Bayangkan ketika beberapa tahun yang lalu kita belum mengenal internet, dunia tidak lagi sesempit saat ini. Dimana saat ini kita bisa memanfaatkan berbagai media untuk mencurahkan isi hati, mengungkapkan gagasan dan pemikiran. Mulai dari surat pembaca, opini di media cetak, mading dan yang terbaru dan terus berjalan adalah blog.
Buat saya blog adalah media saya mengungkapkan gagasan dan pemikiran, saya tidak menyukai curhat lewat blog dan kalaupun ada tulisan yang bercerita pengalaman pribadi sebisa mungkin saya kemas dengan pengalaman dan pesan yang bermanfaat untuk dibagi, sehingga “curhatan” itu tak jadi seperti diary online.
Ngeblog sebenarnya kegiatan yang bermanfaat kok, tidak selalu buang-buang waktu memandang layar komputer dan menekan jari-jari di tuts keyboard untuk ngeblog. Kalau ada yang bilang ngeblog itu tidak bermanfaat, alangkah sayangnya orang itu tak bisa memahami manfaatnya. Saya berikan sebuah contoh cerita, semoga bisa membantu kita memahami bahwa blog itu bermanfaat, meski cerita ini tidak secara langsung berkaitan dengan blog:
Beberapa hari yang lalu adik tingkat saya kuliah, sebut saja A membuat sebuah notes di jejaring sosial facebook dengan tema analisa UU Pornografi yang dikaitkan dengan kebebasan pers. Setelah notes itu dipublish saya adalah salah satu orang yang di-tag. Kalau di blog tag mungkin berfungsi untuk kata kunci bagi search engine melacak tulisan kita tapi di facebook setahu saya fungsinya lebih kepada “memaksa” orang untuk membaca notes kita, saya juga termasuk orang yang menggunakan fasilitas tersebut
.
Setelah tahu bahwa saya di-tag, saya klik judul notes si A, melihat deretan kalimatnya yang begitu panjang dan mata saya bergerak langsung ke bawah menuju kolom “write a comment”. Ya, saya tidak membaca notesnya. Ini bukan semata-mata saya tidak suka dengan isi tulisan A. Namun saya mendapati tulisan tersebut berjenis tulisan ilmiah, dilengkapi abstraksi, pembuka isi dan penutup!
Pertanyaannya, di tengah kecanduan masyarakat berfacebook ria sebagai ajang silaturahmi, memberi comment pada status kawan dan wall-to-wall, bermain aplikasi, chatting dan sebagainya seberapa banyakkah orang yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca sebuah tulisan ilmiah seorang mahasiswa di sebuah website jejaring sosial? Mungkin jawabannya hanya sedikit orang saja. Saya pribadi ketika mengetahui jenis tulisannya seperti itu langsung memberikan komentar namun bukan tentang substansi tapi lebih sebagai sebuah ajakan untuk Ayo Ngeblog
.
Notes setahu saya merupakan bagian dari microblogging yang bisa kita manfaatkan di jejaring sosial tersebut. Namanya saja micro, otomatis terbatas lahan dan fasilitasnya, berdampak kecil dan kecil kemungkinan juga dibaca oleh orang banyak.
Bandingkan kalau tulisan ilmiah dari si A tersebut dimasukkan ke dalam blog pribadinya, diikuti dengan tulisan-tulisan yang lain. Bisa diberi tag agar mudah dilacak search engine, kemudian dibaca banyak orang dan bisa jadi ajang diskusi sendiri di dunia maya terkait tema tulisan. Ini jauh lebih bermanfaat bukan?
Oke kita beralih ke contoh yang lain. Anda tahu Romi Satria Wahono? Blogger, Dosen IT, Founder Ilmukomputer.com, CEO Brainmatics dan seabrek kegiatan lainnya. Dalam sebuah seminar yang saya ikuti, Romi yang lulusan Jepang ini mengatakan bahwa banyak pekerjaan yang dilakoninya didapat bukan dari hasil melamar pekerjaan sana-sini, tapi ia ditawari oleh lembaga yang membutuhkan tenaganya. Tawaran itu berdatangan karena ia membangun kompetensi salah satunya lewat tulisan-tulisan di blognya, sehingga orang banyak mengenal dia dengan kompetensi di bidang IT.
Kedua contoh di atas mengarah pada satu kesimpulan, bahwa blog sangat bisa menjadi tempat menjual diri kita. Menjual diri di sini artinya menjual citra, kemampuan, kompetensi yang kita miliki. Kalau kita suka dan bisa menulis sastra kita bangun kompetensi diri di blog dengan karya-karya sastra, kalau kita suka dan bisa menulis tentang masalah-masalah ekonomi ya kita bangun kompetensi diri di blog dengan tulisan dan analisa seputar masalah ekonomi begitu seterusnya.
Saya sendiri juga sedang membangun kompetensi, meski blog saya hingga saat ini belum terfokus pada satu bidang tertentu, namun saya membangun blog saya dengan tulisan-tulisan yang bernafaskan 2 hal “kritis” dan “humanis” sehingga selain diharapkan bisa bermanfaat dan menjadi bahan diskusi juga bisa memberikan kesadaran baru tentang suatu hal yang saya angkat dalam setiap tulisan di blog saya.
Siapapun bisa memanfaatkan blog sebagai media yang sarat manfaat, berguna untuk diri sendiri ataupun masyarakat luas. Jadi Ayo Ngeblog!!
Menurut saya, blog itu bahkan lebih dari tempat “jual diri”.
Blog sudah menjadi budaya
wah mas fikri kalo sudah jadi budaya semestinya sekarang makin banyak orang yang gak ragu untuk ngeblog dong, masalahnya di lingkungan saya masih minim yang serius ngeblog
mungkin beda di lingkungan anda sudah jadi budaya
Jangan dibilang menjual diri ah…. konotatif sekali. Lebih enak dibilang menjual jasa/produk..
@ widodo : seperti yang saya sampaikan di atas mas, yang saya maksud menjual diri adalah menjual kompetensi yang kita punya, jadi menjual diri tidak harus selalu bermakna negatif kok
Setuju, saya kira ngeblog tu membuat otak kita selalu aktif dan bisa bisa untuk mengisi waktu luang..
Gue suka banget baca blog, tapi gue kagak bisa bikin blog, gue pingin banget, mau gak ngajarin gue tentang blog?
mas.. aku mau angkat uniknya komunitas blogger jadi skripsi,aku di psikologi…. baru juga ikut ngeblog.bisa dibantu khan?
Insya Allah bisa
, bantunya gimana nih?