Bambang Haryanto: Ketika Blogger Bertasbih

Pengantar Ayo ngeBlog!

Ini adalah tulisan terakhir mas BH di Ayo ngeBlog! sebagai blogger tamu.. Mulai dari postingan ini, mas BH sudah resmi ditransfer sebagai kontributor rutin Ayo ngeBlog! (hehe, kaya pemain bola aja).. Tulisan-tulisan mas BH sebelumnya akan diubah authornya dari saya menjadi mas BH sendiri..

Oh iya, sekarang teman-teman bisa tahu postingan-postingan apa aja yang udah ditulis oleh masing-masing kontributor di sidebar.. Jadi gampang tahunya, masing-masing kita udah nulis apa aja.. Makasih buat mas BH  atas masukannya ini..

Dan apresiasi sedalam-dalamnya harus kita sampaikan kepada mas BH atas perhatiannya untuk Ayo ngeBlog! dan perkembangan blog di Indonesia, ditunjukkan atas banyak postingannya selama ini..

Dan inilah tulisan mas BH terbaru:  Ketika Blogger Bertasbih

Kehilangan separo jiwa. “Kata IBM ThinkPad yang tercetak di kardus pembungkus laptop merupakan terjemahan dari perintah Curilah Saya dalam 43 bahasa !” Itulah kata-kata Jim Bartlett dari IBM ketika mengomentari ancaman pencurian komputer jinjing di perusahaannya.

Peringatan yang ditulis Alan S. Kay dalam artikelnya “Laptop Larceny” di majalah Mobile Office (8/1996), kiranya juga patut dicamkan oleh pemakai laptop yang sering melakukan perjalanan. “Ketika pelaku perjalanan bisnis kecurian laptopnya,” tegas Kevin Cofey, polisi khusus menangani pencurian komputer di Los Angeles, “dirinya kehilangan segalanya : laptop, planner, informasi rahasia baik pribadi atau perusahaan, yang tersimpan di dalamnya. Suatu kehilangan yang meluluhlantakkan. Tidak saja bagi dirinya pribadi tetapi juga bagi perusahaan.”

Saya sendiri belum pernah mengalami bencana seperti itu. Saya tidak punya laptop saat ini. Laptop kuno saya, Fujitsu FMV-Biblo 5120 NU2/W, lebih baik berfungsi sebagai sarana olahraga hiking ketimbang sarana thinking. Ia lebih bermanfaat untuk menguatkan tubuh dan punggung ketika dipakai jalan. Karena rusak, ia saya berikan kepada Tika (Solo). Asal ia mau memperbaiki, silakan memakainya. Syukurlah, benda berat itu kini bisa terpakai.

Kehilangan laptop adalah kehilangan separo jiwa. Di seberang toko buku Borders, di tiang listrik trotoar Orchard Road, Singapura, saya menemukan tempelan selebaran. Isinya tentang berita kehilangan laptop. “Yang menemukan harap segera mengontak saya. Kalau tidak, ayah saya akan membunuh diri saya,” pintanya setengah putus asa.

Harian Kompas pernah juga mewartakan seorang pegiat LSM yang begitu meratapi kehilangan perkakas kerjanya yang satu ini. Saya merasa bisa merasakan bencana kehilangan itu ketika flash disk (FD) saya tiba-tiba tidak berfungsi dan harus merelakan segala data di dalamnya untuk hilang selamanya.

Kenangan musnah. Pengalaman memang benar-benar guru yang maha kejam. Ia memberi kita ujian terlebih dahulu dan sesudahnya kita harus mau belajar darinya. Padahal data yang ada di dalam FD saya itu, kurang dari 120-an MB, tentu saja relatif tidak banyak. Tetapi isi dan kenangan yang tersimpan di dalamnya tiba-tiba harus musnah, sungguh sebuah bencana yang tak terperikan.

Mungkin ini hanya bumbu sentimentil : FD ini hadiah dari Niz. Ia jauh-jauh terbang dari London, untuk bertemu dan termasuk memberi stik penyimpan data itu. Ada puluhan foto hasil jepretannya, termasuk panorama lingkungannya yang memutih ketika tersiram dalam lautan salju. Juga foto-foto mengenai matahari tenggelam yang ia bidik dari jendela kamarnya.

Kehilangan data itu, tentu saja, memberikan hikmah. Juga mengilhami munculnya solusi : milikilah back up. Solusi ini memang cocok untuk dokumen berbentuk digital, tetapi bagaimana untuk dokumen berbasis atom atau kertas ? Harus difotokopi ? Solusi satu ini terasa ganjil bagi saya. Utamanya bagi dokumen yang berupa buku harian.

Sebelum era blog atau jurnal di Internet hadir, ketika pertama kali tinggal di Jakarta, 1980, saya memiliki buku harian. Sebagai orang baru di kota besar, juga berpembawaan introvert, buku harian merupakan sarana untuk berlindung dan bertahan. Barangkali bisa disebut sebagai aksi cocooning, meminjam istilah dari futuris Faith Popcorn. Yaitu meringkuk dalam kepompong agar aman, jiwa pun merasa bisa stabil, untuk merasakan oasis kedamaian yang berada dalam relung hati yang terdalam.

Ketika waktu berlalu, apa manfaat dari buku-buku harian itu ? Aktris bomb sex masa lalu, Mae West (1892-1980), punya nasehat cerah tentang buku harian. Katanya, tulis dan simpan buku harianmu karena ia suatu hari akan menjagamu. Pendapat mengenai buku harian lainnya dapat dikutip dari Oscar Wilde (1854-1900), dramawan dan penyair Inggris-Irlandia. Ia katakan, dirinya tak pernah melakukan perjalanan tanpa ditemani buku hariannya. Katanya, seseorang harus ditemani sesuatu yang sensasional untuk dibaca ketika dalam perjalanan naik kereta api. Bagus juga, daripada beli majalah atau koran.

Buku harian itu bisa “hidup” kembali ketika tiba-tiba masa lalu, baik kenangan atau pelakunya, tiba-tiba muncul kembali.Karena dengan memiliki buku harian, masa lalu bukan lagi berupa gumpalan-gumpalan himpunan waktu yang hanya pantas diberi label tahun ini atau tahun itu. Melainkan waktu yang disebut hari demi hari itu memiliki detail, warna, tekstur, nuansa sampai hikmah, sehingga betapa waktu yang berjalan tidaklah terbang begitu saja secara percuma. Dengan buku harian, hari yang lewat tidak identik dengan bulir-bulir tasbih atau rosario yang seragam. Setiap hari menjadi unik layaknya seperti sidik jari.

Termasuk uniknya masa lalu tentang hal-hal yang tidak enak, tidak membahagiakan, yang ketika ditengok kemudian sebenarnya juga tak kalah memberikan makna, juga keindahan. Adalah pengarang dan sutradara yang memberi kita film indah Sleepless in Seattle (1993), Nora Ephron, yang mengatakan bahwa tragedi ditambah waktu adalah komedi. Melihat masa lalu membuka peluang bagi kita untuk mampu menertawakan kekurangan diri kita sendiri. Itulah tanda kedewasaan, juga kewarasan.

Tetapi saya juga tahu, banyak orang yang tidak mampu menertawakan kekurangan dirinya di masa lalu. Juga kekurangannya saat ini. Jaim. Dirinya tidak berani menampakkan sisi-sisinya yang rawan. Pribadi yang mungkin hadir tanpa cela, menjaga citra, halus bagai porselen, tetapi tidak alami dan membosankan.

Perilaku jaim itu di masa depan, amit-amit, juga mampu membunuh bisnis dan perusahaan. Simaklah cerita mengenai jurus co-creation yang pernah dibahas dalam tajuk New Wave Marketing di Kompas (9-10/11/08) oleh Hermawan Kartajaya.

Pakar co-creation James Cherkoff dan Johnnie Moore dalam manifestonya mengatakan bahwa perusahaan masa depan harus berani menunjukkan kekurangan, kesalahan, kesemrawutan dan perilaku minus lainnya yang manusiawi untuk meraih kepercayaan bagi konsumen untuk bekerjasama. ”Smart customers, and the proliferation of online networking, mean that it’s harder and harder to run your business as a black box…Black box create suspicion and frustation,” tandas mereka.

Bukan hidup mekanistis. Kembali ke masalah buku harian, saya kini sedang dilanda frustrasi. Buku harian saya tahun 1993, 1994 (“ada cerita tentang Delta”), 1995, 1996 dan 1997, sebagian telah dimakan rayap (termite). Benar-benar Termite Sang Terminator. Rupanya rayap bekerja dalam kelembaban. Ia menempelkan tanah-tanah basah ke benda sasaran. Selain memakan kertasnya, kelembaban juga itu membuat tulisan tinta saya (walau merk Parker sekali pun) menjadi memudar.

Apakah bencana semacam ini patut disesali ? Apa sebaiknya buku harian itu disimpan dalam bentuk CD ? Atau sebaiknya bencana itu menjadi bahan humor atau olok-olokan ? Misalnya, sebagai seorang bujangan, siapa sih kira-kira yang akan tertarik membaca-baca isi buku harian itu kelak ? Sepertinya kok tidak ada. Isi buku harian saya jauh dari kaya dan dalam seperti buku harian karya Soe Hok Gie atau Ahmad Wahib. Barangkali kalau saya mempunyai anak dan cucu, boleh jadi buku harian itu ada gunanya bagi mereka.

Baiklah, buku-buku harian itu memang saya tulis bukan untuk masa depan. Bukan untuk tahun 2050 atau abad ke-22. Buku harian itu saya tulis untuk menampung curahan hati, pada saat itu pula. Tidak perduli orang lain. Kalau isi buku harian yang ditujukan agar mampu berguna dan juga relevan pada saat ditulis, kini ada media yang ampuh untuk itu : blog.

Syukurlah, sejak tahun 2003 saya telah menjalaninya. Sebagai blogger. Juga menikmatinya. Semoga juga Anda. Karena dengan mengelola blog, ibarat Anda melakukan aktivitas bertasbih, mensyukuri nikmat hidup yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa, hari demi hari. Tetapi bukan menjalani hari-hari hidup yang mekanistis, yang selalu sama antara hari satu dengan hari yang lainnya. Betapa membosankan dan betapa tidak berguna bila isi buku harian atau blog Anda hanya berupa copy/paste isi sebelumnya. Seperti saya sebut sebelumnya, dengan mengelola blog kita mampu membuat setiap hari hidup kita menjadi seunik sidik jari.

Epilog.. Ada sebuah fabel : konon seekor babi mengeluh. Ia merasa mendapat perlakuan yang tidak adil dibandingkan seekor sapi. “Apa kurangnya pengorbanan saya ? Saya harus mati dulu agar daging saya bisa dijadikan sebagai ham, sementara sapi lebih mendapat nama harum dengan memberikan susunya. Bahkan telur ayam goreng pun juga dinamai sebagai mata sapi.”

Seorang bijak mendekati si babi yang sedang menggerutu itu. Katanya, “itulah pahala bagi mereka yang mampu memberikan sesuatu dari dirinya kepada orang lain, semasa dirinya masih hidup.”

Wonogiri, 20-21 Februari 2009

Bambang Haryanto, blogger kampung yang tinggal di Wonogiri. Ngeblog sejak 2003. Salah satu blognya Esai Epistoholica diundang untuk tercatat dalam direktori blog berkelas, Blogged.com, yang bermarkas di Alhambra, California, AS.

Memenangkan Mandom Resolution Award 2004 dengan mengusung tesis manfaat blog untuk pemberdayaan komunitas kaum epistoholik atau pencandu penulisan surat pembaca sebagai salah satu pilar penegakan kehidupan berdemokrasi di Indonesia

PS : Ada foto diaryku yang dimakan rayap, dalam attachment, mohon ditempatkan di tempat sesuai. Kalau balas, via yahoo ya. Thanks.

Popularity: 8% [?]

Suka dengan Ayo ngeBlog?

Share on Facebook













Komentar

Tampilkan foto / icon (gravatar) kamu di samping komentar. Bagi yang belum daftar silahkan daftar dulu di situs gravatar. Berlaku secara global di seluruh web / blog yang menyediakan fasilitas gravatar.

*******************************************************************************************************


mas ridwan
4 March 2009 | 11:11 |
Gravatar Icon

syukurlah sekarang ada internet, semua bisa di back up :)


unggun
4 March 2009 | 14:01 |
Gravatar Icon

selamat yang blog sampeyan masuk di detik/blog sehat of the week

http://www.detikinet.com/read/2009/03/04/090735/1093904/404/nih-dia-blog-sehat-of-the-week

sekali lagi selamat ya :)


iLm@N
4 March 2009 | 14:17 |
Gravatar Icon

terimakasih mas unggun.. :)
do’ain supaya ayo ngeblog bisa terus bermanfaat ya mas..


qodari
5 March 2009 | 4:24 |
Gravatar Icon

biasanya para blogger yang g punya modem sendiri jarang subuhan…hehehehehe


bambang haryanto
5 March 2009 | 10:22 |
Gravatar Icon

Thanks, Ilman. Aku sudah ditransfer dari “tamu” menjadi “kontributor.” Momennya kok pas sekali, ketika blog ini didaulat oleh ICT Watch sebagai blog sehat bulan ini. Aku ikut bangga. Kan blog masih hal yang baru, maka juri pun barangkali masih ikut terbawa rumus “self-referential.”

Tetapi, prestasi ini sangat membanggakan. Aku ikut bangga lho. Mari kita terus bahu-membahu membuat blog ini, dan blog kita semua, menjadi lebih baik. Lebih berguna. Selamat mengasah gergaji !


arista
5 March 2009 | 12:30 |
Gravatar Icon

wah selamet deh buat semuanya yang sudah membuat ayongeblog sukses


Bahti Baihaqi
8 March 2009 | 7:17 |
Gravatar Icon

Wah, Mas BamHar (BH?), sebenarnya aku dah lama menikmati tulisan beliau ini di blog-blognya itu jauh sebelum aku kenal blog. Belakangan setelah aku kenal blog, aku sempat tengok lagi, sayang rasanya kok jarang di-update, hingga kemudian aku liat blog ini.
Mas BamHar adalah salah satu inspiratorku. Kebetulan nama asliku berinisial sama, BH juga. Memang kini aku pakai nama baru jadi BB (Bahtiar Baihaqi atau disingkat lagi jadi Bahti Baihaqi).
Pokoknya aku seneng banget kalau Mas BamHar udah aktif memublikasikan tulisan2 barunya.


bambang haryanto
9 March 2009 | 19:36 |
Gravatar Icon

Dear Bung Bahti Baihaqi,

Thanks untuk kritikan Anda. Teguran yang membangun. Saya memahami kekecewaan Anda kok. Maaf ya. Memang blog saya, biasanya saya update sebulan sekali, karena isi tulisan saya agak berbeda dengan blog-blog yang lain.

Hmm, moga kekecewaan Anda bisa terobati :-) dengan kita bisa be-reuni di blog ini. Salam.

Apa Komentar Kamu ?

(wajib diisi)

(wajib diisi)