Gadis Pulomas minggu pagi. Awas : berhenti merokok mampu menimbulkan penyakit baru. Penyakit getol membual. Membual karena telah berhasil melepaskan diri dari cengkeraman kecanduan nikotin, yang bagi saya pribadi sudah berlangsung selama hampir 17 tahun.
Saya mampu berhenti merokok tahun 1989. Pada tahun yang sama, saya mulai melakukan olah raga jalan kaki pagi. Sampai kini. Beberapa orang melakukan jalan kaki pagi sebagai waktu untuk berdoa, bermeditasi atau berpikir. Secara sendirian melakukan jalan kaki akan membantu Anda memperoleh perspektif dan keseimbangan.
Jalan kaki bermanfaat untuk mengurangi stres, menjernihkan pikiran, menggali sisi kreatif Anda, menemukan gagasan-gagasan baru dan memecahkan masalah. Demikian kesimpulan situs AARP (American Association of Retired Persons), organisasi kaum pensiunan Amerika Serikat.
Saat itu, saya tinggal di Jalan Belimbing, Balai Pustaka Timur, Rawamangun, Jakarta Timur. Komplek yang dulu bernama Gedung Pola itu, di seberang Apotik Rini, kini sudah menjadi ruko.
Arena favorit jalan kaki pagi saya di hari Minggu adalah lapangan Pulomas. Di bangku tribun lapangan pacuan kuda Pulomas itu pula saya mampu merampungkan buku Being Digital (1995)-nya nabi media dari Media Lab MIT, Nicholas Negroponte. Buku teknologi informasi yang mampu membuat saya menangis karena optimisme yang ia semaikan di dada ini mengenai masa depan dunia digital yang gemilang.
Di sekitar area lapangan pacuan kuda itu terdapat dua lapangan yang diisi dua kelompok senam yang berbeda. Ada senam kesegaran jasmani yang dipandu dengan lagu-lagu pop/disko, yang bergairah, sementara kelompok lain melakukan senam pernafasan dengan iringan musik bernuansa Mandarin yang lebih lamban.
Saya tidak ikut keduanya. Saya memilih memutari lapangan, 3-5 kali, berlawanan arah jarum jam. Dengan cara demikian saya bisa “mengabsen” sosok-sosok asing tetapi terasa akrab di area tersebut, familiar strangers, karena kita senantiasa bertemu di minggu pagi.
Ada sekelompok bapak-bapak yang berbahasa Batak. Ada pasangan setengah baya, sementara anak gadisnya dibiarkan berjalan sendirian. Ada keluarga muda, berdua berkeliling dengan mendorong kereta bayi. Kelompok pria bersepeda nampak duduk-duduk di pinggir jalan yang memisahkan kedua lapangan. Mereka mengobrol sambil istirahat dan cuci mata. Ada mobil bak terbuka, di dekat mereka, yang jualan susu kedele. Di sisi utara terdapat warung dengan kursi dan meja yang selalu penuh pembeli.
Beautiful girl. Salah satu di antara familiar strangers yang rasanya ingin selalu saya temui di tiap minggu pagi, antara 1996-1997 itu, adalah si grasshopper. Ah, ini hanya nama kode, nama rekaan, untuk menggambarkan sosok perempuan dengan kaki belalang yang menawan. Ia selalu datang sendirian. Menaiki sepeda. Kemudian kadang menghilang, tahu-tahu sudah mingle di antara peserta senam. Tentu saja bukan pada kelompok senam pernafasan, yang didominasi kaum sepuh, para manula.
Ia ideal untuk sosok pemain bola volley. Atau model. Tingginya sekitar 168-170 cm. Menjulang dan menonjol. Selalu memakai topi baseball warna turquoise, biru kehijauan. Kuncir ekor kuda menyeruak lubang bagian belakang topinya. Kami merasa saling mengenal, ada feeling, walau tanpa tahu nama masing-masing.
Beautiful girl, mungkin demikian seorang Jose Mari Chan akan menyebutnya seperti cerita dalam lirik lagunya yang berjudul sama : mengenai gadis cantik menawan, berkelebat di depan matanya, yang membuatnya jatuh cinta, dan kemudian ia kuatirkan dirinya menghilang selamanya seperti “gita di waktu malam.” Ia memang menghilang sejak minggu pagi 25 Mei 1997.
Mungkin ia kecewa. Gestur yang ia munculkan, yang menandakan keinginannya untuk bisa saling mengenal di saat itu, tidak saya tanggapi secara agresif. Minggu-minggu berikutnya ia tak muncul lagi. Craig Newmark melabeli momen seperti ini sebagai missed connections dan menjadi salah satu layanan dalam situsnya yang terkenal.
Sejak Januari 1998 saya pun meninggalkan Jakarta, sampai kini. Sehingga sang belalang menawan itu tinggal berenang-renang dalam samudera kenangan. “Swimming forever in my head / tangled in my dreams / swimming forever,” meminjam lirik dari “Radio”-nya The Corrs.
Omongan tolol. Keriuhan setiap minggu pagi di lapangan Pulomas itu boleh jadi mirip yang Anda alami dan rasakan bila Anda terjun sebagai warga situs jaringan sosial seperti Facebook. Sebagian dari mereka yang memang Anda kenal sebagai pribadi, baik mantan kekasih sampai teman kuliah dua puluh tahun lalu, tetapi sebagian besar boleh jadi merupakan orang-orang asing yang akrab atau hanya berlaku sok akrab bagi Anda.
“I want to hate Facebook, but it’s getting so hard,” tulis Paul J Rose dari Merchandise Mania di blognya, Januari 2009 yang lalu. Ia bertanya : dapatkah Anda membayangkan dalam suatu pesta di mana semua orang mengenalkan dirinya sebagaimana mereka mengenalkan diri di Facebook ? “Hai, saya Paul dan saya akan mengenalkan diri dengan seseorang yang asing sekarang : maukah Anda menjadi teman saya ?” Menurutnya, cara semacam itu bukan networking. It’s drivel, cetusnya.
Terima kasih, Paul. Menarik juga penilaian Anda. Yang saya tahu, setelah omongan tolol itu memperoleh klik konfirmasi sehingga perkawanan baru terjadi, semua warga keriuhan dalam Facebook itu ingin memperebutkan atensi Anda. Bukankah Thomas Mandel dan Gerard Van der Leun dalam bukunya Rules of The Net : Online Operating Instructions for Human Beings (1996) telah menyimpulkan, the hard currency of cyberspace is attention ?
Bila kita memperoleh atensi, kita merasa baik. Semakin banyak atensi yang kita peroleh, semakin kita merasa berharga di depan teman-teman Facebook lainnya. Hal itu mencandu (baca : 10 Tanda Kecanduan Facebook), juga diam-diam bisa menjengkangkan kita terjun bebas menghuni lonely planet, istilah dari Elizabeth M. Johnson, karena hubungan yang terjadi bukanlah hubungan yang autentik. Mudah-mudahan saya bisa menuliskan topik ini secara rinci di lain kali.
Mana untuk saya ? Facebook juga membuat kita menjadi insan-insan pengintip dan penguping. Walau sejatinya, menurut saya, apa yang kita kuping atau yang kita intip dari foto-foto sampai video mereka tersebut sebagian besar seringkali hanya bermakna bagi mereka yang memajangnya. Saya tidak tahu mengapa mereka-mereka yang saya tahu persis bukan orang sembarangan, tetapi begitu muncul di Facebook justru sisi-sisi yang paling menimbulkan pertanyaan yang mereka tonjolkan.
Dengan demikian, bila setiap kali kita membuka akun Facebook dengan berbekal WIIFM, What’s In It For Me, mungkin kebanyakan kita akan kecewa. Mungkin rentetan kekecewaan semacam itulah yang membuat seseorang teman memposting di wall-nya bahwa ia ada niatan ingin mundur dari jaringan Facebook. Tak ada nilai tambah yang ia peroleh, begitu alasannya. Alasan yang sah. Juga patut dihargai. Walau mungkin ia kurang bersabar. Atau memang terlalu menuntut dalam memperoleh kue-kue pergaulan dunia maya, yaitu atensi tadi.
Dalam kerumunan familiar strangers semacam Facebook memang telah dibuka peluang bagi kita untuk berhimpun dalam kelompok, group, yang memiliki minat tertentu. Layanan yang bagus. Sayang, pengalaman pahit saya, yang terasa menjengkelkan, adalah ketika mendapatkan rentetan message dari pemilik kelompok itu yang isinya tidak sesuai dengan visi-misi sampai jati diri kelompok bersangkutan.
Saya, tentu saja melayangkan protes. Bila protes ini tidak digubris, maka meninggalkan kelompok bersangkutan merupakan pilihan yang mungkin segera saya lakukan. Seperti halnya suasana kerumunan di lapangan Pulomas di minggu pagi, semua orang memang boleh datang dan juga boleh pula pergi. Seperti pasar malam.
Facebook vs blog. Suasana Facebook memang seperti pasar malam. Terlalu banyak kebisingan, tetapi kebanyakan tidak memiliki bobot. Seperti kerupuk yang warna-warni, renyah, dikunyah menimbulkan berisik, tetapi tidak mengenyangkan Juga tidak mengandung gizi yang menyehatkan.
Coba lihat dan amati, bunyi status yang ada atau coretan di wall mereka, lalu bacalah sambutan terhadap postingan tersebut. Hampir dapat dipastikan sebagian besar adalah celoteh hal yang remeh temeh, dan celakanya (kalau boleh disebut celaka) : dengan hal-hal yang sangat dangkal itu saja, semua merasa mudah bergembira dan berbahagia. Bahkan kecanduan olehnya !
Blog, bagi saya, bukan sebuah keriuhan pasar malam. Kalau di Pulomas itu arena lokasi senam, jalan kaki dan komplit dengan warungnya ibarat sebuah keriuhan dari status dan dinding Facebook, maka di tribun tepi lapangan pacuan kuda, yang sepi dan leluasa itu, adalah sebuah blog. Di Facebook memang ada arena untuk ngeblog, yaitu My Notes, tetapi sebagian besar justru ditelantarkan. Padahal, menurut saya, di arena inilah saya merasakan keheningan. Suasananya lebih kontemplatif. Ideal untuk berpikir. Untuk menganyam gagasan. Kemudian menuliskannya.
Merujuk hal itulah, saya menyukai blog-blog yang memiliki subjek yang khusus. Yaitu blog yang mudah ditemukan melalui Google ketika kita membutuhkan informasi tertentu. Blog yang punya spesialisasi, menekuni nieche yang khusus, sehingga menunjukkan sang blogger pemiliknya memiliki otoritas tertentu yang layak dipercaya.
Saya kurang menyukai blog-blog “campur-bawur” yang isinya beragam, campur aduk, yang seperti halnya keriuhan pelataran Facebook, lebih banyak diisi hal-hal yang trivial. Remeh temeh.
Walau pun demikian, bukan berarti Facebook identik dengan hal-hal trivia itu. Di Facebook ini saya bisa menggalang kontak dengan seorang David Parrish. Ia adalah International Business Adviser for Creative People dari Inggris. Ia mempercayakan kepada saya untuk mencari kontak dan koneksi agar e-booknya berjudul T-Shirts and Suits: A Guide to the Business of Creativity dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Terus terang, Facebook merupakan media jaringan sosial yang baru bagi saya. Saya bergabung berkat diajak Rdanz Kusuma dari Malang. Tanggal 19 Juli 2008. Teman pertama yang mengkonfirm drivel saya adalah : Petty Tunjung Sari.
Masih banyak hal yang harus saya pelajari dari Facebook. Untuk itu saya telah membuat folder tersendiri dalam file, di mana info yang terbaru antara lain Facebook can ruin your life sampai berita bahwa Birmingham City University di Inggris telah menawarkan gelar master di bidang media sosial. Di sini, para mahasiswa bakal diajar intensif dengan materi kuliah mengenai situs jejaring seperti Facebook, Twitter dan Bebo.
Facebook, dahsyat.
Tetapi kali ini saya tidak ingin muluk-muluk berharap mengenai kedigdayaan Facebook tersebut. Mengutip lirik lagunya Jose Mari Chan, ”Beautiful girl, wherever you are /I knew when I saw you, you had opened the door /I knew that I’d love again after a long, long while/I’d love again,” siapa tahu pesan ini mampu melambung ke kosmis, menyeruak di antara jutaan pengguna Facebook di dunia, sehingga sampai kepada yang berhak menerimanya. Ini memang ibarat perjudian nasib.
Refren Jose Mari Chan menggema di hati :
It was destiny’s game
For when love finally came on
I rushed in line only to find
That you were gone
Wonogiri, 3-4/4/2009
Popularity: 11% [?]

Ayo ngeBlog! ini ada untuk memotivasi masyarakat Indonesia supaya bersegera menjadi blogger, apapun profesi awalnya. Tidak cuma jadi blogger yang biasa saja, tapi harus jadi blogger yang bermanfaat!. 




Salam kenal buat bambang haryanto & salam blogger juga. Saya adalah salah satu yang tinggal saat ini yang tidak jauh dari pacuan kuda pulomas. Memang banyak kenangan disana. Masa kecil saya yang indah terkenang disana. 24 Tahun jua saya saat masih disini. Namun Pulomas tak seindah dulu. Bangunan komersil sudah mulai berdiri. Danau pulomas rata dengan tanah. Hanya air yang cetek dan pasir2x yg gersang. Namun masih ada aktifitas pedagang diluar danau pulomas. Dan hijau daun tak ada lagi di area danau. Saya tidak tahu kenapa seperti itu. Akhirnya saya enggan tuk melepaskan penat di sana akhir – akhir ini. Andaikan saja masih seperti dulu…..
facebook memang seperti 2 mata pisau
tak ada kenangan untuk Pulo Mas untuk aku. Tapi BeatifulGirl ini buat anda fakta atau fiktif? atau apakah sama dengan gadis khayal anda,gadis yang anda bentuk dan perlakukan sekehendak?
banyak cerita yang tidak bisa dilupakan apa lagi buat orang yg tinggal di pulomas, dulu or skarang tdak jauh berbeda slalu ada nilai lebih untuk menceritakan pulomas…