger</em> yang tak terduga-duga.</p>
<p><strong>Bambang Haryanto</strong>, blogger dari Wonogiri sejak tahun 2003. Tahun 2000 aktif sebagai Menko Kreatif dan Media dalam kelompok suporter Pasoepati (Solo). Meraih MURI tahun 2000 sebagai Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli. Tesisnya mengenai revolusi untuk mengubah budaya kelompok suporter dari destruktif menjadi berbudaya kreatif memenangkan Honda The Power of Dreams Award 2002. Penggagas dan salah satu pendiri Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia (ASSI), 2002.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2008/09/28/the-bright-side-of-soccer-blogger/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Famblogger, Menghimpun Tulang Yang Terserak</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2008/09/09/famblogger-menghimpun-tulang-yang-terserak/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2008/09/09/famblogger-menghimpun-tulang-yang-terserak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 02:13:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Haryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[famblogger]]></category>
		<category><![CDATA[family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah tulisan dari blogger tamu Ayo ngeBlog!: Bambang Haryanto Marinir misterius itu menelepon malam-malam. Jam satu selewat puncak malam. Ia marinir dari kerajaan Belanda. Saya sama sekali belum mengenalnya. Apalagi berjumpa. Tetapi ketika ia mengenalkan dirinya sebagai Erwin Martowirono, segera saya tahu asal-muasal dari kejadian yang mengejutkan, menyenangkan, sekaligus yang berakhir rada mengecewakan ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ini adalah tulisan dari blogger tamu Ayo ngeBlog!: <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview ('/outbound/esaiei.blogspot.com');" href="http://esaiei.blogspot.com/">Bambang Haryanto</a></em></p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ng8oi0MIbwE/SMHhMPcnT7I/AAAAAAAAAAM/KJ2fe5m_Kz0/s1600-h/pinsolopos125.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242719041657196466" style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ng8oi0MIbwE/SMHhMPcnT7I/AAAAAAAAAAM/KJ2fe5m_Kz0/s320/pinsolopos125.JPG" border="0" alt="" /></a><strong>Marinir misterius itu menelepon malam-malam</strong>. Jam satu selewat puncak malam. Ia marinir dari kerajaan Belanda. Saya sama sekali belum mengenalnya. Apalagi berjumpa. Tetapi ketika ia mengenalkan dirinya sebagai Erwin Martowirono, segera saya tahu asal-muasal dari kejadian yang mengejutkan, menyenangkan, sekaligus yang berakhir rada mengecewakan ini.</p>
<p>Beberapa bulan sebelumnya, saya memperoleh email dari New York. Dari Armand Martowirono. Emailnya berbahasa Belanda. Syukurlah, kamus kecil yang saya gunakan untuk mengikuti kuliah bahasa sumber, Bahasa Belanda di Rawamangun, di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, belum hilang. Sebelumnya saya mengikuti kuliah bahasa sumber, Bahasa Perancis, dimana saya sering merecoki Upik (Siti Rabyah Parvati) Syahrir ketika tes/ulangan tiba. Ah, ini nostalgia peristiwa 1980-an. Dengan bantuan kamus kecil itu saya mencoba memahami email kejutan tersebut.<span id="more-249"></span></p>
<p>Armand menduga diri saya masih memiliki hubungan keluarga dengannya. Silsilah keluarganya ia ceritakan dari awal ketika kakeknya meninggalkan Indonesia di tahun 20-30an untuk berpindah ke Suriname. Kalau mengingat-ingat cerita sejarah, pemerintah Belanda kala itu mendatangkan buruh dari Indonesia untuk dipekerjakan di negara jajahan lainnya di Amerika Selatan, yaitu Guyana Belanda yang ibukotanya Suriname.</p>
<p>Kakek Armand itu bernama Martowirono. Kakek saya juga bernama Martowirono. Ketika saya meluncurkan blog <a href="”http://trah.blogspot.com/”">Trah Martowirono</a>, rupanya dari sinilah asal-muasal yang membuat saya bisa dikontak oleh Armad Martowirono dari New York atau pun Erwin Martowirono dari Den Haag, Belanda itu. Sayang, akhir cerita interaksi anak manusia dari tiga benua itu bukan cerita yang berakhir bahagia. Kami ternyata tidak memiliki kaitan keluarga. Hanya nama kakek kami yang kebetulan memiliki nama yang sama saja.</p>
<p>Dalam teleponnya, Erwin sudah menyadari hal itu. Tetapi dari obrolannya, ia ingin perkenalan yang rada aneh itu tidak lalu terputus begitu saja. Ia pun cerita tentang keponakannya, Sharona Dewi Martowirono (“carilah di Google&#8221;, katanya) yang memenangkan kontes kecantikan di Belanda atau tentang saudaranya, Michael Martowirono yang tinggal di Irlandia. Erwin suatu saat ingin ke Indonesia dan ingin pula menemui saya.</p>
<p>Di buntut obrolan berbahasa Inggris itu (untung bukan memakai bahasa Belanda), mungkin untuk menegaskan walau dirinya tidak fasih berbahasa Indonesia atau pun Jawa, Erwin masih bangga punya darah Jawa. Nyatanya, ketika menutup telepon Erwin sempat bilang kepada saya : “Selamat <em>turu</em> ya.”</p>
<p><strong>Tulang berserakan.</strong> Malam itu saya tidur kembali dengan menyungging senyuman. Rupanya saya baru saja memperoleh berkah sebagai seorang <em>famblogger</em> atau <em>family blogger</em>, sebutan bagi seseorang yang meluncurkan blog untuk bercerita mengenai keluarga atau marganya Berkah sebelumnya, blog Trah Martowirono ini telah membuat koran Solopos 5 Juli 2007 tertarik untuk menulis mengenai seluk-beluk trah saya pula. Momen itu kemudian diabadikan untuk salah satu pin kenangan (foto) saat reuni tahun 2007 yang lalu.</p>
<p>Blog Trah Martowirono ini saya luncurkan sejak tahun 2003. Saat itu, di tengah suasana Lebaran, keluarga saya mendapatkan giliran sebagai tuan rumah Reuni Tahunan Trah Martowirono yang ke-17, di Wonogiri. Kebetulan saat itu ada warga trah yang tak bisa hadir karena sedang bertugas sebagai konsultan pertanian FAO-nya PBB di Kamboja. Ide pun muncul : dengan Internet, reuni dengan Mas Kristyo Sumarwono yang ada Pnom Penh Kamboja itu tetap bisa dimungkinkan.</p>
<p>Dengan mengusung komputer ke arena pertemuan yang tersambung TelkomNet Instan, akhirnya jarak antara Wonogiri-Pnom Penh itu tidak menjadi kendala lagi. Reuni kita pun juga berlangsung mengesankan di dunia maya. Bahkan ditutup dengan salam hasil impor langsung dari Kamboja saat itu. Salam dari bahasa Kamboja itu berbunyi : <em>Cocet Krusa, Martowirono !</em> Hidup, Trah Martowirono !</p>
<p>Trah Anda, keluarga besar Anda, juga dapat hidup dan hadir di dunia maya. Apalagi ketika mobilitas antarwarga kini jadi mendunia, maka sangat mungkin terjadi sebuah keluarga besar memiliki anggota warga yang hidupnya saling terpisah. Tidak hanya berpisah kota, propinsi, bahkan terpisah oleh negara atau pun benua. Hanya Internet yang mampu merengkuhnya kembali. Dan blog merupakan salah satu sarana terbaik, juga termudah, untuk mempersatukannya.</p>
<p>Orang Jawa memiliki pepatah, <em>ngumpulke balung pisah</em>. Menghimpun kembali tulang-tulang yang berserakan, yang selama ini terpisah-pisah. Ikhtiar ini sering terjadi atau terwujud ketika kita mengadakan reuni. Untuk merekatkan kembali kekerabatan yang mungkin luntur digerus oleh perjalanan waktu. Baik itu reuni sekolah, perguruan tinggi, juga reuni keluarga. Reuni yang berlangsung di dunia fisik tersebut mungkin hanya berlansgung setahun sekali, atau lima tahun sekali. Tetapi dengan blog, reuni itu bisa kita langsungkan setiap hari.</p>
<p>Akhirnya, ijinkanlah saya mengajak Anda semua : jadilah sebagai seorang <em>famblogger</em> hari ini. Cerita-cerita tentang keluarga besar Anda pantas untuk dibagikan kepada dunia. Untuk memperkaya khasanah dan sudut pandang kita sebagai sesama manusia.</p>
<p>Siapa tahu, di ujung malam Anda akan memperoleh telepon tak terduga. Baik oleh seorang marinir Belanda, atau siapa pun mereka, yang memiliki pemahaman yang sama sebagaimana Dodie Smith (1896-1990) memberi makna arti keluarga.</p>
<p>Dramawan dan novelis Inggris itu bilang, keluarga merupakan ikan gurita lembut di mana kita tidak bisa menghindarkan diri dari pelukan belalainya. Dengan blog, belalai itu mampu merengkuh dan mengeratkan keluarga Anda, di mana pun mereka tinggal di dunia.</p>
<p><em><strong>Bambang Haryanto</strong>, blogger dari Wonogiri sejak tahun 2003. Salah satu blognya baru saja diundang untuk tercatat di <a href="”http://www.blogged.com/blogs/esai-epistoholica.html/”">Blogged.com</a>, yaitu <a href="”http://esaiei.blogspot.com/”">Esai Epistoholica</a>. Tesisnya mengenai manfaat blog untuk pemberdayaan komunitas kaum epistoholik atau pencandu penulisan surat pembaca sebagai salah satu pilar penegakan kehidupan berdemokrasi memenangkan <a href="”"><br />
Mandom Resolution Award 2004</a>.</em></p>
<p><em>Bersama Mayor Haristanto dari <a href="”http://aengaeng.blogspot.com/”">Republik Aeng Aeng Solo</a> telah memprakarsai gagasan deklarasi 30 Juli 2008 sebagai <a href="”http://solocybercity.blogspot.com/”">Solo Cyberholic Day</a> di tengah pesta 468 netter Solo yang bersama-sama mengakses Internet tanpa kabel di kawasan City Walk Solo untuk meraih Rekor MURI pada tanggal yang sama.</em></p>
<p><em>Ayo ngeBlog! menerima kiriman artikel tentang pengalaman ngeblog, motivasi ngeblog, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan aktivitas ngeblog, dari teman-teman semua. Silakan kirim saja lewat email: ilmanakbar [at] gmail.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2008/09/09/famblogger-menghimpun-tulang-yang-terserak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blogger Kampung dan Ritus Agustus</title>
		<link>http://www.ayongeblog.com/2008/08/22/blogger-kampung-dan-ritus-agustus/</link>
		<comments>http://www.ayongeblog.com/2008/08/22/blogger-kampung-dan-ritus-agustus/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 03:33:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang Haryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[17an]]></category>
		<category><![CDATA[agustus]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ayongeblog.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah tulisan dari blogger tamu Ayo ngeBlog!: Bambang Haryanto Ayo mejeng dulu ! Sang ekor panjang itu mempesonakan. Ini bukan cerita tentang si pony tail, sop buntut, atau ular kobra. Walau pun sehari-hari saya mengucir rambut saya, tetapi ini juga bukan cerita mengenai rambut saya. Melainkan cerita menyangkut pemikiran jenius dari sosok nama : [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ini adalah tulisan dari blogger tamu Ayo ngeBlog!: <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview ('/outbound/esaiei.blogspot.com');" href="http://esaiei.blogspot.com/">Bambang Haryanto</a></em></p>
<p><strong>Ayo mejeng dulu !</strong> Sang ekor panjang itu mempesonakan. Ini bukan cerita tentang si <em>pony tail</em>, sop buntut, atau ular kobra. Walau pun sehari-hari saya mengucir rambut saya, tetapi ini juga bukan cerita mengenai rambut saya. Melainkan cerita menyangkut pemikiran jenius dari sosok nama : <a href="http://web.archive.org/web/20041127085645/http://www.wired.com/wired/archive/12.10/tail.html/">Chris Anderson</a>. Anda sudah mengenalnya ?</p>
<p>Cerita saya tentang tesisnya mengenai fenomena <em>the long tail</em> atau  ekor panjang ini, baik yang terkait mashab <a href=" http://esaiei.blogspot.com/2008/01/surat-pembaca-dan-jurnalisme-warga.html/"> jurnalisme warga</a> atau terkait <a href=" http://komedian.blogspot.com/2008/01/bom-api-4-long-tail-dan-impian.html/"> kegagalan saya dalam audisi API-4</a>,  tidak akan saya ulangi di tulisan ini.</p>
<p>Hanya saja,  pemikirannya yang mampu memberikan rasa optimistis kepada para blogger dan calon blogger, kiranya patut diberi garis bawah. Chris Anderson intinya bilang, kasarnya, ayo ngeblog dululah. Tampil dulu atau mejeng dulu di Internet. Karena suatu saat, yakinlah, bahwa  blog Anda, pemikiran Anda, akan ditemukan oleh pembaca yang relevan.  Rupanya, <em>well</em>,  saya telah diberi berkah untuk bisa memergoki keajaiban yang dinubuatkan olehnya.<span id="more-208"></span></p>
<p>Di bulan Februari 2008 lalu, ada seorang tetangga yang dikenal sebagai kurir kampung saya, meninggal dunia. Namanya Sudarsono. Punya sebutan, Kunthil. Rasa kehilangan warga kampung saya, Kajen, saya tuangkan di blog  <a href="http://kajenku.blogspot.com/2008/02/kunthil-telah-pergi.html/">Kajenku, Kampungku, Kebanggaanku</a>.</p>
<p>Pada beberapa bulan kemudian, posting ini mendapatkan komentar. Dari seseorang yang bernama Roni, tinggalnya di Tangerang. Ia mengaku telah mengenal mendiang Sudarsono tadi. Ia mengucapkan bela sungkawa. Bagi saya, sekali lagi, ini keajaiban Internet,  setelah pernah sebelumnya mengalami <a href="http://song4anez.blogspot.com/2006/01/widhiana-laneza-20-desember-2005-oleh.html/">kejaiban serupa</a> beberapa saat yang lalu.</p>
<p><strong>Ritus Agustus.</strong> Keajaiban dari Roni itu saya temui baru-baru saja ini. Karena blog kampung saya itu lumayan terbengkalai. Sehingga posting dari Roni tadi baru saya ketahui ketika bulan Agustus tiba. Mengapa Agustus ?</p>
<p>Karena pada bulan inilah kita sebagai bangsa Indonesia tergerak untuk memperingati kemerdekaan negara kita. Di mana pun akan banyak kegiatan. Dan bagi seorang blogger kampung, saya berpendapat bahwa ritus Agustusan itu kaya sebagai  sumber cerita. Bukankah blog itu  menjadi hidup dan bahkan akan lebih hidup bila isinya cerita, cerita dan cerita ?</p>
<p>Cerita ritus Agustusan mungkin tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan kampung, dari beragam lomba dan perayaan, mungkin nyaris sama. Tetapi toh beberapa pelakunya berbeda. Suasana juga berbeda. Tahun lalu, misalnya, saya belum bisa memotret beragam kegiatan. Kini, sebagai &#8220;wartawan kampung&#8221; saya bisa memanfaatkan Nikon Coolpix L-11 saya guna melengkapi reportase itu dengan beberapa foto.  Juga beberapa video pendek, tetapi masih gagal memunggahnya, <em>upload</em>,  karena kualitas koneksi Internet di Wonogiri belum memadai ?</p>
<p>Baiklah. Ritus Agustusan, menurut saya,  adalah peluang bagi sesama untuk  memberikan motivasi, memberikan dorongan dan apresiasi kepada pahlawan-pahlawan lokal. Yaitu para tetangga kita yang menjadi panitia dan yang berperanserta dalam mengikuti beragam lomba. Sungguh menarik melihat mereka dengan rasa bangga telah memamerkan hadiah yang berhasil mereka raih. Ada yang memperoleh cermin toilet, selembar handuk atau beberapa buku tulis.  Kebetulan rumah saya dipakai sebagai tempat pembagian hadiah, sehingga saya dapat ikut menikmati perasaan kemenangan mereka.</p>
<p>Sebagai seorang blogger, semua momen keterlibatan sampai kemenangan warga kampung saya ini layak untuk dicatat. Juga layak untuk diceritakan kepada dunia. Di blog <a href="http://kajenku.blogspot.com/">Kajenku, Kampungku, Kebanggaanku</a>, apabila Anda berkenan, Anda dapat menikmati ritus Agustusan di kampung kami. Kunjungan Anda kami nanti.</p>
<p>Karena tidak mungkin menyuruh warga Kajen untuk ramai-ramai akses Internet, maka cerita-cerita itu haruslah dicetak. Kemudian dipajang di papan pengumuman yang berada di pos ronda yang terletak di mulut jalan. Pagi tadi, saat pulang dari jalan kaki pagi, saya melihat  sekumpulan warga Kajen telah membacanya.</p>
<p>Terima kasih, kata hati saya. Karena mereka telah mau membacanya. Dan sebagai seorang blogger kampung, momen semacam itu  mampu memicu semangat saya untuk tidak berhenti dalam berbagi cerita, cerita dan cerita. Tentang mereka, tentang kita, tentang kehidupan, untuk sesama. Karena koran-koran regional, apalagi koran nasional bakal tak tertarik meliput acara Agustusan kelas kampung, maka blog merupakan media ideal bagi warga kampung saya untuk bisa tampil di panggung dunia.</p>
<p>Bagaimana suasana Agustusan di kampung Anda ? Sudahkah pula Anda tergerak untuk menceritakannya kepada dunia ?</p>
<p><em><strong>Bambang Haryanto</strong>, blogger dari Wonogiri sejak tahun 2003. Salah satu blognya baru saja diundang untuk tercatat di <a href="http://www.blogged.com/blogs/esai-epistoholica.html">Blogged.com</a>, yaitu  <a href="http://esaiei.blogspot.com/">Esai Epistoholica</a>.  Tesisnya mengenai manfaat blog untuk pemberdayaan komunitas kaum epistoholik atau pencandu penulisan surat pembaca  sebagai salah satu pilar penegakan kehidupan berdemokrasi memenangkan Mandom Resolution Award 2004. </em></p>
<p><em>Bersama Mayor Haristanto dari <a href="http://aengaeng.blogspot.com/">Republik Aeng Aeng Solo</a> telah memprakarsai gagasan deklarasi 30 Juli 2008 sebagai <a href="http://solocybercity.blogspot.com/">Solo Cyberholic Day</a> di tengah pesta 468 netter Solo yang bersama-sama mengakses Internet tanpa kabel  di kawasan City Walk Solo untuk meraih Rekor MURI pada tanggal yang sama. </em></p>
<p><em>Ayo ngeBlog! menerima kiriman artikel tentang pengalaman ngeblog, motivasi ngeblog, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan aktivitas ngeblog, dari teman-teman semua. Silakan kirim saja lewat email: ilmanakbar [at] gmail.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ayongeblog.com/2008/08/22/blogger-kampung-dan-ritus-agustus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

