Facebook, Blog dan Otak Yang Mubazir

Pemimpin Indonesia, tirulah Mark Zuckerberg. Ketika kebijakan dalam pengelolaan situs kreasinya, Facebook, diprotes oleh banyak orang karena dianggap eksploitatif, ia mendengarkan.

“Praktek bisnis konvensional dalam dokumen Terms of Use terlalu membatasi upaya meraih cita-cita..utama Facebook untuk menghadirkan dunia yang lebih terbuka dan transparan. Kita percaya bahwa bila kita ingin mengarahkan dunia ke tujuan tersebut, maka kita harus menjadi contoh dalam menjalankan layanan kami agar sesuai dengan cita-cita itu,” tulisnya.

“Mulai hari ini (27/2/2009), kami memberi peluang lebih besar kepada Anda untuk menyuarakan opini bagaimana sebaiknya Facebook dikelola. Untuk itu kami terbitkan dua dokumen untuk Anda tinjau dan komentari. Dokumen pertama, Prinsip-Prinsip Facebook, berisi hak-hak Anda dan akan menjadi kerangka panduan setiap kebijakan yang kami ambil atau alasan kami dalam menolaknya. Kedua, dokumen Pernyataan Hak dan Tanggung Jawab, untuk menggantikan dokumen Terms of Use yang ada.”

Terima kasih, Mark. Untuk Anda yang ingin mengetahui hal penting ini, bahkan nanti ikut voting dalam menentukan kebijakan Facebook, silakan baca “Governing the Facebook Service in an Open and Transparent Way” dengan mengklik : http://blog.facebook.com/

Diskon intelektualitas. Pesan yang dikirimkan Mark Zuckerberg untuk jutaan pemilik akun Facebook akhir Februari 2009 itu mungkin tidak menarik perhatian Anda. Tak apalah. Memang tidak setiap orang memiliki minat, apalagi serius, terhadap seluk-beluk media sosial Facebook ini. Mereka dan kita semua, cukup menggunakannya. Atau tidak menggunakannya, sehingga tidak mampu menghayati manfaatnya, tetapi tergoda untuk bersikap sinis terhadapnya.

Sebuah opini berjudul “Narsis” ditulis wartawan Suara Merdeka, Adi Ekopriyono (Suara Merdeka, 3/3/2009). “Tampaknya budaya narsistis sedang melanda banyak orang. Di Facebook –situs web jaringan sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg, lulusan Harvard, bersama dua rekannya Dustin Moskovitz dan Chris Hughes, orang tidak malu-malu “memamerkan” foto-foto diri untuk dilihat oleh banyak orang. Lewat Facebook, seolah-olah orang berlomba-lomba menarik perhatian orang lain dengan kepercayaan diri yang kadang berlebihan,” tulisnya.

Opini yang menarik. Tetapi memang harus demikian itu tulisan yang lajim disajikan oleh seorang wartawan kebanyakan. Contoh kecil jurnalisme konflik. Mereka menulis opini atau berita sebagaimana menulis sebuah drama. Mereka mencari titik bidik tertentu, memilih mana protagonis dan mana antagonis, diramu dengan hal-hal yang berlawanan antara kedua kubu, sehingga menghadirkan suatu konflik pada benak diri pembacanya. Sajian infotainment yang mengusung isu-isu perseteruan dangkal tetapi membuncah di layar-layar televisi kita juga memiliki rumus sajian yang sama.

Saya mengenal Mas Adi. Bersama pelaku bisnis ekonomi kreatif Purnomo Iman Santoso, yang warga Epistoholik Indonesia asal Semarang, kami bertiga pernah mengobrol di kantor harian Suara Merdeka, Jl. Pandanaran, Semarang (8/11/2007). Ia secara berkala muncul dalam kolom “pulau” di halaman opini Suara Merdeka. Juga terpajang foto diri di dalamnya. Tetapi ia tidak menyertakan alamat emailnya.

Dalam obrolan saya usulkan agar Mas Adi memiliki blog untuk tulisan kolomnya itu. “Agar bisa interaktif,” kata dia sendiri. Tetapi nampaknya usulan saya itu tidak mempan. Kalau saja ia sekarang sudah memiliki blog atau akun Facebook, menikmati manfaatnya dan mengenali rekan-rekan barunya di dunia maya, opini dia tersebut boleh jadi akan menjadi materi obrolan yang menarik. Juga berguna bagi banyak fihak.

Bagi saya, Facebook adalah media baru, mudah dioperasikan pula. Naluri pertama yang muncul pada benak para penggunanya adalah dorongan untuk mengekspresikan diri. Secara mudah pula. Aktualisasinya, ya dengan memajang foto-foto diri mereka, keluarga, teman-teman, bahkan satwa kesayangan. Bisa difahami, terutama bila aksi pajang foto ini dibandingkan dengan upaya berekspresi melalui tulisan.

Kita tahu, memotret itu gampang. Menulis itu (sangat) sulit. Untuk yang terakhir ini saya sering bertanya-tanya, itukah penyebab mengapa di pelbagai media sosial yang menyediakan ruang ekspresi tanpa batas, termasuk di Facebook atau blog, banyak orang justru mendiskon habis-habisan kapasitas intelektualitasnya ketika tampil di media berskala global ini ?

Mengapa media dahsyat ini tidak mereka gunakan untuk mengasah gergaji, guna memperkaya atau mempertajam karunia Tuhan yang amat demokratis, yaitu benda abu-abu misterius yang ada di antara kedua telinga kita ? Boleh jadi memang benar kata mutiara ini : genius has its limitations, but stupidity knows no bounds. Jenius memiliki keterbatasan, sementara kebodohan itu tidak ada batasnya.

Keheranan saya di atas mungkin berlebihan. Adalah seorang Richard Jalichandra, CEO Technorati, suatu situs yang mendata ratusan juta artikel yang muncul di blog seluruh dunia, telah membedakan kadar keseriusan antara isi blog dengan isi posting dalam situs MySpace atau Facebook.

Katanya, “Typically what you find with MySpace and Facebook is that there isn’t a lot of serious blogging. People are just making one or two sentence proclamations and not writing [in-depth] about a subject matter.”

Terima kasih, Richard.

Di media maya, siapa saja memang bebas berekspresi sesuai dengan selera masing-masing. Boleh serius, boleh juga tidak serius. Termasuk egaliter untuk berbuat kesalahan. Empat belas tahun lalu majalah TIME telah menyajikan edisi khusus Welcome to Cyberspace (5/1995). Salah seorang wartawannya, Philip Elmer-DeWitt ketika menulis artikel pembuka, antara lain mengatakan :

“Dilucuti dari pelbagai jeratan eksternal seperti kekayaan, kekuasaan, kecantikan dan status sosial, seseorang cenderung dinilai kehadirannya di dunia maya Internet hanya berdasarkan ide-ide dan kemampuan untuk menjelaskannya dalam prosa yang bernas dan bergairah.”

Mark Zuckerberg, saya kutip di awal tulisan ini, yang belum genap 30 tahun telah memberi kita teladan. Ia memilih untuk tampil secara serius. Bahkan cemerlang. Apakah para pemimpin kita atau bahkan kita sendiri, mau mengikutinya atau tidak, terserah kepada diri masing-masing.

Wonogiri, 8-9/3/2009

Popularity: 9% [?]

Related posts:

  1. Facebook, Beautiful Girl, Pulomas 1997
  2. ngeBlog, Aktivitas Mencerdaskan Otak
  3. Ayo ngeBlog! Kini Hadir di Facebook!
  4. Copy Paste Bukanlah Cara yang Baik untuk Belajar Menulis Blog!
Gagas Roman Indonesia

About the Author

Intellectual hedonist. Meminati kreativitas, media baru, komedi, sepakbola, buku inspiratif dan Carpenters. Diolah menjadi cerita, ibarat menjadi sendok demi sendok garam untuk bisa tertabur ke samudera kearifan.