Ditolak Adsense dan Paid Review, Jangan Putus Asa!

Baru-baru ini mas Wikan Pribadi menuliskan pengalamannya dalam meraup $ dengan ngeblog. Yang dibahas mas Wikan adalah paid review . Soal apa itu paid review, saya rasa posting mas Wikan cukup jelas. Kalau belum jelas, ya monggo tanya-tanya lagi sama beliau :) Cara ini cukup efektif dalam mencari sesuap dollar. Terbukti mas Wikan hanya butuh beberapa bulan untuk bisa mendapatkan hasilnya. Tentu, ini cukup menggoda bagi kita para blogger.

Saya sendiri bukan penganut aliran adsense atau paid review. Dua cara ini mungkin cara paling populer bagi para blogger. Selain text link ads (TLA) yang dianggap haram oleh Google. Tapi sayangnya, tidak semua blog bisa menggunakan adsense. Kita tahu bahwa adsense hanya efektif untuk blog berbahasa Inggris. Padahal banyak blogger yang nulis dalam bahasa Indonesia. Saya juga gak mau ikut menulis dalam bahasa Inggris, karena tujuan saya ngeblog beda. Saya lebih ingin blog saya menambah konten berbahasa lokal. Supaya orang kita gak perlu baca-baca blog atau situs luar untuk mendapatkan informasi. Makanya saya suka minder karena kebanyakan kompetisi ngeblog yang malah mewajibkan tulisan dalam bahasa Inggris. Katanya sih supaya orang luar bisa tau informasi soal Indonesia. Kalau ditulis dalam bahasa Indonesia, mana mereka bisa baca? Pakai translate tools-nya Google, malah tambah pusing bacanya ntar… hehehe…

Tidak semua blog juga dapat menggunakan program paid review. Misalnya blog teman saya Latri, yang berisikan cerpen-cerpen tulisannya (atau penggalan bakal cerpen). Tulisannya dalam bahasa Indonesia. Adsense jelas bukan pilihan bagus. Paid review? Wah, Latri gak mau nulis review di blognya ini. Kecuali yang direview mau ditulis dalam bentuk cerpen mungkin. Latri juga bukan blogger yang ingin mencari tambahan dari ngeblog. Tapi misalkan suatu saat kelak ia berubah pikiran, adsense dan paid review bukan pilihan yang cocok. Blog saya juga bukan blog yang cocok untuk program ini. Jarang advertiser yang cocok dengan tema blog saya. Lalu bagaimana?

Jujur saja, saya sendiri belum merasakan langsung dapat uang dari blog saya. Tapi saya mulai merasakan orang mengenal saya melalui blog saya, dan menawari saya untuk memberikan training atau jasa lainnya. Lumayan nilainya, meski bukan dalam dollar :) Saya tau adsense dan paid review bukan teman baik saya. Tapi ini cukup memberikan harapan bagi saya. Saya sendiri sebetulnya pernah menjalin kerjasama langsung dengan penerbit buku besar, untuk memberikan review buku-buku mereka. Tapi sayangnya tidak berlangsung lama, karena menurut saya buku-buku mereka terlalu dangkal. Saya gak mau salah merekomendasikan pada pembaca saya, bisa-bisa pembaca saya marah dan gak mau mengikuti blog saya lagi.

Tau blog WP Designer? Saya kadang mengikutinya, meski tidak rutin. Small Potato (SP), empunya blog itu, beberapa waktu yang lalu menjual blog tersebut. Ada ratusan komentar salam perpisahan untuk SP. Menurut anda, jika dia membuat blog baru, berapa lama blog barunya akan punya banyak pembaca? Saya rasa tidak lama. SP sudah punya penggemar sendiri, sudah punya ‘brand’ yang kuat menurut saya. Bahkan sebelum Google memberikan rank, pembacanya pasti sudah banyak. Ini yang sangat saya inginkan. Saya ingin agar blog saya (dan kalau bisa nama saya) punya brand yang kuat di kalangan pengguna internet. Katakanlah sekarang Ayo NgeBlog punya PR 5, dan misalkan tau-tau detik.com ditendang Google, dikasih PR 0. Apakah berarti pembaca Ayo NgeBlog akan lebih banyak dari detik.com? Saya rasa tidak. Detik.com juga sudah punya brand yang kuat. Karena itu saya bukan penggila PR.

Apakah berarti Google Page Rank tidak penting? Tentu saja penting. Coba lihat gambar di bawah ini. Ini adalah traffic source dari blog saya. Hasil dari Google Analytics.

tc_ga.jpg

Berdasarkan analisa si Google, dalam 1 bulan terakhir sekitar 70% (3048 pengunjung) pengunjung saya datang dari search engine, hampir semuanya menggunakan Google Search. Artinya situs saya masih sangat tergantung dari Google. Tentu saja baik kalau situs saya punya PR tinggi. Yang langsung mengetikkan di browser atau mem-bookmark hanya sekitar 15 %. Saya baru punya penggemar tetap 600an orang :( Dan yang datang karena referensi situs/blog lain juga sekitar 15%. Idealnya sih semua seimbang. Mungkin 1-2 tahun lagi, yang datang dari search engine makin kecil persentasenya. Loh, lama amat? Ya, membentuk brand memang tidak gampang. Butuh waktu tahunan.

Ini memang butuh usaha dan kesabaran lebih ketimbang menggunakan cara yang mas Wikan pakai. Tapi lihat sisi baiknya. Kita tidak tergantung pada pihak ketiga. Kalau brand blog anda sudah melekat kuat, visitornya banyak, dengan PR kecil sekalipun orang akan berani memasang iklan langsung pada anda, tanpa lewat pihak lain. (baca: untungnya gak perlu dibagi-bagi). Lalu apa perlu menunggu bertahun-tahun baru dapat merasakan hasilnya? Tidak juga sih. Banyak cara untuk mempromosikan blog. Kalau rela mengeluarkan uang, bisa pasang iklan. Tapi ada cara lain yang cukup seru. Promosi malah dapet duit. Lho kok?

Ide ini datangnya dari teman saya Igun, yang juga jadi kontributor. Dia bilang gimana kalau kita bikin e-book dari tulisan-tulisan di blog itu? Katanya dia sih idenya dari situs Cad Clips. Kumpulan konten dijadikan dalam satu CD, lalu dijual. Lho, ntar gak ada yang mengunjungi blog kita lagi dong? Gak juga lah. Isi CD itu rencananya sih kumpulan tulisan dari November 2007 – Oktober 2008. Gak semua orang bisa baca lewat internet. Kalau mereka beli kan bisa dibaca di rumah. Tapi kalau mau yang lebih up-to-date ya baca di blog. Yang mau ngasih komentar dan berinteraksi langsung dengan penulisnya, datang ke blog. Kalau anda serajin mas Wikan nulisnya, mungkin cukup 3-4 bulan sudah bisa merilis CD kumpulan tulisan anda.

Loh, gimana kalo CD-nya dibajak? Ntar ada yang bagi-bagi link buat download di RapidShare, 4Shared, dll. Mungkin malah ntar CD-nya dijual di Glodok! Pengennya sih gak gitu. Ambil sisi positifnya aja. Makin banyak CD itu beredar, makin ngetop nama blognya. Tentu, di setiap halaman dikasih link ke blog kita :D Emang kita dirugikan, tapi kalau sempat CD itu dijual di Glodok, berarti ‘brand’ blog itu udah kuat! Makin banyak yang tau nama blog anda! Ntar kita bisa dapat tawaran dari pemasang iklan untuk di blog, atau di CD edisi berikutnya. Kenapa enggak? Toh CD itu akan beredar bertahun-tahun.

Idealnya, kita bisa memanfaatkan semua jalan menuju Roma. Waktu blog kita belum begitu kuat brandingnya, kita bisa ikutan adsense atau paid review. Tapi kalau sudah bisa dapat pemasang iklan langsung, kenapa pakai adsense atau program paid review lagi? Tanpa melibatkan pihak ketiga kan lebih enak. Kalau branding blog kita kuat, sukur-sukur kita dipercaya jadi nara sumber, dimintai jasa untuk mengerjakan project diluar blog, dan ada penerbit yang menerbitkan koleksi tulisan di blog kita. Komplit deh! Fadli, salah satu kontributor Ayo NgeBlog mungkin sudah merasakan dapat beberapa project untuk membuat theme (termasuk untuk blog saya). Jadi kalau ditolak adsense atau program paid review, jangan putus asa. Cari jalan lain, mungkin anda malah punya ide lebih brilian. Ayo share di sini!

Popularity: 11% [?]

Related posts:

  1. Overview Bisnis Online Paid Review (Part 2)
  2. Overview Bisnis Online Paid Review (Part 1)
  3. Cara Baru Cari Uang di Internet: Paid Review
  4. Apa itu Paid Review?
  5. Kontes Review TentangCAD
Gagas Roman Indonesia

About the Author

Sudah ngeblog beberapa tahun. Saat ini yang sedang diseriusi adalah blog berbahasa Inggris di CAD Notes. Cukup beruntung bahwa blog tersebut dalam waktu singkat cukup 'disegani'. Antara lain menggawangi sesi ask the expert di situs komunitas principle, memperoleh software gratis, dsb ;) Juga memperoleh akses ke beta program dan prelaunch info sebelum informasi resmi dipublish untuk umum... meski dari sisi nominal masih sedikit ;)