Bukan Sekedar Diary – Ayat-Ayat Blog The Series #2

 

Postingan kali ini merupakan bagian dari artikel berseri Ayat-Ayat Blog The Series. Belum baca sebelumnya ? Nih baca dulu.

Mungkin banyak dari kita yang menulis berbagai keluhan, rahasia hati dan diri, kesenangan, hingga berbagai catatan hutang kita (hehehe) dalam diary. Seperti yang dilakukan oleh Maria dalam Film Ayat-Ayat Cinta. Kekagumannya terhadap Fahri hanya bisa diungkapkan melalui tulisan-tulisan di diarynya.

Maria pasti merasakan kepuasan batin yang sangat manakala ia bisa menuangkan perasaannya itu dalam sebuah tulisan. Ya, tulisan kadang mampu melegakan segala uneg-uneg kita. Ketika menulis, seolah kita “berbicara” kepada orang lain. Kabar baiknya, “si pendengar” itu tak pernah protes dengan kita. Walaupun kita salah, ia tak akan pernah mengingatkan kita. Ia hanya menjadi tempat pelampiasan segala bentuk emosi kita.

Ketika Blog Hadir, Semua Berbeda

Ketika menulis di diary, hanya kita, Allah dan pencuri (orang yang suka ngintip diari orang tanpa izin) saja yang tau isi diary kita. Buku diary adalah sesuatu yang vital bagi kita. Bahkan sangking vitalnya, dulu saya pernah punya diary yang ada gemboknya. Waktu dulu (SD) emang lagi tren-trennya tuh diary pake gembok.

Namun, terbukti bahwa teknologi mampu mengubah kebiasaan kita 180 derajat. Sekarang, hadir sebuah teknologi bernama blog yang mampu mengganti peran diary konvensional. Disini, tak ada lagi umpet-umpetan diary di bawah tempat tidur. Disini tak ada lagi gembok segede tangan. Ya, semuanya telah terbuka. Siapapun boleh melihat.

Melalui blog kita bisa membagi keluh kesah kita. Mengajak orang lain untuk mengetahui masalah kita. Tak seperti diary yang tak pernah sekalipun memberikan respon kepada masalah-masalah kita, blog berbeda. Melalui blog, kita bisa mendapat respon bahkan saran yang bagus buat diri kita.

Belajar Melihat dan Mendengarkan

Blog juga mampu membuat “Si Buta” menjadi bisa melihat. Mampu membuat “Si Tuli” menjadi bisa mendengar. Buta disini maksudnya, orang tersebut tak pernah melihat keadaan sekitarnya lagi. Tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Menutup diri dari dunia luar. Tuli disini maksudnya, tak mau ia mendengar akan derita orang lain. Tak mau mendengar apa yang terjadi dengan orang-orang disekitarnya.

Nah, kalau saja melihat dan mendengar saja ia tak mau, apalagi untuk berbicara dan bertindak. Sungguh bangsa ini masih banyak memiliki orang-orang yang tak peduli dengan sekitarnya. Masih banyak orang yang tak peduli dengan keadaan orang lain. Namun, untuk berbicara dan bertindak, tak perlulah kita menunggu dulu menjadi anggota DPR yang terhormat. Tak perlu lah kita menunggu menjadi Bapak dan Ibu Menteri dulu. Tak perlu.

Blog adalah Jawabannya

Ya, kita bisa menyuarakan berbagai kekecewaan kita terhadap apa yang terjadi di sekitar kita melalui blog. Mungkin beberapa dari kita tergerak untuk mengomentari pelaksanaan UN yang penuh dengan kecurangan. Atau barangkali punya ide cemerlang untuk mengatasi global warming. Silahkan saja tulis di blog kalian.

Tak pernah ada yang melarang. Tetapi kita harus ingat, saat ini blog telah menjadi konsumsi publik. Jadi menulislah dengan santun. Walaupun itu sebuah kekecewaan dan kemarahan sekalipun, tetaplah menulis dengan santun. Bisa kan ?

Pertarungan Abad Ini : Diary vs Blog

Seperti yang sudah saya sampaikan diatas, bahwa perlahan blog mulai menggantikan peran diary konvensional. Namun alangkah tak adilnya saya, jika saya terus mengagungkan sebuah blog. Blog juga manusia teknologi, yang kadang memiliki sisi kelemahannya. Jadi lebih baik saya pertarungkan mereka berdua. Ini dia :

Kelebihan dan Kekurangan Diary

  1. Tak perlu biaya untuk menulis. Yah, kecuali biaya yang harus kita belikan buat diary itu sendiri dan sebuah pena. Hanya itu ongkos yang kita keluarkan.
  2. Tak tergantung koneksi internet. Lewat diary kita bisa menulis kapan saja, dimana saja. Pun ketika sedang kemah di tengah hutan yang jauh dari kota sekalipun.
  3. Mudah hilang. Kalau kamu termasuk orang yang ceroboh, maka mungkin saja diary kamu mudah banget hilang. Atau kalau kamu adalah orang beken, bisa saja banyak orang-orang sirik yang pengen tahu rahasia-rahasia kamu, mencurinya dari bawah kasur di kamarmu, terus menyebarkan ke infotaintment.
  4. Tak pernah memberikan respon. Yah, seperti yang sudah saya tulis diatas, kalau diary tak pernah memberikan sedikitpun respon bagi masalah-masalah kita. Ia hanya menjadi pendengar, yang sayangnya terlalu setia.

Kelebihan dan Kekurangan Blog

  1. Menulis di blog ga gratis. Walaupun kita memakai blog gratisan sekalipun. Karena kita harus tetap membayar biaya koneksi internetnya. Tetapi percayalah, semua itu akan terbayarkan kok. Walaupun tak kembali modal secara materi, setidaknya kita mendapatkan banyak ilmu baru. Dan itu yang paling berharga buat kita kan ?
  2. Tanpa internet, blog bisa mati. Ya, internet menjadi tulang punggung para blogger untuk menulis. Bisa dibayangkan ga kalau tak ada koneksi internet ? Wah, serasa dunia ini akan lumpuh. Begitu juga dengan blogger.
  3. Bisa diatur, mana yang untuk umum, mana yang untuk pribadi. Disini letak kemenangan telak sebuah blog versus diary konvensional. Disaat ingin membagi cerita atau tulisan kita kepada siapa saja, kita bisa mengesetnya agar bisa dilihat oleh siapa saja. Namun, kalau tulisan kita adalah rahasia besar kita, kita pun bisa mengesetnya menjadi tulisan konsumsi pribadi saja. Bahkan google dan yahoo pun tak boleh tahu.
  4. Selalu bisa memberikan respon. Ya, ini yang saya suka dari blog. Kita bisa menerima berbagai respon atas tulisan-tulisan kita. Saya ingat bagaimana rasanya menerima komen yang pertama kali dulu saat awal ngeblog. Senangnya bukan main. Yah, interaktifitas adalah nyawa bagi blogger.

Kenapa ga Dikombinasikan Aja ?

Walaupun perbedaannya cukup jauh, diary dan blog bisa disatukan kok. Karena esensi dari keduanya tetap sama, yakni menulis. Karena itu, alangkah baiknya kita mengkombinasikan keduanya.

Saat kita kesulitan koneksi internet, kita bisa menulis dulu di diary kita. Tak perlu lengkap, hanya poin-poinnya saja. Terus ketika kita bisa mengakses internet, baru deh kita tulis dan publikasikan hasilnya di blog kita. Ini yang merupakan kebiasaan saya juga.

Saya termasuk satu dari jutaan orang di Indonesia yang kesulitan akses internet. Koneksi yang saya andalkan hanya GPRS yang super lemot itu. Tetapi tetap bisa produktif menulis kan ? Saya biasanya selalu membawa kemana-mana sebuah buku catatan kecil (bisa dibilang diary juga sih..). Jadi kalau sewaktu-waktu ada ide untuk menulis, saya bisa langsung menuliskannya di buku kecil itu. Nah, setelah sampai di rumah, saya menuliskannya di Microsoft Word (tapi sekarang udah berganti ke aplikasi yang lebih keren untuk nulis blog, yakni Windows Live Writer). Setelah artikelnya selesai saya tulis, kemudian saya upload tulisan saya ke blog saya. Mudah dan murah kan ?

Oh ya satu tips lagi, biar bisa lebih hemat, sebaiknya kita mengupload tulisan kita sekaligus untuk seminggu. Jadi ga harus tiap hari kita menguploadnya. Kan di wordpress kita bisa mengatur kapan tulisan kita itu di tayangkan.

Jadi kesimpulannya, diary dan blog bisa jadi akur kok. Malah kombinasi keduanya mampu membuat blog kita semakin powerfull kan ?

Gimana dengan kamu ? Apa pernah punya pengalaman dengan diary ? Entah itu yang enak ataupun ga enak. Silahkan aja tulis di komentar.

Insya Allah bersambung lagi besok… Pantengin terus ya…

Popularity: 7% [?]

Suka dengan Ayo ngeBlog?

Share on Facebook













Komentar

Tampilkan foto / icon (gravatar) kamu di samping komentar. Bagi yang belum daftar silahkan daftar dulu di situs gravatar. Berlaku secara global di seluruh web / blog yang menyediakan fasilitas gravatar.

*******************************************************************************************************


rama
5 May 2008 | 7:56 |
Gravatar Icon

Wah.. diary ya. Kalo kata pak Budi Putra di seminar Onliners itu, musti rajin update mas. Kalo perlu 1 hari 3x postingg… tapi lagi2 saya termasuk golongan fakir bandwith =).

pertamax.


khairuddin
5 May 2008 | 16:17 |
Gravatar Icon

ternyata menulis dalam ‘diary’ itu perlu yg sopan ya mas. Tak kirain seenak jidat kita. walah mas maklum aku ini insan yang baru belajar nge-blog.
Mas, kalo diblog kita comment-nya kita off-in, etiskah sich?


puspa
5 May 2008 | 18:11 |
Gravatar Icon

seru juga tu diary digital en media sosial elektronik kan.

btw emangnya bisa ya atur upload postingan di wordpress?
mohon bantuannya. trims.

Gravatar Icon

[...] Bukan Sekedar Diary – Ayat-Ayat Blog The Series #2 Ketika menulis di diary, hanya kita, Allah dan pencuri (orang yang suka ngintip diari orang tanpa izin) saja yang tau isi diary kita. Buku diary adalah sesuatu yang vital bagi kita. Bahkan sangking vitalnya, dulu saya pernah punya diary yang ada gemboknya. Waktu dulu (SD) emang lagi tren-trennya tuh diary pake gembok. [...]


Fadli Wilihandarwo
6 May 2008 | 10:00 |
Gravatar Icon

@ Rama
Wah ngupdate 3x sehari ? Mudahan bisa deh..
Fakir Bandwidth ? Awas loh, biasanya orang yang fakir bandwidth itu di dunia nyata biasanya pelit juga… hehehe

@ Khairuddin
Iya donk harus sopan. Dimanapun itu, sopan kan bisa dijaga. Kita kan bangsa timur :D

Kalau masalah komen blog di off kan itu hak si blogger. Tapi saran saya sebaiknya di buka aja komennya. Soalnya blog itu kan generasi web 2.0, artinya disini lebih ditekankan tentang interaktifitas. Kalau komen di off kan apa bedanya dengan zaman web 1.0, dimana pembaca hanya sebagai pembaca saja. Kurang komunikatif nampaknya.

@Puspa
Iya bisa. Di sebelah kanan sidebarkan ada Time Stamp. Nah, atur aja disitu… Terserah kamu mau tanggal dan jam berapa.

Gravatar Icon

[...] artikel yang kedua juga diawali dengan merunut film ayat-ayat cinta, yang berkisah tentang perbandingan blog dan diary. hubungannya dengan ayat-ayat cinta?yah ternyata lagi-lagi si penulis emang kreatif ngambil benang [...]


iLm@N
10 May 2008 | 20:51 |
Gravatar Icon

kalo saya sendiri, bahkan nggak bisa ngejadiin blog sebagai diary kegiatan sehari-hari.. entah kenapa kalo nulis dengan topik campur-campur (blog personal kan topiknya campur-campur), sayanya jadi males.. blog personal saya sekarang lagi hiatus nih..


JaF
11 May 2008 | 12:02 |
Gravatar Icon

Mantabs, Fad..!
Blog jadi diary.. sah-sah saja dan seperti dikatakan tadi, lakukan dengan santun karena bagaimanapun dia bisa di akses pribadi.

Tapi buat saya pribadi, ada fungsi diary yang tidak bisa digantikan oleh blog, yaitu sebagai media personal. Diary itu kan menurut saya adalah media personal yang dibuat hanya untuk diri sendiri dan tidak dimaksudkan untuk orang lain, kecuali ada yang nyolong hehehe.. Jadi kita sebenarnya lebih punya kebebasan untuk menulis di situ tanpa ada kekhawatiran akan dibaca orang lain..

Saya sendiri sempat berhenti menulis diary. Namun begitu mulai ngeblog, saya merasa ada hal-hal tertentu yang tidak bisa saya ekspresikan di blog, hal-hal yang bersifat pribadi. Jadilah saya kembali menoleh ke diary..

Ada memang beberapa isi diary yang saya pindahkan ke blog, setelah di tulis ulang biar lebih ’santun’, tapi lebih banyak yang hanya di publish untuk diri sendiri, atau mungkin suatu saat nanti untuk anak saya..

Lucunya, karena sudah terbiasa ngeblog, saya akhirnya nulis diary (yang personal itu loh) dengan menggunakan wordpress yang di install secara offline di laptop hehehe..


buddidisinie
26 May 2008 | 19:45 |
Gravatar Icon

iy nih..sy pndatang baru dunia blog,,n sy dh nyiapin bahan2 ny di software diary yg mmiliki bbrapa kekurangan..somthin error happen..epriting will b lost…hehhe…slam knal y mas..postingannya muanteb!


akh ridwan
7 November 2008 | 10:22 |
Gravatar Icon

Salam kenal. Wah diary blog yo mas. Mirip seperti blog saya. Coba dung tengok di http://weweneridwan.blogspot.com dan jangan lupa untuk meninggalkan pesan/komentar. Thanks.

Gravatar Icon

[...] bilang ngeBlog itu cuma buat main-main, curhat2an, atau buat ngikutin tren doang? Dengan kiat-kiat tertentu, ngeBlog itu terbukti bisa meningkatkan [...]

Gravatar Icon

[...] blog pun perannya lebih luas lagi, nggak cuma sekedar yang udah pernah kita bahas sebelumnya (buat curhat, buat personal branding, buat media pembelajaran, buat politik, buat menunjukkan kompetensi diri, [...]

Gravatar Icon

[...] bilang ngeBlog itu cuma buat main-main, curhat2an, atau buat ngikutin tren doang? Dengan kiat-kiat tertentu, ngeBlog itu terbukti bisa meningkatkan [...]

Apa Komentar Kamu ?

(wajib diisi)

(wajib diisi)