Blog Indonesia: Sedang Sekarat, Sudah Mati, Berevolusi, atau Seperti Ini Saja?

Ini sebuah diskusi yang tampaknya tidak akan berhenti terjadi. Akhir2 ini makin ada saja blogger yang menyinggung tentang hal ini. Pernah ada Postingan Kematian, juga yang baru-baru ini ada, yaitu Senja Kala Blogging di Indonesia? dan ini Not Again: Is Blog Really Dying?

Sedikit menyarikan tulisan-tulisan tersebut:

Senja Kala Blogging di Indonesia?
Blogger Indonesia mulai kehilangan tenaga untuk memperbaharui blognya, karena asiknya ber-Facebook-ria, simpelnya microblogging (Twitter dan Plurk) yang tulisannya cukup <140 karakter, dan semakin banyaknya pengguna Internet lewat HP/BB. Kombinasi ketiga hal ini menyebabkan pengguna Internet Indonesia semakin jarang menyisihkan waktu lama untuk menulis panjang lebar di blognya.

Not Again: Is Blog Really Dying?
Agak kurang setuju tulisan Senja Kala Blogging di Indonesia, karena microblogging bukan lawan dari blogging, namun memang banyak hal non-blogging yang bisa dilakukan lewat microblogging sekaligus: upload foto, update status, dsb.

Apa yang mereka sampaikan sebetulnya sudah saya pikirkan sejak akhir 2008, setelah membaca tulisan ini: Twitter, Flickr, Facebook Make Blogs Look So 2004, cukup persis dengan apa yang telah disampaikan mas Tuhu di Senja Kala Blogging di Indonesia?.

Setelah membaca tulisan itu beberapa saat setelah keluar, pada Oktober 2008, sebetulnya saya antara percaya nggak percaya dengan apa yang dia tuliskan. Tidak percaya, karena kita semua rasanya yakin bahwa tahun 2007-2008 adalah tahun kebangkitan (bisa tidak ya dibilang puncak?) blogosphere Indonesia. Pada tahun-tahun itu kita memiliki euforia “ini loh gw, lewat blog gw”. Blogosphere Indonesia juga mulai dikenal identitasnya, terutama saat Pesta Blogger 2007 yang bertema “Suara Baru Indonesia” terlaksana dengan sukses.

Pada masa itu, blogosphere Indonesia bersatu ‘melawan’ semua yang menyerang blogosphere Indonesia, seperti Roy Suryo, dengan jargonnya “Blogger tukang tipu!” dan “Blog cuma tren sesaat”. Juga pada saat kasus film Fitna yang menyebabkan Multiply, YouTube, dan beberapa website lain diblok, blogger Indonesia menyuarakan hal ini keras-keras. Berhasil, karena akhirnya kita bisa berdiskusi langsung dengan Bapak Menkominfo yang kemudian mengatakan bahwa Blogger adalah keluarga dari pemerintah. Ya, 2007-2008 adalah masa-masa emas blogosphere Indonesia. Kita kompak dan sangat semangat saat itu.

Namun saya juga terpaksa percaya dengan tulisan itu. Saya mulai merasakan “semangat dan euforia” ngeblog yang berkurang pada akhir 2008 sampai sekarang. Walaupun tidak sempat mencatat dan menulis bukti nyatanya, saat itu saya melihat bahwa blogger-blogger senior yang saat saya pertama ngeblog 3 tahun lalu, saya jadikan ‘guru’ ngeblog, saat itu sudah semakin jarang mengupdate tulisannya. Blog-blog populer yang masih suka update pun, saya ngeliat rata-rata kok komentar yang masuk lebih sedikit dibandingkan dengan dulu. Atau nggak usah jauh-jauh, saya pun semakin jarang menulis di Ayo ngeBlog dan blog personal saya, juga menjadi lebih jarang blogwalking, dibandingkan tahun 2007-2008 itu.

Ditambah lagi adanya sebuah fakta baru, hasil survei online blogger Indonesia yang diselenggarakan oleh IndoPacific Edelman dan komunitas Blogfam pada akhir 2008, yang menyebutkan bahwa rata2 orang Indonesia berhenti aktif ngeBlog setelah dua tahun. Ditambah fakta dari dua tulisan tersebut, hal ini semakin mengokohkan  bahwa aktivitas ngeBlog seperti yang ada pada saat ini akan punah dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi.

Agaknya, pendapat yang mengatakan blog sudah akan punah terasa kontradiktif dengan data dari bang Enda Nasution. Dia menyebutkan bahwa jumlah blogger Indonesia selalu meningkat tiap tahun, bahkan diperkirakan tahun ini akan menembus angka satu juta blogger. Atau jangan-jangan ini adalah angka dari blogger yang nantinya akan meninggalkan blognya setelah dua tahun?

Akhirnya, apakah jangan-jangan Roy Suryo benar bahwa blog hanya tren sesaat? Musnah karena social network dan microblogging jauh lebih menarik dari blogging? Atau berevolusi menuju bentuk yang lebih baru lagi seperti videoblogging, podcast, atau photoblogging? Atau tetap ada dengan kondisi seperti sekarang, berdampingan dengan social network dan microblogging? Atau apa? Tampaknya pertanyaan ini tidak bisa dijawab sekarang, hanya waktu yang bisa menjawabnya..

Popularity: 3% [?]

Related posts:

  1. Blog Itu Seperti Tempat Jual Diri
  2. Nulis Bareng : Blog itu seperti …
  3. Orang Terkenal Saja Bisa Punya Waktu untuk Nge-Blog.. Kenapa Kita Tidak?
  4. Blogging Tidak Mati karena Microblogging
  5. Andra: Baca Blog-ku Saja
Gagas Roman Indonesia

About the Author

Ngeblog sejak April 2006, lalu bikin Ayo ngeBlog! pada tahun 2007. Alhamdulillah banyak yang bantuin hingga Ayo ngeBlog! bisa jadi seperti sekarang. Juga Co-founder, Owner, dan Vice President Director di Tunas Univindo Mandiri (Univind), perusahaan web konsultan yang berbasis di Depok. Follow twitternya @ilmanakbar. Blog pribadinya ada di ilmanakbar.dagdigdug.com.