Dibalik “Blog Adalah Trend Sesaat”: Sebuah Tambahan Sudut Pandang

Tanpa bermaksud membela atau menyerang pihak manapun, postingan ini dilatar belakangi oleh keinginan meredam tekanan negatif para blogger kepada Roy Suryo, terutama akhir-akhir ini saat panas-panasnya penerapan UU ITE. Jika kita memahami apa yang ada di pikirannya, kita pasti akan memahami pula kenapa beliau bersikap demikian hingga saat ini. Tulisan ini bertujuan untuk mengurai latar belakang pendapat populernya Roy Suryo: Blog itu satu tren saja, yaitu dengan cara memberikan pendapat lainnya dari orang yang ahli tentang ini. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi bahan diskusi sebelum terjadinya dialog antara Roy Suryo dengan blogger.

Blogger mana sih yang tidak tahu salah satu quote favorit RS tersebut? Coba saja googling dengan keyword tersebut, atau keyword ‘blog adalah trend sesaat’, dan muncullah banyak komentar para blogger menanggapi hal tersebut.

Dari sejak saya pertama kali mendengar pendapat tersebut hingga hari ini, saya tidak habis pikir, mengapa blog bisa dikatakan tren sesaat. Bagaimana bisa, sebuah aktivitas yang mengglobal ini, aktivitas yang masih relatif baru bagi masyarakat Indonesia ini, aktivitas yang pertumbuhannya amat pesat ini, aktivitas yang banyak blogger merasakan manfaatnya, dan aktivitas yang sampai pemerintah memberikan kita sebuah hari khusus segala, disebut sebuah tren saja. Bukankah ini adalah sebuah budaya baru yang amat bermanfaat: membaca dan menulis? Kenapa sampai bisa dikatakan sebuah tren sesaat saja?

Pendapat Roy Suryo tersebut pertama kali keluar tahun 2005 lalu pada sebuah artikel Media Indonesia (sayang berita ini tidak bisa dilihat tanpa login dulu). Setelah itu pada tahun 2006, Roy Suryo diminta penjelasan tentang pernyataannya itu yang bisa dilihat lengkap di wawawancara Mas Amril dengan Roy Suryo untuk BlogFam Magazine (klik di sini). Intinya, beliau mengatakan bahwa cara berkomunikasi manusia itu akan terus berkembang dan berevolusi. Beliau mencontohkan dulu orang berkomunikasi lewat surat, lalu berkembang menjadi telepon, lalu ada yang menggunakan faksmili, lalu sempat berkembang menjadi lewat homepage dan email, dan seterusnya.

Pernyataan Anda bahwa blog adalah “trend sesaat” itu menjadi sangat ‘populer’ di kalangan blogger. Apa sih sebenarnya maksud Anda?

[...dipotong..] Jadi persis seperti model komunikasi yang lain. Kalau dulu kita berkirim surat lalu beberapa waktu kemudian trendnya sms, itu sama saja dengan orang mengatakan bahwa kalau dulu modenya orang senang berkirim surat, kemudian sempat suka melakukan telepon sampai berlama-lama, kemudian sempat berkembang ada kantor yang memanfaatkan faksimili, kemudian ada yang sempat berkembang memiliki homepage dan alamat email, akhirnya moda komunikasi ini akan terus berkembang seperti halnya dengan friendster. (ini adalah salah satu pertanyaan wawancaranya)

Siang tadi saya membaca sebuah buku yang berjudul Blog!: How the Newest Media Revolution is Changing Politics, Business, and Culture yang saya pinjam langsung dari Mas Budi Putra sebagai bahan penulisan karya tulis ilmiah di kampus tentang blog. Salah satu bagian dalam buku tersebut adalah wawancara dari penulis buku ini (David Kline & Dan Burstein) dengan Paul Saffo, seorang pengamat teknologi, technology forecaster, sekaligus futurist. Intinya, dia itu adalah seorang pengamat tren perubahan teknologi, sehingga dia bisa ‘meramalkan’ masa depan teknologi dunia.

Di buku tersebut, Saffo mengatakan bahwa masyarakat dunia sebenarnya telah melewati beberapa fenomena media yang pada masanya adalah sesuatu yang sangat besar dan fenomenal. Dia memberi contoh dengan apa yang disebut boys’ printing. Pada akhir tahun 1900an, ditemukan sebuah mesin pencetak kecil, harganya murah, sehingga setiap orang dapat membelinya dan mencetak apapun yang disukai. Bahkan anak-anak pun dapat membuat “koran” mereka masing-masing dan sejenisnya. Itu adalah fenomena yang sangat besar pada saat itu, dan sekarang menghilang begitu saja. Juga mimeograph machine (mimeo). Juga saat ditemukannya kaset tape, dan masyarakat saling mengirim pesan dalam kaset tape. Beberapa media tersebut akhirnya kemudian ada yang bermetamorfosis menjadi suatu media yang baru dan lebih besar seperti internet, ada juga yang menghilang seluruhnya seperti mimeo dan boys’ printing tadi. (Blog!: How the Newest Media Revolution is Changing Politics, Business, and Culture hal. 337-338)

Setelah membaca wawancara Paul Saffo di buku Blog!, merenungi lebih dalam wawancara BlogFam dengan Roy Suryo, dan menambahkan pendapat Paul Saffo dengan pendapat Roy Suryo, saya menemukan satu benang merah kesamaan pendapat antara kedua orang tersebut:

Akhirnya menjadi jelaslah, bahwa apa yang disebut Roy Suryo dengan blog hanya suatu tren saja adalah bahwa seperti media-media lainnya, blog merupakan hasil perubahan media yang ada sebelumnya, dan tidak akan kekal selamanya dalam bentuk yang seperti saat ini.

Secara pribadi, saya menyetujui pendapat tersebut, karena memang fakta mengatakan demikian bukan? Blog juga sebuah website yang sudah ada sejak dulu. Blog itu awalnya berupa website HTML biasa, lalu ada orang yang punya ide menuliskan jurnal hariannya di websitenya, lalu kemudian ada yang punya ide untuk membuat sebuah standar layanan apa yang disebut dengan blog, menambahkan berbagai fasilitas di dalamnya, lalu banyak orang menemukan hal ini mengasyikkan, dan jadilah apa yang sekarang disebut dengan blog. Benar begitu bukan?

Sayang, di Indonesia, pendapat ini dikeluarkan oleh seseorang yang terlebih dahulu diragukan kepakarannya di bidang IT, sehingga tidak heran banyak blogger yang tidak percaya ucapannya. Sayang juga, beliau menggunakan istilah ‘tren’, bukan spesifik ‘media’. Coba saja dia dulu menggunakan pemilihan kata yang lebih tepat, santun (tidak bermakna negatif bagi para blogger) dan tidak ambigu, misalnya, “blog adalah sebuah media komunikasi yang, seperti media komunikasi lainnya, akan berubah menjadi sesuatu yang lebih baru dan canggih”.

Disayangkan juga, kita, para blogger, rasanya agak terlalu berlebihan dalam mengagung-agungkan blog, dan agak responsif serta emosional dalam menanggapi hal ini. Hal ini menyebabkan kita, para blogger, tidak bisa percaya bahwa blog – sebagai sebuah media komunikasi – adalah persis sama seperti media-media lainnya yang akan punah atau berevolusi menjadi sesuatu yang lebih baru dan canggih.

Jadi maksud trend sesaat itu dikaitkan dengan akan munculnya fenomena baru?

Persis. Akan muncul fenomena baru dimana nanti mode-mode komunikasi ini akan terus berkembang. Seperti halnya dengan blog. Dulu sebelum kenal blog, orang mengenal personal website yang belum menggunakan RSS atau belum mengenal teknologi dimana orang bisa melacak informasi asalnya. Sekarang itu sudah digunakan. Tapi mungkin akan berkembang lagi menjadi bentuk lain, dan itu pasti. (ini pertanyaan lainnya dalam wawancara BlogFam dengan Roy Suryo)

So what are you wiling to make a prediction about regarding blogging?

Okay, two things. First, blogging as we know it today is an intermediate form, and it will evolve into something more. Secondly, as blogging-or citizen-controlled media- become more commonplace and easier to use, I’m reasonably certain that the word blog will disapper. And this is a good thing, because it is the must unephonious term. (Blog!: How the Newest Media Revolution is Changing Politics, Business, and Culture hal. 337-338)

Popularity: 10% [?]

Related posts:

  1. Apakah Roy Suryo Benar? Blog cuma Tren Sesaat?
  2. Menjawab Fakta Blog Hanya Tren Sesaat
  3. Mesin Pencetak Uang itu Bernama Blog – Sebuah Motivasi untuk Mulai NgeBlog
  4. Layanan Blogger di Harian Umum Syndrom atau Trend?
  5. NgeBlog, Hanya Tren Sesaat?
Gagas Roman Indonesia

About the Author

Ngeblog sejak April 2006, lalu bikin Ayo ngeBlog! pada tahun 2007. Alhamdulillah banyak yang bantuin hingga Ayo ngeBlog! bisa jadi seperti sekarang. Juga Co-founder, Owner, dan Vice President Director di Tunas Univindo Mandiri (Univind), perusahaan web konsultan yang berbasis di Depok. Follow twitternya @ilmanakbar. Blog pribadinya ada di ilmanakbar.dagdigdug.com.