Bambang Haryanto: Bloknote, Blogger dan Dalai Lama

Pengantar Ayo ngeBlog!

Ada yang kangen tulisan-tulisan kirimannya Mas BH?

Di tulisan ini, beliau menceritakan betapa pentingnya kita sebagai blogger mencatat setiap hal (ilmu, ide, inspirasi, dll) yang berkelebat dalam pikiran kita ke dalam buku catatan. Kemudian, untuk mengabadikan itu, segeralah menuliskannya ke dalam blog kita. Niscaya ide kita itu akan abadi, Insya Allah bermanfaat, dan bisa dibaca oleh semua pengguna internet. Ya, menulis itu mengabadikan ilmu pengetahuan!

Saya sendiri sudah mempraktekkan apa yang Mas BH tuliskan di sini. Dan alhamdulillah, saya merasa lebih produktif. Bagaimana dengan teman-teman?

Yuk, silakan baca tulisan mas BH ini:

Ini adalah tulisan dari blogger tamu Ayo ngeBlog!: Bambang Haryanto. Ingin mengirim artikel ke Ayo ngeBlog? kirim saja ke ilmanakbar[at]gmail.com

Nyontek turis Jepang. Namanya Erika. Reporter acara televisi. Mengambil judul lagunya kelompok hard rock era 70-an, Uriah Heep, Lady in Black, begitu saya menjulukinya. Ketika Meutia Hafidz dari MetroTV disandera di Irak, saya meledeki Erika : “Jangan sekali-kali meliput ke Irak ya ?” Erika bilang, kalau meliput ke Irak pertama kali ia justru menyebarkan pesan kepada faksi-faksi yang bertikai di Irak sana : “Sanderalah saya. Sanderalah saya !”

Humor lady in black itu menyandera hati saya. Tetapi pemandangan yang memesona darinya adalah saat ia menulis di bloknotnya, sementara sang nara sumber liputannya memberikan keterangan. Saat-saat ia mengerahkan konsentrasi, telinganya mendengar, otaknya bekerja, memberikan aura paling menawan dari kecantikannya.

Niz, lady rose, sang pencinta bunga mawar dari Bromley, juga memberikan pesona setara. Dalam foto yang ia kirimkan, nampak dirinya dengan bloknot di tangan sedang mencatat keterangan seorang bapak yang bertubuh kurus. Bapak itu tangannya putus sebagai korban konflik SARA yang pernah membara di bagian timur negeri kita ini, beberapa waktu yang lalu. Niz memimpin lembaga charity yang kiprahnya menyantuni para korban konflik, terutama anak-anak dan perempuan.

Niz terheran ketika saya katakan bahwa foto itu merupakan salah satu foto tercantik dari dirinya. Bahkan melebihi beberapa foto lain darinya, baik saat ia berpose di bawah menara jam Big Ben atau bergambar bersama seorang polisi London, kota tempat tinggalnya.

Bloknot di tangan seseorang ternyata juga memberikan cerita dan perspektif pemikiran yang lebih serius. Penutur ceritanya adalah Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa turis-turis Jepang selalu membawa-bawa bloknot ketika keliling dunia. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi.

Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk membawa-bawa bloknot sepanjang waktu. Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya.

Untuk kalangan komedian, nasehat serupa juga berlaku. “Get yourself a notebook that you keep by your bed and another, smaller one that can fit in your pocket…write down all ideas within a few minutes of thinking about them,” tegas Judy Carter, mentor komedi terkenal dalam bukunya The Comedy Bible (2001, foto). Antena atau radar seorang komedian sebagai pelaku dunia kreatif dan kritikus sosial memang harus dalam mode on selama dua puluh empat jam seharinya !

Teladan Asimov. Manfaat membawa-bawa bloknot itu juga sempat saya tularkan kepada mahasiswa Jurnalistik Fikom Universitas Padjadjaran, Bandung, bernama Hendro Susilo H. (kanan). “Bulan lalu saya hampir mau nekat naik motor dari Bandung ke Wonogiri ,” cerita dia. Hendro sampai di Wonogiri, 8/11/2008, memang naik motor, tetapi berangkatnya dari Kulonprogo, tempat familinya. Untuk keperluan kuliahnya, ia datang ke Wonogiri guna menggali cerita tentang asal-muasal komunitas Epistoholik Indonesia yang saya dirikan.

Bahkan kita juga membincangkan nasib Bapak Kho Seng Seng, penulis surat pembaca asal Jakarta. Ia dan kawan senasibnya (ada 4) telah memprotes kesewenang-wenangan perusahaan pengembang yang ia nilai mengingkari janji bestek pembangunan kios. Tetapi kini ia justru terancam dihukum 1 milyar rupiah dengan dakwaan melakukan pencemaran nama baik. Bapak Kho, berniat (semoga sudah) meluncurkan blog, untuk menceritakan bencana ketidakadilan yang menimpa dirinya itu.

Tradisi menenteng-nenteng bloknot dan menggunakannya, hemat saya, sebaiknya menjadi gaya hidup semua pekerja kreatif, termasuk kita para blogger Indonesia. Kebiasaan mencatat itu memang menjadi keharusan ketika kita berada di bangku kelas atau kuliah. Tetapi hal itu lebih merupakan paksaan dari luar. Pamrihnya agar ulangan atau ujian kita memperoleh nilai baik. Ketika kita sudah lulus atau tidak ada paksaan atau pun tuntutan pekerjaan, hal tersebut cenderung kita lupakan dan campakkan.

Kini, saat kita menyatakan diri sebagai blogger hal tersebut sebaiknya dilakukan sebagai hal yang alamiah. Sebagai panggilan profesi. Sebagai panggilan hati. Bapak fiksi ilmiah, Isaac Asimov (1920-1990), mungkin dapat dijadikan sebagai tauladan. Kebetulan saya memiliki salah satu bukunya, Isaac Asimov’s Book of Facts (1979). Dalam buku itu ia disebut piawai menulis pelbagai macam buku disiplin ilmu, dari astronomi, fisika, kimia, biologi, matematika, tentu saja juga fiksi ilmiah.

Beliau juga menulis buku tentang misteri, fiksi umum, mengkaji kitab suci Bibel dan drama-drama Shakespeare. Isaac Asimov mampu menghasilkan ratusan buku ilmiah yang bahasannya menarik dan kaya warna, antara lain karena ketelatenannya mencatat dalam bloknotnya pelbagai informasi yang ia temukan sehari-hari.

Tiket keabadian. Mungkin kita tak ada salahnya bermimpi mampu berprestasi sehebat Asimov. Tetapi dengan menulis dan mencatat itu, kita sebenarnya sedang mengasah kinerja benda abu-abu ajaib karunia Tuhan yang demokratis, karena semua orang punya, yang berada di antara kedua kuping kita. “Menulis adalah sebuah aktivitas yang melibatkan otot, syaraf, dan segi-segi psikologis kita, serta benar-benar membentuk pola di dalam otak kita,” begitu pendapat Stephen R. Covey dalam bukunya The 8 Habit (2005).
Demi otak kita, untuk mengasahnya, Thomas L. Madden punya nasehat. Ia tulis dalam bukunya yang berjudul F.I.R.E – U.P. Your Learning : Bangkitkan Semangat Belajar Anda – Petunjuk Belajar Yang Dipercepat Untuk Usia 12 Tahun Keatas (Gramedia, 2002) : gunakan segera pengetahuan baru Anda itu agar tidak mudah lupa. Gunakan informasi yang sama lewat cara yang berbeda-beda. Sebab semakin variatif pemanfaatannya akan semakin banyak tercipta koneksi dalam otak kita yang semakin memudahkan kita bila diperlukan untuk mengingatnya kembali.

Cara pertama untuk memanfaatkan pengetahuan baru itu adalah dengan mencatatnya. Agar tidak lupa. Kemudian menuliskannya. Untuk membagikannya. Sebagai blogger aksi itu merupakan aktivitas ajaib yang penuh berkah : karena ketika kita membagikannya, semakin kita akan memperoleh bagiannya, bahkan bagian yang terbanyak dan termulia pula.

Seorang dosen Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Dr. Ir. Dwi Retno Lukiwati, MS, setahun lalu telah menulis surat pembaca di koran Suara Merdeka (12/12/2007). Berjudul “Instruction for Life” yang menjajar ajaran-ajaran luhur pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama. Salah satu ajarannya yang tercatat dalam bloknot saya, sepertinya sangat sesuai sebagai suntikan motivasi bagi kita semua, kaum blogger Indonesia :

Share your knowledge.
It’s a way to achieve immortality.

Bambang Haryanto, blogger kampung yang berdomisili di Wonogiri. Ngeblog sejak tahun 2003. Salah satu blognya Esai Epistoholica baru saja diundang untuk tercatat di Blogged.com yang bermarkas di Alhambra, California, AS.

Memenangkan Mandom Resolution Award 2004 dengan mengusung tesis manfaat blog untuk pemberdayaan komunitas kaum epistoholik atau pencandu penulisan surat pembaca sebagai salah satu pilar penegakan kehidupan berdemokrasi di Indonesia.

Popularity: 9% [?]

Related posts:

  1. Bambang Haryanto: Blogituari
  2. Bambang Haryanto: Ketika Blogger Bertasbih
  3. Bambang Haryanto: Bila Blogger Seperti Anda Diuber Macan
  4. Bambang Haryanto: Blogger, Sang Katalisator
  5. Maaf, Lama Tidak Update! Ini Nih, Beberapa Info Terbaru..
Gagas Roman Indonesia

About the Author

Intellectual hedonist. Meminati kreativitas, media baru, komedi, sepakbola, buku inspiratif dan Carpenters. Diolah menjadi cerita, ibarat menjadi sendok demi sendok garam untuk bisa tertabur ke samudera kearifan.