Pilih Ayo ngeBlog Jadi Blog Favorit The BoBS

Famblogger, Menghimpun Tulang Yang Terserak

Ini adalah tulisan dari blogger tamu Ayo ngeBlog!: Bambang Haryanto

Marinir misterius itu menelepon malam-malam. Jam satu selewat puncak malam. Ia marinir dari kerajaan Belanda. Saya sama sekali belum mengenalnya. Apalagi berjumpa. Tetapi ketika ia mengenalkan dirinya sebagai Erwin Martowirono, segera saya tahu asal-muasal dari kejadian yang mengejutkan, menyenangkan, sekaligus yang berakhir rada mengecewakan ini.

Beberapa bulan sebelumnya, saya memperoleh email dari New York. Dari Armand Martowirono. Emailnya berbahasa Belanda. Syukurlah, kamus kecil yang saya gunakan untuk mengikuti kuliah bahasa sumber, Bahasa Belanda di Rawamangun, di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, belum hilang. Sebelumnya saya mengikuti kuliah bahasa sumber, Bahasa Perancis, dimana saya sering merecoki Upik (Siti Rabyah Parvati) Syahrir ketika tes/ulangan tiba. Ah, ini nostalgia peristiwa 1980-an. Dengan bantuan kamus kecil itu saya mencoba memahami email kejutan tersebut.

Armand menduga diri saya masih memiliki hubungan keluarga dengannya. Silsilah keluarganya ia ceritakan dari awal ketika kakeknya meninggalkan Indonesia di tahun 20-30an untuk berpindah ke Suriname. Kalau mengingat-ingat cerita sejarah, pemerintah Belanda kala itu mendatangkan buruh dari Indonesia untuk dipekerjakan di negara jajahan lainnya di Amerika Selatan, yaitu Guyana Belanda yang ibukotanya Suriname.

Kakek Armand itu bernama Martowirono. Kakek saya juga bernama Martowirono. Ketika saya meluncurkan blog Trah Martowirono, rupanya dari sinilah asal-muasal yang membuat saya bisa dikontak oleh Armad Martowirono dari New York atau pun Erwin Martowirono dari Den Haag, Belanda itu. Sayang, akhir cerita interaksi anak manusia dari tiga benua itu bukan cerita yang berakhir bahagia. Kami ternyata tidak memiliki kaitan keluarga. Hanya nama kakek kami yang kebetulan memiliki nama yang sama saja.

Dalam teleponnya, Erwin sudah menyadari hal itu. Tetapi dari obrolannya, ia ingin perkenalan yang rada aneh itu tidak lalu terputus begitu saja. Ia pun cerita tentang keponakannya, Sharona Dewi Martowirono (“carilah di Google”, katanya) yang memenangkan kontes kecantikan di Belanda atau tentang saudaranya, Michael Martowirono yang tinggal di Irlandia. Erwin suatu saat ingin ke Indonesia dan ingin pula menemui saya.

Di buntut obrolan berbahasa Inggris itu (untung bukan memakai bahasa Belanda), mungkin untuk menegaskan walau dirinya tidak fasih berbahasa Indonesia atau pun Jawa, Erwin masih bangga punya darah Jawa. Nyatanya, ketika menutup telepon Erwin sempat bilang kepada saya : “Selamat turu ya.”

Tulang berserakan. Malam itu saya tidur kembali dengan menyungging senyuman. Rupanya saya baru saja memperoleh berkah sebagai seorang famblogger atau family blogger, sebutan bagi seseorang yang meluncurkan blog untuk bercerita mengenai keluarga atau marganya Berkah sebelumnya, blog Trah Martowirono ini telah membuat koran Solopos 5 Juli 2007 tertarik untuk menulis mengenai seluk-beluk trah saya pula. Momen itu kemudian diabadikan untuk salah satu pin kenangan (foto) saat reuni tahun 2007 yang lalu.

Blog Trah Martowirono ini saya luncurkan sejak tahun 2003. Saat itu, di tengah suasana Lebaran, keluarga saya mendapatkan giliran sebagai tuan rumah Reuni Tahunan Trah Martowirono yang ke-17, di Wonogiri. Kebetulan saat itu ada warga trah yang tak bisa hadir karena sedang bertugas sebagai konsultan pertanian FAO-nya PBB di Kamboja. Ide pun muncul : dengan Internet, reuni dengan Mas Kristyo Sumarwono yang ada Pnom Penh Kamboja itu tetap bisa dimungkinkan.

Dengan mengusung komputer ke arena pertemuan yang tersambung TelkomNet Instan, akhirnya jarak antara Wonogiri-Pnom Penh itu tidak menjadi kendala lagi. Reuni kita pun juga berlangsung mengesankan di dunia maya. Bahkan ditutup dengan salam hasil impor langsung dari Kamboja saat itu. Salam dari bahasa Kamboja itu berbunyi : Cocet Krusa, Martowirono ! Hidup, Trah Martowirono !

Trah Anda, keluarga besar Anda, juga dapat hidup dan hadir di dunia maya. Apalagi ketika mobilitas antarwarga kini jadi mendunia, maka sangat mungkin terjadi sebuah keluarga besar memiliki anggota warga yang hidupnya saling terpisah. Tidak hanya berpisah kota, propinsi, bahkan terpisah oleh negara atau pun benua. Hanya Internet yang mampu merengkuhnya kembali. Dan blog merupakan salah satu sarana terbaik, juga termudah, untuk mempersatukannya.

Orang Jawa memiliki pepatah, ngumpulke balung pisah. Menghimpun kembali tulang-tulang yang berserakan, yang selama ini terpisah-pisah. Ikhtiar ini sering terjadi atau terwujud ketika kita mengadakan reuni. Untuk merekatkan kembali kekerabatan yang mungkin luntur digerus oleh perjalanan waktu. Baik itu reuni sekolah, perguruan tinggi, juga reuni keluarga. Reuni yang berlangsung di dunia fisik tersebut mungkin hanya berlansgung setahun sekali, atau lima tahun sekali. Tetapi dengan blog, reuni itu bisa kita langsungkan setiap hari.

Akhirnya, ijinkanlah saya mengajak Anda semua : jadilah sebagai seorang famblogger hari ini. Cerita-cerita tentang keluarga besar Anda pantas untuk dibagikan kepada dunia. Untuk memperkaya khasanah dan sudut pandang kita sebagai sesama manusia.

Siapa tahu, di ujung malam Anda akan memperoleh telepon tak terduga. Baik oleh seorang marinir Belanda, atau siapa pun mereka, yang memiliki pemahaman yang sama sebagaimana Dodie Smith (1896-1990) memberi makna arti keluarga.

Dramawan dan novelis Inggris itu bilang, keluarga merupakan ikan gurita lembut di mana kita tidak bisa menghindarkan diri dari pelukan belalainya. Dengan blog, belalai itu mampu merengkuh dan mengeratkan keluarga Anda, di mana pun mereka tinggal di dunia.

Bambang Haryanto, blogger dari Wonogiri sejak tahun 2003. Salah satu blognya baru saja diundang untuk tercatat di Blogged.com, yaitu Esai Epistoholica. Tesisnya mengenai manfaat blog untuk pemberdayaan komunitas kaum epistoholik atau pencandu penulisan surat pembaca sebagai salah satu pilar penegakan kehidupan berdemokrasi memenangkan
Mandom Resolution Award 2004
.

Bersama Mayor Haristanto dari Republik Aeng Aeng Solo telah memprakarsai gagasan deklarasi 30 Juli 2008 sebagai Solo Cyberholic Day di tengah pesta 468 netter Solo yang bersama-sama mengakses Internet tanpa kabel di kawasan City Walk Solo untuk meraih Rekor MURI pada tanggal yang sama.

Ayo ngeBlog! menerima kiriman artikel tentang pengalaman ngeblog, motivasi ngeblog, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan aktivitas ngeblog, dari teman-teman semua. Silakan kirim saja lewat email: ilmanakbar [at] gmail.com

Suka dengan Ayo ngeBlog?















Komentar

Tampilkan foto / icon (gravatar) kamu di samping komentar. Bagi yang belum daftar silahkan daftar dulu di situs gravatar. Berlaku secara global di seluruh web / blog yang menyediakan fasilitas gravatar.

*******************************************************************************************************


Edo
9 September 2008 | 16:47 |
Gravatar Icon

Sudah setaunan saya pengen ngajakin para sedulur buat bikin blog keluarga. Terutama karena memang tiap tahun selalu kumpul dengan label ‘trah Sastroprayitno’.
Sayang, kebanyakan sudah sepuh, dan yang muda-muda jarang ngoprek internet. Ternyata sekarang sudah ada yang buat, dan mendapatkan surprise dari sana.
Mudah-mudahan tahun ini dapat dimulai blog keluarga ‘trah Sastroprayitnan’


arham | blogpreneur
10 September 2008 | 13:13 |
Gravatar Icon

jadi inget kopdar… pgen bgt :-)


doom bloog
13 September 2008 | 16:07 |
Gravatar Icon

wuih… keluarga blogger dong kalau begitow


sonialis
18 September 2008 | 19:43 |
Gravatar Icon

Hai salam kenal semuanya yang membaca komentar saya ini. Saya dari Padang, dan di sini juga mewabah “mari ngeblog”. Semoga ada yg berkunjung ke blog saya (narsis)… tq.


wikan.pribadi
28 October 2008 | 23:53 |
Gravatar Icon

bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, begitupun di dunia ngeblog

http://www.wikanpribadi.com/

Apa Komentar Kamu ?

(wajib diisi)

(wajib diisi)